Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘tips’

Baru saja saya menyinggung orang.. saya bingung kok jadi tersinggung ? maksud saya kan nggak mau menyinggung…. tapi saya diberitahu teman dia tersinggung oleh saya…..pernahkah anda mengalami hal serupa ?

Awalnya saya tidak habis pikir kok dia tersinggung sih ? Wong hal tersebut benar adanya, dan maksud saya memberi masukan agar dia lebih baik. Kalau tersinggung karena dituduh yg tidak benar itu wajar.. begitu pikiran saya ….

Karena kenyataannya saya menyinggung perasaan org lain walaupun itu bukan tujuan saya, sayapun tidak menyukai hasil tsb. Saya kemudian mencoba mempelajari mengapa orang bisa tersinggung ? Harapannya tentu saja agar saya lebih berhati-hati kedepan dan menjadi pribadi yg lebih baik.

Berikut hasil perenungan saya mengenai ketersinggungan :

1. Menyinggung karena menuduh melakukan sesuatu yg tidak dilakukan / tidak benar.

Ini kesalahan paling parah, tergolong kejahatan. Secara umum ini disebut Fitnah. Secara umum kita tersulut emosinya bila kita di fitnah.  Namun semakin bijak kita.. kita semakin mampu mengelola emosi sekalipun kita difitnah.  Ini pengelolaan emosi tk tinggi. Sudah banyak ulasan mengelola fitnah khususnya dalam kisah kisah religi. jadi ketersinggungan tipe ini anda bisa belajar dari banyak contoh kisah religi.

2.  Menyinggung karena menyampaikan suatu kebenaran namun bersifat kesukaan, umumnya masalah fisik.

Ini juga lumayan parah, setidaknya ini melawan kepatutan atau sopan santun. Secara umum ini disebut penghinaan. Misalnya : kamu jelek, kamu pendek. Walaupun benar secara umum orang tersebut wajahnya jelek atau pendek, namun menyampaikannya secara langsung apalagi di depan umum ini sangat tidak sopan dan yang bersangkutan hampir selalu merasa terhina.

Pengelolaan ketersinggungan ini lebih rendah dibandingkan difitnah, walaupun tidak bisa dikatakan mudah.  Makin dewasa kita makin memahami kekuatan kelemahan kita.. maka makin mudah kita mengelolanya.  Menyadari tidak ada manusia sempurna, setiap manusia punya kelemahan dan kelebihan..kebesaran hati menerimanya.

Ketersinggungan ini juga dipengaruhi oleh cara penyampaian .  Jika cara penyampaiannya kasar maka emosi akan lebih mudah meletup… tapi bila dalam canda mungkin akan berbeda.. dan semua itu bergantung pada  hubungan diantara penghina dan yang dihina.  Hubungannya semakin baik maka emosi lebih mudah dikendalikan.

3. Menyinggung karena menyampaikan kebenaran yg tdk menyangkut  kesukaan atau fisik.

Disini lebih rumit lagi. Biasanya masing-masing baik yg menyampaikan maupun yg menerima sama sama merasa benar dan menyalahkan pihak lain. Konflik tak terduga sering terjadi karena hal ini. Perbedaan prinsip, wawasan, budaya, latar belakang pendidikan, dll merupakan penyebabnya. Banyak sekali contoh untuk hal ini, dan masih memungkinkan untuk dibagi kedalam berbagai kategori ketersinggungan.

Misalnya : Kamu itu sering banget telat ! ; Kamu kurang disiplin ! ; Kamu perlu belajar lebih banyak mengenai (hal tertentu) ! ; Kamu sebaiknya lebih bijaksana (dalam bertindak sesuatu) ! ; Kamu harus lebih melihat kepentingan yang lain dong ! ; Kamu itu salah ! ; Kamu itu sombong ! ; Orang jawa itu kalau bicaranya muter muter, ;  dll

Dari pihak yang menyampaikan,  ini adalah fakta… tidak perlu tersinggung.  Tapi kenyataannya ini bisa dipersepsikan lain oleh yang menerima dan sangat menyinggung. Derajat ketersinggungannya (kontinumnya)  sangat lebar…bergantung taraf kebenaran dan pengelolaan emosi yg dilihat kedua belah pihak. Ketersinggungan bisa sampai :

– Merasa dihina bahkan sampai merasa difitnah

– Bisa juga sebenarnya mengakui kebenarannya tetapi angkuh menerima masukan atau

– Bisa juga berterimakasih..sama sekali tdk tersinggung… karena kebesaran hati menerima masukan.

