Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Januari, 2008

Pada suatu hari saudara saya (orang jawa) berselisih dengan seorang supir angkot yang berasal dari daerah tapanuli (batak)…. masalahnya mungkin sudah diduga yaitu, senggol menyenggol kendaraan di tengah kemacetan.  Karena tidak ada polisi dan kedua belah pihak tetap pada pendiriannya, mereka sepakat menuju kantor polisi terdekat.

Karena si supir berbicara meledak-ledak, maka ditegurlah sang supir oleh pak polisi agar berbicara lebih santun dan tenang. Namanya pak supir yang sedang naik pitam  …  sekonyong-konyong ia berbicara :

“Saya orang Batak …. saya tidak bisa bicara halus seperti dia (sambil menunjuk ke arah saudara saya).  Kami orang batak kalau bicara lantang dan terus terang tetapi jujur, tidak seperti orang Jawa bicara tidak jujur, berputar-putar dan berbelit-belit”.

Itulah manusia …. kebaikan dan keburukan itu sangat relatif, tergantung nilai-nilai yang kita anut, budaya, adat-istiadat, kebiasaan, latar belakang pendidikan, pengharapan dll.

Untuk orang batak yang baik adalah bicara langsung, terbuka dan terus terang karena disitu nilai kejujuran dan keterbukaan dijunjung.  Namun bagi orang jawa, hal itu tidak sopan, kalau berbicara sebaiknya harus santun.

Kebaikan buat saudara saya (sopan santun, bicara halus dengan tutur kata yang baik) dianggap keburukan bagi si supir karena dianggap berputar-putar, berbelit-belit dan tidak jujur.  Begitu juga sebaliknya.

Dari contoh kejadian sederhana di atas, pesan yang ingin saya sampaikan juga sederhana, yaitu sepatutnya kita :  Jangan selalu merasa diri kita paling benar !

Kebenaran buat sebagian orang, bisa saja kesalahan buat sebagian orang lain.  Sekali lagi penilaian “kebenaran” sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianut, budaya, adat-istiadat, pendidikan, pengetahuan,  pengharapan, dll.

Kebenaran merupakan sebuah persepsi. Persepsi bukanlah fakta. Jika diibaratkan Persepsi adalah sebuah peta dan fakta adalah wilayah (contoh Jabotabek) yang sebenarnya, maka sebaik apapun peta itu dibuat menyerupai wilayah(jabotabek)-nya, peta tetaplah peta … tidak akan pernah menggantikan wilayahnya.  Jadi persepsi tentang “kebenaran” tidak akan pernah sesuai dengan kebenaran yang hakiki, karena kebenaran yang hakiki hanyalah milik Tuhan maha pencipta.

Dengan memahami prinsip ini, maka pikiran kita akan :

– lebih terbuka menerima sudut pandang orang lain

– lebih dapat menerima kritikan

– lebih sabar menghadapi perbedaan pendapat

– lebih efektif dan produktif dalam berdiskusi

– lebih bisa berfikir inovatif dan kreatif

sehingga kita lebih bisa maju ke depan dan terus meningkatkan diri.  Selamat belajar dalam segala kehidupan.

Iklan

Read Full Post »

Saya mencoba merenungi, mengapa pak SBY seolah memuja soeharto dan langsung menyebutnya sebagai putra terbaik bangsa, pahlawan bangsa.  Mengapa ? Apa maksudnya ?

Apakah kesalahan soeharto layak dilupakan ?  Mengapa SBY melihat hanya dari kebaikannya ? dan dengan mudahnya memaafkan kesalahannya ?

Kalau kita ingat konsep Rekening Bank Emosi dari S. Covey dalam buku larisnya “7 habits”……. maka kita tidak perlu heran dengan sikap SBY pada Soeharto.  Artinya Rekening Bank Emosi antara kedua tokoh ini sangat tinggi.

Rekening bank emosi adalah istilah yang dibuat oleh Covey (Penulis buku laris 7 habits), dalam menjelaskan hubungan antar manusia.  Bila Soeharto banyak berbuat baik pada SBY maka Soeharto mendepositokan emosinya (hubungan baik) pada  rekening emosi SBY, begitu juga mungkin sebaliknya.  Sebagai contoh, hal-hal yang menambah rekening bank emosi misalnya  : menolong, menunjukkan kasih sayang, membantu, menepati janji, dll yang membuat kita makin merasa percaya dan dekat.

