Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘Kelas international’

Menjelang musim ujian dan kenaikan kelas, kembali banyak yang mencari informasi mengenai sekolah, tidak terkecuali Kelas International. Saya sudah beberapa kali menulis masalah ini silahkan anda membaca tulisan saya terdahulu, seperti :

  1. SMUN Favorit Kelas International
  2. Reportnya mengurus Kelas International Favorit
  3. Beban Berganda Kelas International
  4. Ujian Cambrige Kelas International

Terimakasih kepada semua yang telah membaca, memberi dukungan dan juga merasakan manfaat dari tulisan saya. Ada beberapa pertanyaan kepada saya bagaimana perkembangannya saat ini ?

Berikut saya sampaikan, perkembangan penting pengelolaan sekolah dan juga prestasi anak saya (yang tentu saja masih sangat membanggakan).

  1. Berulang kali pertemuan/rapat, surat dilayangkan, notulen untuk perbaikan system belajar mengajar ….. respon pihak sekolah adalah selalu sama :”terimakasih atas masukan yang sangat berarti, beruntung ada orang tua yang sangat memperhatikan masalah ini, dslb…” Namun tindakan perbaikan jika diibaratkan dengan point maka, dari 100 point hanya sekitar 30 point yang dilakukan. Kendalanya, birokrasi… koordinasi !
  2. Sedangkan prestasi anak saya …. Alhamdulillah,  Anak saya satu-satunya yang menyapu bersih nilai A untuk ujian Cambrige O level (Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, dan Bhs Inggris), bahkan mendapatkan A* (baca A star) untuk Matematika, Fisika dan Kimia.

Masalah yang sekarang kami hadapi adalah persiapan ujian A level. Mengingat Keputusan Diknas dan universitas di Indonesia yang mengharuskan ada Ujian nasional, maka kami (orang tua dan sebagian anak-anak berprestasi) menginginkan mengambil ujian A level di bulan Mei-Juni ini, agar tahun depan sudah focus pada ujian nasional.

Keuntungan lain bila mengambil ujian A level di Mei-Jun, maka anak-anak sudah bisa mendaftar ke perguruan tinggi di luar negeri untuk mengambil langsung S1 saat ini (tapi tidak bisa di Indonesia). Karena sudah A level maka lama pendidikan di S1 pun hanya 3 tahun, bahkan bisa lebih cepat.

Namun sangat disayangkan, sekolah masih belum bisa memfasilitasi keinginan tersebut karena terbentur sarana lab, staf pengajar dan program sekolah yang memilih AS level di Mei-Jun dan A level di Okt-Nov.

Gemes ???? sangat gemes…. Kita masih berjuang mencari jalan keluar untuk hal ini. Oleh karena itu sekali lagi, bila anda ingin menyekolahkan anak anda di kelas international bersiaplah :

  1. Dana pendidikan yang tidak sedikit
  2. Perhatian dan keterlibatan orang tua untuk mendorong pihak sekolah meningkatkan mutu proses belajar mengajarnya
  3. Masih harus siap-siap mengeluarkan dana tambahan untuk bimbingan belajar persiapan ujian Cambrige.
  4. Mempersiapkan fisik & mental anak-anak mendapat beban berganda cambrige dan UN

Semoga seri tulisan ini memberi manfaat bagi orang tua murid, anak-anak yang berminat ke sekolah internasional, dan juga pemerhati pendidikan lainnya. Saya sangat-sangat berharap pihak Diknas pun membaca dan yang lebih penting melakukan action /follow up untuk memperbaiki program international ini.

Iklan

Read Full Post »

Kelas international di SMA Negeri mengikutkan anak-anak menempuh ujian O-level dan A-level.  Bila lulus dengan O-level (umumnya pertengahan kelas XI) maka siswa bisa  melanjutkan ke A level.  Sertifikat O-level sebenarnya sudah bisa dimanfaatkan untuk melanjutkan program ke S1 tetapi melalui jalur diploma sekitar 1,5-2 tahun, dan masih memungkinkan melanjutkan ke jenjang S1 sekitar 2-3 tahun lagi.

Yang mengherankan…. A level diluar negeri bisa ditempuh dalam waktu 8 bulan saja karena sudah fokus pada jurusan di universitas atau college yang dituju.  Sementara kalau di Indonesia, anak-anak harus menempuhnya sekitar 1,5-2 tahun… beban ini menjadi berat karena siswa selain 5 mata ajaran khusus kelas international (Bhs Inggris, matematik, fisika, kimia, biologi) juga masih harus menempuh mata ajaran nasional yang jumlahnya seabrek……

Kelas international di Indonesiapun dituntut untuk ikut juga ujian nasional …. sebuah beban berganda … !