Oleh karena itu, menyamakan persepsi atau sudut pandang serta membuka diri untuk menerima masukan adalah kunci sukses mengelola ketersinggungan kategori ini.

Sementara untuk yg menyinggung lebih berhati-hati… lihat/perhatikan atau duga kepekaan penerima akan hal yg mau disampaikan.

Masing masing contoh kasus diatas sebenarnya bisa dibahas lebih dalam lagi baik dari sisi pemberi pesan (yg menyinggung) atau penerima pesan (yg tersinggung).

4. Ketersinggungan karena menyampaikan pujian

Ini jelas-jelas menyampaikan hal positif, tapi tetap saja bisa terjadi ketersinggungan. Sekalipun yang menyampaikan bermaksud tulus, bisa saja yg menerima menganggap sindiran. cibiran, atau ledekan.  Selain faktor ketulusan penyampaian, ketersinggungan ini dipengaruhi juga oleh tingkat kepercayaan antara pemberi pesan dan yang menerima pesan.  Hubungan yang makin baik dimana kepercayaan meningkat, maka ketersinggungan akan lebih mudah dihindari.

Nah ada yg mau menyempurnakan teori ini ?

Iklan

Read Full Post »

Para blogger sejatinya adalah seorang jurnalis…. Sebagian besar blogger tentunya akan senang bila tulisannya dihargai oleh penerbit buku.  Berikut pengalaman saya mulai menjadi blogger lalu berhubungan dengan penerbit dan akhirnya menjadi sebuah buku.

Puji Syukur buku pertama saya “Empat Lensa” akan segera diterbitkan oleh Ipb Press.  Ada kepuasan yang berbeda saat tulisan kita lebih dihargai dan diabadikan dalam sebuah buku.  Walaupun ini baru pengalaman pertama saya, saya tetap ingin berbagi dengan rekan-rekan bagaimana cara dan langkah saya hingga mendapat kesempatan bekerjasama dengan penerbit.  Semoga ini bisa memberi inspirasi pada para blogger yang ingin menulis buku…menjadi penulis pemula nggak susah kok….

Kata rekan-rekan dan atasan saya, saya mempunyai bakat menulis (pasti para blogger juga demikian), tapi saya masih bingung….mau nulis apa  ? Munculnya fenomena blog membuat hasrat saya tersalurkan, lalu sayapun bergabung dengan wordpress di awal tahun 1998.

Tak disangka, dalam waktu 2 minggu sejak menulis di wordpress, saya sudah masuk jajaran toplist…. Wah mendapat sambutan hangat nih….., berarti gaya penulisan saya ada yang suka.  Karena blog saya adalah blog pribadi…. Ya bebas…, topiknya macem-macem…..

Dari berbagai macem topik tersebut saya selipkan artikel-artikel potongan ide buku yang akan saya terbitkan (test). Surprise, artikel tersebut juga mendapat sambutan hangat …….wah makin semangat deh buat menulis buku.

Kebetulan dikantor, saya juga mendapat tugas tambahan memimpin sebuah program “Learning Forum”di jajaran top management… mau tidak mau saya baca buku-buku management mutakhir…. Semangat menulis makin menggebu dengan tema yang semakin mengerucut…..  Karena hal inilah, saya meninggalkan komunitas blogger untuk sementara waktu… selain kesibukan kantor, juga larut dalam penyusunan buku….