Sebaliknya bila SBY membohongi, mengingkari janji, menyakiti…. maka SBY melakukan penarikan rekening emosi, begitu juga sebaliknya Soeharto pada SBY. Bila rekening emosi menipis…. yang terjadi tidak saling percaya, dan artinya hubungan merenggang.

Nah ciri kalau Rekening Bank Emosi tinggi, maka hubungan sangat baik.  Bila hubungan sangat baik…. maka coba bayangkan kalau kita punya sahabat atau kerabat yang dekat maka bila yang bersangkutan melakukan kesalahan kita akan segera memaklumi, akan mudah memaafkan, kesalahan pun kadang dipandang sebagai kebenaran.

Sebaliknya bila kita punya teman atau kerabat yang hubungannya tidak baik (rekening bank emosi tipis), maka andai kita mau berbuat baik pun akan dicugai, kebenaran pun bisa dipandang sebagai kesalahan.

Untuk menjadi manusia yang efektif salah satunya adalah kita membina hubungan dan memang harus meningkatkan rekening bank emosi bila kita ingin berhasil dalam bermasyarakat. Sebagai pemimpin, hubungan yang baik dengan banyak orang merupakan asset besar….. disini SBY berhak membina hubungan dengan siapapun sedekat mungkin termasuk dengan Soeharto

Tapi saat kita melihat suatu masalah, saat kita menilai seseorang…..yang harus lebih ditekankan adalah melihat dan mendengar secara EMPATI.  Sekali lagi EMPATI dan ini berbeda dengan SIMPATI !  Empati artinya kita melihat / mendengar dengan hati dan pikiran terbuka, berusaha seobyektif mungkin, tapi tidak terlibat secara emosi.  Ini yang membedakan simpati dan empati. 

Kalau kita mendengarkan keluhan teman kita yang mengadukan dia telah disakiti kekasihnya sambil menangis…. maka kalau kita empati , kita bisa mendengar melihat masalah secara lebih obyektif… dan tetap rekan kita merasa dihargai, kitapun bisa lebih fokus pada penyelesaian masalah…. mungkin saja ada yang harus diperbaiki oleh teman kita.

Sementara kalau simpati, bisa jadi teman kita tenang merasa dihargai…. bahkan mungkin kita terlibat dalam tangisan dan memaki-maki kekasihnya tersebut…. tetapi penyelesaian masalah sangat kecil pencapaiannya dan menjadi tidak efektif.

Nah, dari uraian saya di atas…. jangan heran lagi dengan  sikap SBY pada Soeharto tersebut.  Hal itu menandakan SBY punya hubungan sangat-sangat erat dengan mantan orang nomor 1 tersebut… karena Rekening Bank Emosinya sangat tinggi.  Artinya hubungannya sudah sangat-sangat dekat, sehingga semua kesalahan dianggap kecil dan layak dimaafkan sedangkan kebaikannya dipandang besar dan patut dihargai…..

Apakah seorang pemimpin pantas terlibat emosi yang sangat dalam sehingga tidak bisa melihat secara lebih obyektif ?  Ataukah seharusnya lebih empati (bukan simpati)… artinya kita melihat secara lebih proporsional pada tempatnya tanpa melibatkan emosi kita ?  Haruskah kita kubur kesalahan soeharto ? atau kita kita harus belajar dari kesalahan dan kebaikannya ?

Anda semua bisa menilai SBY dengan persepsi masing-masing……..

Read Full Post »

Awalnya saya ragu-ragu untuk membagi informasi ini, karena khawatir akibatnya bisa heboh.  Tetapi karena informasi ini cukup penting dan tulisan ini didasari oleh niat baik penulis, maka … jadinya lillahi ta’ala saja.   

Kemarin saya berbincang dengan rekan saya, menurut keterangannya data dari dokter di RS cukup terkenal di jakarta (anda bisa hubungi saya kalau penasaran) menyampaikan bahwa angka penyebaran HIV AIDS di Indonesia akhir-akhir ini meningkat kembali.  Yang sangat mengkhawatirkan, pasien yang masuk rs tersebut dan didiagnosis terkena HIV AIDS akhir-akhir ini kebanyakan adalah ibu rumah tangga biasa.  Pertanyaannya mengapa bisa menyebar di kalangan ibu rumah tangga biasa ?