Padahal sertifikat cambrige (0-level dan A-level) diakui oleh dunia…. sehingga siswa bisa dengan mudah melanjutkan ke jenjang diploma atau S1.  Tetapi jika siswa kelas international SMA negeri karena sesuatu hal ingin melanjutkan ke PTN, maka sertifikat cambrige tsb tidak berlaku, siswa dituntut untuk ikut Ujian nasional …..  Apakah mutu PTN lebih hebat dari sekolah-sekolah ternama di luar negeri ?

berikut komentar salah satu murid berprestasi di kelas international ….

reccarebellion // Februari 22, 2008 at 4:30 pm (edit)

a ya setuju. Keanehan lain d Indonesia, sertifikat yg diakui internasional tdk mau (belum lah) diakui. Seperti ujian dari Indonesia itu tdk setaraf dgn A-level saja.. Jangan2 mereka mengganggap ujian Indo lebih bermutu?
Kalau menurut saya lebih bagus tes dari cambridge karena soal-soalnya bkn hny teori semata seperti di Indonesia, namun mengajak berpikir untuk aplikasi.. =)

Sepertinya Pemerintah / Dikmenti masih bingung dan belum siap dengan program kelas international ini….. anak-anak dan tentu saja orangtuanya juga menjadi korban ketidaksiapan konsep kelas international ini …….

Read Full Post »

Benar-benar pusing jadi pengurus WOTK Kelas International, bayangkan aja :

1. Para orang tuanya sangat berpendidikan, berkedudukan tinggi, sehingga penuh tuntutan, sangat kritis dan juga penuh ambisi atas keberhasilan anak-anaknya…..  namun dilain pihak dalam kesibukannya sulit sekali dikumpulkan apalagi dikoordinasikan…. Karena kebanyakan mereka pimpinan di kantornya masing-masing, mereka maunya mengarahkan bukan diarahkan… wueleh..wueleh…..bayangkan bagaimana saya yang diberi tugas memimpin para orang tua tsb..gemes…asyik… seru …. dan tentu tambah pengalaman…dan wawasan…

2.  Anak-anaknya juga aktif, kritis (kadang sedikit liar).  Need of achievement mereka juga tinggi, karena mereka anak-anak berprestasi (ranking utama) di SMPnya dengan NEM yang tinggi (sekitar 27-29,67) !

3.  Guru dan manajemen sekolah tergagap-gagap dengan kritikan dan tekanan dari murid dan apalagi orang tuanya…..Alhamdulillah…. komunikasi dengan sekolah saat ini mulai membaik, sekolah mulai terlihat usahanya memperbaiki dan memenuhi tuntutan orang tua dan muridnya….walau ya…..masih sebatas usaha….hasilnya ? masih harus bersabar ….

4.  Program Dua sertifikat (Cambrige dan Nasional) sangat membebani anak-anak ….. Disini saya agak heran…. (mungkin ini juga Pe eRnya  Dikmenti), Sertifikat Cambrige adalah sertifikat yang diakui internasional, tetapi di Indonesia malah belum bisa diakui… hal ini memaksa Kelas International di Indonesia harus menyiapkan keduanya (ujian Cambrige dan ujian nasional yang silabusnya berbeda).

Saat ini kami tengah mempersiapkan anak-anak menempuh ujian IGCSE yang pertama…. perdebatan dari ketiga pihak (anak-orang tua-guru) tentang kesiapan, metoda pengayaan materi, try out dan berbagai persiapan lainnya … membuat pusing pengurus WOTK ….

yah….setelah berbagai usaha …. saya berdoa semoga semua berjalan lancar dan anak-anak mencapai prestasi yang diharapkan untuk bekal hidupnya di masa datang …..

Read Full Post »

Kami pengurus orang tua murid sedang menyiapkan materi untuk bertemu kepala sekolah , banyak hal yang akan disampaikan …. tiba-tiba sepulang sekolah anak saya mengeluh ….

Sekolah ama OSIS nya parah nih …. masak kita disuruh latihan upacara sebanyak ini (hampir setiap hari selama bulan februari, red) !” gerutu anak saya sambil menyerahkan surat pemberitahuan dan permohonan izin yang ditandatangani oleh OSIS dan Wakasek bid Kesiswaan.