Setelah naskah buku kira-kira selesai 75 %, saya baru berfikir ini buku mau ditawarkan kemana ? ada nggak yang mau menerbitkan ? saya lalu konsultasi dengan beberapa kenalan jurnalis beneran…. Bagaimana proses penerbitan sebuah buku, hal apa yang harus diperhatikan…… Atas konsultasi ini saya menyempurnakan naskah saya, dan untuk masalah proses penerbitan… penjelasan & sarannya jurnalis beneran itu tergolong umum misalnya :

  1. Buku dibuat dengan tujuan apa ?
  2. Siapa target marketnya ?
  3. Buatlah tulisan dengan karakter yang kuat.
  4. Finalisasi naskah
  5. Menghubungi penerbit untuk menawarkan buku tsb
  6. Presentasi dari segi ide dan pemasaran
  7. Bila oke, mendapat tawaran kontrak kerjasama
  8. Buku terbit, mendapat royalti

Point 1 sampai 3, itu berhubungan dengan kualitas dan kelas penulis. Untuk meyakinkan kualitas, saya mengirim sampel satu dua bab untuk dibaca anak, kerabat dan teman…. Saya tanya pendapat dan masukannya ? apakah menarik ? apakah mengerti ? apa sarannya ? dll.  Dari respon tersebut saya coba perbaiki naskah saya … ini terus dilakukan berkali-kali.

Untuk point 4 dan 5 walau sederhana tapi saya masih agak bingung.  Finalisasi naskah itu sampai seperti apa ? bagaimana menghubungi penerbit ? apa tipe-tipe kontrak kerjasama dengan penerbit ? Lalu kalau sekedar kirim naskah, kapan naskah kita dapat giliran dibaca/dievaluasi oleh staf redaksi ? Pasti puluhan atau ratusan naskah mengalir ke redaksi.  Penerbit seperti apa yang layak diajak kerjasama oleh penulis pemula seperti saya ?

Mencari penerbit sebenarnya tidak sulit.  Kita tinggal buka internet dengan bantuan search engine, nama dan alamat penerbit bisa kita dapatkan.  Tapi saya lakukan berbagai cara, selain lihat di internet, saya juga coba hubungi teman yang mungkin tahu atau pernah berhubungan dengan penerbit. Dari sini saya mendapat sedikit gambaran mengenai beberapa penerbit.

Membuat bahan presentasi untuk menjual ide buku ini, sebuah seni tersendiri.  Kita harus dapat menyampaikan apa bedanya buku kita dengan buku lain. Apa manfaatnya bagi pembaca, siapa yang akan membeli, kenapa mereka bakal membeli, dll.

Walaupun penulis pemula, saya pede aja untuk menawarkan ke beberapa penerbit lalu bisa membandingkan mana tawaran kerjasama yang paling cocok untuk saya. Kemudian supaya naskah saya tidak terkirim sia-sia, saya juga mencari tahu orang yang tepat yang perlu dihubungi di penerbit yang kita tuju.

Naskah 90% selesai, contact person penerbit sudah didapat…. maka saya mulai menghubungi penerbit.  Ada penerbit kondang yang saya hubungi hanya by email (dari search engine) tetapi responnya sangat hangat.  Ada yang melalui jasa teman mendapatkan nomor penting staf redaksi responnya juga baik sekali, ada yang langsung bertemu dan responnya sangat baik, dan tentunya ada juga yang dihubungi tetapi tidak merespon.

Namun menurut saya hasil yang didapat cukup “Surprise !”, perkenalan dan ide buku saya disambut baik oleh orang-orang penting di 3 penerbit kondang. Langkah berikutnya adalah mengirim naskah lengkap, berdoa, dan persiapan negosiasi kerjasama.  Kalau masih ingin mengikuti …..tunggu dibagian kedua ya….

Read Full Post »

Dalam tulisan terdahulu saya menjelaskan bahwa masalah miss-komunikasi yang kadang kita anggap sepele, dapat menimbulkan bencana yang tak terduga…. Karena kebanyakan dari kita hanya melihat masalah di permukaan saja. Memang bukanlah hal mudah untuk mendapatkan realita kebenaran.