Menurut keterangannya, angka penyebaran karena jarum suntik, narkoba dan prostitusi di Indonesia sudah cukup stabil tapi kok tiba-tiba angka penyebaran naik kembali dan ternyata banyak terjadi pada ibu rumah tangga.  Sementara dari keterangan ibu rumah tangga yang mengidap HIV AIDS tersebut, rata-rata mereka rajin berkunjung ke salon untuk pedicure, medicure dan facial. Apakah memang ada hubungannya yang cukup kuat tentang hal ini ?

Mungkin para dokter dan pemerhati masalah kesehatan di Indonesia segera bisa mengkonfirmasikan hal ini.  Bila memang ada potensi hubungan tersebut, sebaiknya pemerintah harus segera melakukan tindakan agar salon-salon kecantikan membangun sistem keamanan kesehatan bagi konsumennya, seperti menerapkan sistem hygiene dan sanitasi atau HACCP dan sejenisnya.

Sekali lagi, tulisan ini bukan menakut-nakuti dan semoga tidak membuat bisnis salon ambruk…. tetapi membuat bisnis salon semakin meningkatkan kualitasnya sehingga tidak menjadi faktor penyebar HIV AIDS seperti kabar dari RS tsb.

Untuk itu jangan bereaksi berlebihan, tapi mohon hati-hati kepada para ibu yang kerap sering mengunjungi salon agar lebih memperhatikan aspek hygiene dan sanitasi alat-alat yang digunakan.  Tetaplah ke salon langganan……. karena hubungan salon dan HIV AIDS belum dibuktikan secara ilmiah, data-data juga belum jelas dan lengkap….. jadikan informasi ini untuk feedback bagi salon kesayangan ibu-ibu.

Semoga tulisan ini lebih banyak manfaatnya daripada mudharatnya…

Read Full Post »

Maaf, mungkin sudah mulai bosan dengan pemberitaan soeharto….. tapi izinkan saya membagi pikiran dalam renungan saya ditengah berbagai pemberitaan tokoh sekaliber soeharto. Tulisan ini bukan untuk menyudutkan, menghitung dosanya  atau menghapus jasanya…. tapi adakah pembelajaran untuk kita tentang soeharto ? tentu banyak dan banyak sekali…. salah satunya mungkin hal ini….

Dalam kesuksesannya memimpin Indonesia, bagaimana keluarganya ? Mbak tutut, mas sigit, mas bambang, mbak titiek, tommy dan mamiek ? ditengah gelimang harta dan kedudukan yang mereka raih….. kehidupan keluarganya jauh-jauh dari ideal….

Apakah ini sebuah azab dari Tuhan ? atau hanya sebuah cobaan karena mereka manusia terpilih ? Sudah cukupkah penderitaan yang dialami keluarganya ? atau akan teruskah mereka menjadi bulan-bulanan media setelah ini ? kita tunggu kelanjutan drama panggung politik ala indonesia …..

yang penting kita bisa memetik pelajaran dari mereka … insya Allah

Read Full Post »

Saat liburan awal tahun yang baru lalu saya mengalami pengalaman cukup menarik dengan polisi di daerah Bandung.  Apakah saya atau polisi yang keterlaluan … silahkan anda menilainya ….. (saya dan polisi sama-sama manusia hehehe)

Ceritanya begini :

Kami sekeluarga (istri dan 2 anak saya) berlibur ke kota Bandung.  Saya mengendarai mobil, sementara anak perempuan saya yang berumur 13 thn duduk di kursi depan di samping saya, sedangkan istri dan anak saya yang pertama berumur 15 th duduk di belakang.

Sepanjang perjalanan kami bersuka ria dan semua menggunakan sabuk pengaman.  Sesaat setelah membayar tol,  anak saya yang laki-laki bertukar tempat dengan anak perempuan saya….”gantian dong” begitu katanya…..

Setelah berpindah tempat duduk ….. (dan jalanan setelah tol pasteur,  anda tahu kan padat sekali ……) tiba-tiba polisi menghadang dan meminta saya untuk berhenti ke pinggir.  Tentu kami semua kaget …. maklum, belum pernah kami ditilang ..! wah kena nih …..apes deh… begitu pikiran saya …..

  (lebih…)

Read Full Post »

Soeharto sudah tiada…… banyak duka banyak kecewa banyak emosi terlibat dalam kejadian ini…..Dapat dipastikan banyak sekali tulisan, komentar, obrolan membahas dan menghitung dosa dan jasa pak harto…….

Tulisan ini mengajak kita sejenak berfikir dengan kerangka yang lebih arif (ini niat penulis, semoga demikian juga hasilnya)….. sebaiknya memang anda membaca tulisan saya terdahulu mengenai sikap mental ketiga systems thinking….