Ada banyak hal yang menyebabkan terjadinya fenomena gunung es dalam komunikasi . Namun dalam kesempatan ini saya akan menjelaskan 2 faktor yang menurut saya sangat penting dan cukup besar peranannya. Kedua faktor tersebut adalah :

1. Pemimpin tidak peka …

Banyak dari kita merasa bahwa kita mampu memimpin, karena kita sudah memberi arahan dan instruksi yang jelas, menyampaikan target yang menantang, memimpin rapat dengan efektif, bahkan menawarkan bantuan jika ada kesulitan.

Tapi terkadang kita tidak menyadari bahwa komando kita, target yang ditetapkan, perkataan kita, sikap kita, telah menimbulkan emosi negatif seperti keresahan, kekecewaan di kalangan karyawan. Jalan pintasnya kita menyalahkan karyawan ….

Jangan menganggap sepele atas timbulnya emosi negatif di lingkungan kerja. Bila kita anggap keresahan dan kekecewaan tsb masalah sepele, maka sebenarnya yang terjadi adalah kita membangun tembok pemisah komunikasi yang kokoh.

Bila hal ini dibiarkan, kebenaran atau realita akan semakin jauh terlihat. Bahayanya kalau kepekaan kita kurang ….. yang terlihat adem-ayem, yang manis-manis, yang baik-baik…..tapi …..selanjutnya …. Tiba-tiba terjadi bencana yang tak terduga ….

Oleh karena itu kita perlu berhati-hati dalam gaya kepemimpinan kita. Gaya kepemimpinan komando dan penentu kecepatan walau dalam saat-saat tertentu efektif, namun pada dasarnya gaya ini lebih banyak memberi tekanan, keresahan, frustrasi dan suasana negatif lainnya. Sedangkan gaya pembimbing, demokratis, afiliatif dan juga visioner lebih banyak memberikan suasana positif.

Setiap gaya ini boleh digunakan termasuk yang bernuansa negatif, hanya saja harus digunakan pada saat dan kondisi yang tepat, bila tidak tepat …..walaupun sifat gaya tersebut bernuansa positif …. hasilnya belum tentu positif, demikian juga sebaliknya. Bila karena situasi tertentu kita perlu menggunakan gaya yang bedampak emosi negatif … maka kita harus bisa mengimbanginya dengan hal-hal yang bersifat positif.

Mohon maaf saya tidak akan menyampaikan penjelasan lebih detail mengenai masing-masing gaya tsb disini (ciri-ciri, dampak atau kekuatan/kelemahannya, dan saat pengunaannya). Bila tertarik dengan detail gaya kepemimpinan ini, silahkan membaca buku “The New Leaders” karya Daniel Goleman.

Disamping gaya kepemimpinan, masih ada beberapa hal yang dapat menghalangi kita untuk melihat realita kebenaran atau kenyataan. Misalnya, “mekanisme perlindungan ego”. Tanpa kita sadari kita sering melindungi diri kita secara emosional. Agar lebih nyaman dan mudah menghadapi hidup, kita menerima sebagian informasi saja, sedangkan informasi penting lainnya yang membuat kita tidak nyaman tanpa kita sadari kita buang atau sisihkan.

Mekanisme perlindungan ego ini akan membangun persepsi yang dipengaruhi baik oleh nilai-nilai /prinsip hidup kita, latar belakang pendidikan dan lingkungan kita, harapan kita, dll.   Perbedaan-perbedaan tersebut juga merupakan tabir dalam komunikasi.

Kalau anda baca buku best seller terbaru “Black Swan” anda mungkin akan mengernyitkan dahi …. Menurut Nassim Nicholas Taleb, …..Pengetahuan, teori, sejarah atau pengalaman kita sebenarnya mempersempit pandangan kita. Para pakar analis …. Menggiring kita berfokus pada cara berfikir tertentu …… padahal banyak kejadian tak terduga karena hal-hal yang luput dari perhatian kita….. Wah yang terakhir ini lebih berat ….., lupakan dulu saja… hehehe…coba kita simak faktor kedua berikut …

2. Sistem yang dibangun menakutkan.

Selain gaya, karakter dan kemampuan leader…. Harap diperhatikan pula bagaimana anda membangun system yang mempengaruhi perilaku karyawan anda. Bila suasana menakutkan terbangun, maka keterbukaan komunikasi yang diharapkan tidak akan bisa terjadi. Tidak peduli seberapa baik anda bersikap.

Sistem yang menakutkan menurut Dr. Edward Deming, umumnya adalah sistem “Reward & punishment” termasuk di dalamnya sistem “Performance appraisal”. Kita harus berhati-hati bila ingin menerapkan sistem tsb. Sistem ini seperti ranjau …. Bisa efektif, tapi bisa sangat bahaya bagi perusahaan. Bahkan, Dr Edward Deming & Pieter Scoltes lebih menyarankan meninggalkan sistem tersebut .

Disatu sisi kita melihat reward & punishment sangat efektif untuk memotivasi dan mendisiplinkan karyawan. Tapi pernahkah anda sungguh-sungguh mencoba pendekatan lain untuk memotivasi karyawan ? Cara motivasi tanpa “stick & carrot” ini memang lebih sulit ….. membutuhkan leadership skill yang jauh lebih tinggi ….. tetapi sebenarnya sangat-sangat efektif.Selain Munculnya motivasi internal karyawan yang biasanya “luar biasa”, keterbukaan akan terbangun.

Demikian juga dengan sistem performance appraisal. Sehebat apapun metoda performance appraisal, saat karyawan akan mengambil keputusan, berkomunikasi…. Karyawan akan berfikir apa dampaknya pada performance/kinerja saya ? Adalah sangat normal bila masing-masing karyawan lebih mengutamakan kinerjanya (nasibnya).  Sehingga perilaku, keputusan yang diambil akan dihubungkan dengan penilaian kinerja dirinya. Ini juga dapat menjadi tabir dalam komunikasi.

Selanjutnya bagaimana cara mengatasinya untuk menemukan kebenaran ? Dengan melihat penyebabnya seperti yang saya uraikan di atas, maka tentu saja cara mengatasinya adalah :

1. Pemimpin meningkatkan kecerdasan emosi

Gunakan kesadaran diri dan empati untuk memantau tindakan/perilaku diri dan memperhatkan bagaimana orang lain bereaksi. Terbuka terhadap kritik, baik terhadap ide maupun terhadap gaya kepemimpinannya. Aktif mencari umpan balik dan menghargai suara sumbang.

2. Hilangkan Ketakutan !

Selain sikap yang menakutkan harus dibuang jauh-jauh, sistem yang dibangun juga harus mendorong keterbukaan. Ubahlah paradigma bahwa pada umumnya karyawan itu malas, tdk dapat dipercaya, menjadi pada umumnya karyawan ingin bekerja sebaik-baiknya, dapat dipercaya, dll. Lebih toleran terhadap kesalahan, lebih banyak membimbing dari pada menghakimi.

Nah… masalah komunikasi memang bukan masalah sepele…….Bila anda merasa strategy anda sudah cukup bahkan sangat baik, orang-orang anda juga sangat berkompeten, pasar sangat menjanjikan …. Tapi mengapa selalu banyak masalah …… ?

Cobalah introspeksi adakah kita kurang memamahi realita yang ada ? Adakah hambatan-hambatan komunikasi yang terjadi ?

Semoga tulisan ini sedikit memberi inspirasi untuk anda.

Selamat memperbaiki komunikasi ………

Read Full Post »

Sering kita dengar kalimat “Ah.. ini hanya masalah komunikasi” saat kita menghadapi masalah, baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan sehari-hari.  Tapi sadarkah kita bahwa…. masalah komunikasi bukanlah masalah sepele, tidak patut dipandang sebagai “hanya”.