Sikap mental kedua dan ketiga dari systems thinking menyebutkan bahwa kita tidak bisa menyalahkan satu pihak bila suatu “kejadian buruk” terjadi.  Dalam kasus Soeharto, maka arifkah kita menyalahkan Soeharto sendiri atas krisis multi dimensi yang berkepanjangan di Indonesia ?

Betul Soeharto sebagai leader saat itu bertanggung jawab atas krisis yang terjadi hingga saat akhir dia memimpin. Soeharto seharusnya bisa menghindari krisis seburuk ini bila tidak melakukan kesalahan-kesalahannya …… apakah perlu dihukum ? biarlah orang hukum yang memikirkan dan memutuskannya.

Menghitung dosa dan jasa pak harto apakah tidak sopan ? apakah tidak tahu berterimakasih ? Disini harus lebih berhati-hati….. sebagai manusia yang terus ingin meningkatkan diri……,

(lebih…)

Read Full Post »

Musik jazz standard mengalun lembut namun cukup asyik untuk kepala dan pundak bergoyang-goyang seiring hentakan bass, drum, melody, piano yang harmonis….. di saat yang bersamaan suharto tengah berjuang melewati sakaratul maut di sebuah rumah sakit yang dimana dia dirawat lebih dari 20 hari.

Tepat pukul 11.30 soeharto menghembuskan nafas terakhirnya ditunggui oleh keluarga dekatnya ……. berakhir sudah penderitaan presiden yang telah memerintah negara ini selama 32 tahun…….

Ya, saat itu kami sekeluarga sedang berada di Pondok Indah Mall, menunggu pesanan berbagai hidangan istimewa di tempat jajaran cafe-cafe diiringi musik jazz yang dipimpin oleh musikus jazz senior tanah air.

Sekita pukul 13.30, saat kami menikmati alunan musik dan saya pun hanyut dalam hentakan musik jazz standard yang sangat asyik…. tiba-tiba di monitor televisi LCD yang terpampang di depan mata…… Muncul berita menghentak “Bapak Soeharto Wafat – pkl 13.10 wib”….

Karena suara televisi tsb tenggelam dalam alunan musik jazz dan saya juga masih enjoy menggoyang-goyangkan kepala dan pundak saya mengikuti irama nan asyik tsb, anak saya seketika menghentikan gerakan saya dengan memberitahu berita yang selalu ditunggu-tunggu masyarakat tersebut (maaf maksudnya : berita kondisi pak harto selalu mendapat perhatian masyarakat indonesia).

Seketika saya menghentikan gerakan saya dan beberapa orang juga langsung melihat berita tersebut di televisi layar lebar merk ternama.  Innalillahi Wa inna Illaihi roji’un….. selamat jalan pak harto semoga diterima disisiNya…..

Perbincangan langsung berubah menjadi pembahasan jasa dan dosa pak harto serta bagaimana nasib keluarga yang ditinggalkan, bahkan anak terkecil saya bertanya besok libur nggak Ya ?

Namun dalam sekejap kemudian,  suasana Pondok Indah Mall sudah kembali seperti semula, tetap hiruk pikuk, orang lalu lalang, ketawa-ketiwi dan musik jazz tetap mengalun dengan lagu-lagu you are the sunshine in my life, unforgetable …..

Begitulah suasana Pondok Indah Mall di detik-detik meninggalnya pak harto presiden kedua, terlama dan paling fenomenal yang pernah kita miliki.  Salahkan suasana ini ? sopankah bangsa ini ?

Bagaimana kelanjutan kisah politik bangsa ini setelah the God Father nya pergi ? apakah kita bisa belajar dari sejarah kelam bangsa ini ? atau langsung melupakan kesalahan-kesalahannya dan hanya mengingat jasa-jasanya ?

Apakah orang yang mengingat kesalahannya dianggap tidak manusiawi atau tidak punya rasa terimakasih pada “pahlawan pembangunan” ? Akankah orang yang mengingat (ingin belajar) dari kesalahannya dianggap arogan/sok pintar dan tidak sopan pada sosok sebesar soeharto ?

Sebaliknya apakah orang yang mengampuni kesalahannya dan mengharapkan orang lain mengenang jasanya dan melupakan kesalahannya (karena pak harto juga manusia) dianggap sebagai kroninya atau orang bodoh ?

Anda termasuk yang mana ?

Read Full Post »

Older Posts »