Dampak miss-komunikasi rasanya tidaklah sulit diidentifikasi (oleh karena itu tulisan ini tidak akan membahas hal ini) kita semua pasti pernah mengalaminya dan menyadari akibatnya.  Tetapi memahami masalah komunikasi & memperbaikinya … memang bukanlah pekerjaan mudah dan ringan.

Fenomena Gunung Es

Kita kadang terjebak pada fakta yang terlihat kasat mata…. “hubungan kita baik-baik kok, kita kompak, tidak ada masalah….” , Ya memang kita tidak sampai saling memukul, saling menghina, saling membenci …. pendek kata hubungan terlihat harmonis…bahkan bisa saja masih banyak canda tawa, masih ada acara kebersamaan

Tapi kita sering merasa heran, mengapa masih sering terjadi kesalah pahaman, mengapa kita tidak bisa bekerjasama dengan baik, mengapa kerjasama kita tidak menghasilkan sinergy, mengapa proyek tidak tuntas, mengapa masalah selalu muncul ? mengapa masalah yang sama terus berulang ? dan lain-lain…. Jika pertanyaan-pertanyaan ini muncul … hati-hati ! Kita berhadapan dengan gunung es komunikasi !

Yang terlihat memang tampak baik, tapi yang terlihat itu sama seperti gunung es…. dimana dibawahnya (yang tidak terlihat) … bisa jadi lebih banyak masalahnya.  Oleh karena itu jangan berpuas diri dengan yang tampak saja.  Jangan menganggap komunikasi pasti baik, dengan melihat hubungan yang tampak harmonis, canda tawa, saling menghormati, dll.

Team yang banyak terbentuk, notulen meeting, kegiatan gathering atau bahkan outbound tidak dapat menggambarkan hubungan yang sebenarnya.  ……Hubungan ini memang terjadi, tetapi bisa saja  sekedar basa-basi, sopan santun, tata krama, peraturan, etika, atau sekedar menjalankan tugas …. kurang tulus.  Kita perlu lihat lebih dalam lagi, apa yang terjadi dibawah permukaan…. bagaimana hubungan yang sebenarnya ada.

Saat kita mengerjakan sesuatu yang membutuhkan koordinasi, barulah kita bisa melihat efektifitas komunikasi yang sebenarnya.  Biasanya dalam sebuah proyek yang perlu melibatkan berbagai pihak, terlihat bahwa koordinasi yang didasari komunikasi sangat sulit di atur, diimplementasikan dan diarahkan.  Masing-masing merasa benar dengan cara berfikirnya, tidak ada kesepakatan atas analisis & sumber masalah, metoda, prioritas, dan lain-lain.  Hasilnya, saat merencanakan sesuatu dari kesepakatan meeting yang dipaksakan ….. implementasinya banyak masalah.

Kalau yang sudah parah, ketidakefektifan komunikasi ini makin tidak terlihat lagi karena makin ke dasar samudra.  Dalam kondisi ini, banyak orang memilih diam.  Ya diam….. diam memang tampak harmonis …, bahkan sebagian beranggapan  “diam adalah emas”.

Tetapi sebenarnya “diam karena efek kebuntuan komunikasi “, hanya akan menimbulkan bencana.  Bencana hanya menunggu waktu.  Masalah ditutup-tutupi, hanya kebaikan yang disampaikan.  Bahkan lebih parah lagi, keadaan dikesankan menjadi baik walaupun kenyataannya tidak baik.

Terkadang, saat datang bencana, kita pun masih belum menyadari bahwa ada masalah mendasar dalam hubungan dan komunikasi, kita sibuk dengan meredamkan api bencana, tanpa melihat akar masalahnya yang lebih dalam.  Biasanya dalam suasana ini banyak muncul rumor – gosip yang semakin memperarah efektivitas komunikasi.

Selanjutnya, sebagai akibatnya …akan terlihat tingkat komitment yang semakin luntur… kalau ada masalah … bukan mencari penyelesaian, tapi sibuk mencari korban untuk disalahkan.  Semua menyelamatkan diri dan muka masing masing. deadline diabaikan …… masalah dijadikan alasan …. . turn over karyawan meningkat, yang di dalam terus mencari oppotunity yang lebih baik….Ditingkat ini bisa dikatakan penyakit komunikasi sudah sangat kronis.

Kita baru menyadari dan menyesali setelah bencana besar benar-benar terjadi dan kondisi sudah sedemikian parahnya.

Atasan yang kurang peka, belum tentu dapat melihat fenomena ini, karena ini tidak terangkat kepermukaan.  Yang terlihat, tetap keharmonisan, berita baik dan argumentasi yang masuk akal. Namun perlukah kita menunggu hingga bencana besar benar-benar terjadi dan tinggal penyesalan yang tersisa ?

apa penyebab dan bagaimana mengatasinya ……(bersambung)
terinspirasi dari karya-karya Eileen Rachman

Read Full Post »

Enak aja sih dia bilang saya pelit, opportunist, galak, egois, kejam …. huh ! Saya nggak seburuk itu tau ! Ngaca dulu dong …… , baru boleh ngomentarin orang  !

Ya, sering kita tidak bisa menerima kritikan atau pernyataan orang lain tentang kekurangan kita. Terkadang kita tidak menyadari bahwa kita dalam kekurangan….

Bukannya kita bercermin dan mengoreksi diri tetapi malah balik sibuk mengomentari orang tsb.

Kritik sebenarnya adalah anugrah dari Tuhan.  Seharusnya kita bersyukur diberi ladang untuk memperbaiki diri …

Jangan merisaukan siapa yang menyampaikan,

Jangan merisaukan caranya menyampaikan…

tapi fokuslah pada apa yang disampaikan. 

Kita umumnya merasa sudah sabar, tapi bukankah kesabaran itu tidak berbatas ?
Kita merasa cukup banyak memberi ? tapi apakah kita sudah sedermawan rasullulloh ?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus bisa dikembangkan oleh kita agar kita merasa masih ada ruang untuk memperbaiki ….

Semoga tulisan singkat ini dapat mengingatkan kembali, …..mampu menggugah kesombongan kita ….. untuk lebih terbuka pada kritikan sehingga kita terus dapat memperbaiki diri …..

Read Full Post »

Pernahkah anda tahu bagaimana Microsoft bertanya pada pelamar saat wawancara ? berikut contoh pertanyaan yang diberikan :

1.  Berapa jumlah station bahan bakar di Amerika Serikat ?

2.  Mengapa tutup lubang got bundar ?

Amazon. com juga melakukan hal yang mirip, pertanyaan yang diberikan pada kandidat karyawannya antara lain :

1.  Berapa jumlah jendela yang terdapat di kota San Fransisco ?

2.  Berapa banyak pohon yang ada di Central Park New York City ?

Baik Microsoft maupun Amazon.com tidak tertarik pada kebenaran jawaban.  Yang mereka lihat adalah proses berfikir para kandidat.   Ini hanyalah contoh bagaimana perusahaan-perusahaan inovatif tsb mengutamakan kecerdasan dalam perekrutan karyawan.  Ini bukan berarti semua perusahaan harus mengikuti microsoft dan amazon.com, tergantung penekanannya seleksi kandidat dimana.

Namun artikel saya ini tidak akan membahas masalah rekrutment, tetapi akan lebih membahas (lebih tepatnya mengkritik) kurikulum pendidikan kita dalam upaya mencerdaskan anak didik. 

Seperti dijelaskan di atas, kecerdasan dapat diukur dari proses berfikir dari masalah yang dihadapi.  Proses berfikir ini  juga yang diajarkan/ditekankan pada kurikulum international cambrige.  Saat test, anak-anak tidak hanya diperhatikan jawaban akhir…. tapi proses berfikir (jalannya menuju jawaban akhir) sangat diperhatikan dan diberi nilai yang terkadang lebih besar dari jawaban akhirnya.

Kurikulum cambrige memang jauh berbeda dengan kurikulum nasional. Bukan saja berbeda dalam pengujian/test seperti saya uraikan di atas, tapi juga dalam sylabus yang lebih menekankan pemahaman ilmu untuk kehidupan kita dan penekanan pada proses analisa berfikir.

Sedangkan kurikulum nasional lebih bersifat hafalan dan pengenalan rumus.  tapi bagaimana rumus tsb dibuat, untuk apa rumus ini bermanfaat dalam ilmu pengetahuan … hanya dibahas sedikit.  Belum lagi tipe ujian nasional yang multiple choice, sehingga tidak terlihat kemampuan berfikir analisis anak-anak, karena hanya dilihat akhirnya.

Celakanya….. anak sekolah international saat ini mendapatkan beban berganda dengan kurikulum nasional dan internationalnya…. karena perguruan tinggi di Indonesia tidak mau mengakui sertifikat cambrige …..(kok bisa ya ??)

Untuk anda yang ingin mendaftarkan anaknya ke sekolah international… bersiaplah selain biaya yang tidak murah… anak anda juga akan mendapatkan beban yang sangat sangat berat ….. tidak sedikit murid yang menyerah ditengah jalan …. dan memilih sekolah di luar negeri atau melepas kurikulum internationalnya dan berfokus pada UN.

Read Full Post »

Sering kita buntu mau menulis apa lagi ya ? berikut saya sharingkan suatu tips meningkatkan kreativitas termasuk kreativitas menulis dengan metoda SCAMPER yang dibuat oleh “Michael Michalko Author  of thinkertoys” .  Berikut tehniknya :

1.  Modify — modifikasi sesuatu

          Modifikasi = mengubah bagian dari suatu subyek agar lebih menarik dan lebih baik. Bisa arti, tujuan, kegunaan, proses, aturan, warna, gerakan, suara, bau, bentuk, fungsi, dll.

Contoh : saat semua menulis kematian soeharto, saya buat kematian soeharto dari sudut lain : Soeharto meninggal dalam alunan musik Jazz

2.  Magnify — menguatkan/membesarkan sesuatu

          Ide baru muncul dengan menambahkan, melebarkan, atau melebih-lebihkan subyeknya.

Contoh : artikel sederhana tentang rekening bank emosi (kualitas hubungan antar manusia) tapi coba dikuatkan dengan dengan tokoh SBY & Mega : SBY-JK selalu menjawab kritik Mega

3.  Put to other uses — memberikan fungsi yang lain 

  • Melihat suatu subyek bebas dari persepsi yang terbentuk selama ini, seolah2 pertama kali kita melihat, pasti kita dapat melihat hal yang lain dari subyek tsb.
  • Cth: yang ini saya rada sulit kasih contoh artikel WP.  Tapi ada contoh umum mengenai Cake coklat bantat yang tadinya dianggap sebagai produk gagal, ternyata dapat menjadi sebuah produk yang sangat digemari yaitu BROWNIES COKLAT.

4.  Eliminate — menghilangkan sesuatu          Ide2 bisa muncul saat mengurangi sesuatu. Misal dengan bertanya: Dapatkah masalah disederhanakan/ dibatasi/ dipecah2 menjadi yang lebih kecil/ diringankan?; Mana fungsi/atribut yang sebetulnya tidak penting ?

          Cth: banyak artikel mengenai UN, saya menghilangkan soal-soal UN yang sudah banyak menjadi hanya :  Tips menghadapi UN (sebuah pengalaman mencapai NEM tertinggi..)

5.  Reverse — membalikkan sesuatu

          Membalikkan perspektif untuk membuka cara pandang baru dan dapat melihat hal-hal yang lain. Misal dengan bertanya: Apa kebalikan dari hal ini? Apa yang akan terjadi?

          Cth: Orang berlomba-lomba ingin masuk toplist, tapi pak Budi rahardjo menulis Setelah Populer, lantas ?

6.  Rearrange-menata ulang          

 Bagaimana ? sudah ada ide sekarang ? selamat menulis dan berkreasi ……

Read Full Post »

Older Posts »