Esok harinya beberapa orang tua juga menghubungi saya mengeluhkan hal yang sama.  Keluhan ini muncul karena mereka pada bulan Mei ini akan menghadapi Ujian Cambrige dan kami (orang tua-anak-sekolah) sepakat perlunya pendalaman materi dan try out yang berujung pada bertambahnya waktu sekolah anak setiap hari hingga hari sabtu.

Disamping itu, orang tua juga sepakat anak-anak mendapatkan bimbingan tes tambahan dari lembaga di luar sekolah agar mendapatkan hasil yang optimal.  Waktu untuk bimbingan tes ini saja kami masih terus berdiskusi agar anak-anak tidak lelah belajar dan masih bisa menikmati masa remajanya.

“Baiklah bu, karena agenda pertemuan cukup banyak, nanti ibu saja yang menyampaikan keluhan ini kepada kepala sekolah saat pertemuan besok” begitu kata saya kepada salah satu ibu pengurus yang juga mengeluhkan latihan upacara ini.  Saya sendiri akan tetap fokus pada agenda yang saya rasa lebih penting.

Saat pertemuan dengan kepsek dan teamnya, bersyukur suasana sangat kondusif ….. Pihak sekolah berjanji memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada dan juga akan membangun sistem komunikasi yang lebih baik antara sekolah, orang tua dan anak.

Saat ibu pengurus menyampaikan keluhannya mengenai latihan upacara yang setiap hari…. KepSek mengatakan : “maaf bu ini memang sudah tradisi sekolah, kalau kelas anak bapak/ibu tidak diikutsertakan nanti terkesan eksklusif”.

Kemudian sayapun membantu menjelaskan keberatan para orang tua dengan inti sbb :

1.  Walaupun itu tradisi, mohon ditinjau tujuannya…. sesuai atau tidak. respon sekolah: tujuannya meningkatkan kedisiplinan.

2. Kalau tujuan kedisiplinan, apakah hanya dengan cara ini ? yakinkah setelah acara ini kedisiplinan anak-anak meningkat ?  adakah cara yang lebih sesuai dengan kondisi yang dihadapi saat ini ? 

3.  Mohon kita lihat masalah lebih proporsional.  Saat ini mana yang menjadi prioritas dalam keterbatasan waktu anak-anak ? minimal skedulnya disesuaikan…

4.  Kenapa takut ekslusif kalau nyatanya ini memang kelas khusus ? dan tradisi ini memang dibuat sebelum ada kelas khusus ini ….

5.  Mohon kegiatan ini jangan jadi perpeloncoan terselubung ….

Mendengar tekanan dari orang tua seperti itu…. kepala sekolahpun meresponnya dengan bijak : “…baiklah bapak/ibu, penjelasan bapak/ibu sangat rasional dan kami memakluminya, nanti kami coba bicarakan dengan bid kesiswaan dan osis”.

Beberapa hari kemudian….. sepulang saya dari kantor , anak saya  menyampaikan …

“Ayah, gara-gara ayah sama pengurus nih … kita nggak boleh ikut latihan upacara …. tapi temen-temen semua menolak…. kita semua tetep ingin ikut !”

“lho, gimana sih ? waktu itu kan kamu sama temen-temen yang nggak mau ikut ?” tanya saya terheran-heran.

“iya, tapi waktu itu kan akhirnya sempet latihan, trus anak-anak kayaknya pada seneng, jadi kita tetep ingin ikut….” jawabnya enteng saja.

Onde mande…….. itulah kelakuan anak-anak SMUN Favorit Kelas International

Read Full Post »

Kemarin saya kembali mengadakan pertemuan dengan WOTK kelas international dan alhamdulillah dihadiri oleh Wakil Kepala Sekolah.  Apakah karena saya sudah menulis artikel yang cukup pedas di blog ini ( baca SMUN international  bag 1 dan bag 2) ?. Wallahualam.  Namun kini  Ada secercah harapan bahwa pihak sekolah ingin memperbaiki kekurangan yang sudah-sudah. Namun hal ini masih dibutuhkan waktu untuk pembuktian dalam pelaksanaannya.

Kekurangan yang lalu seperti : (lebih…)

Read Full Post »

Tadi pagi kami mengadakan pertemuan pengurus WOTK (Wali orang tua kelas) kelas X (dimana anak saya duduk) dan kelas XI (kakak kelasnya).  Sungguh-sungguh sangat prihatin mendengarkan pengalaman orang tua murid kelas di atas anak saya tersebut.

Namun secara prinsip permasalahan tetap sama yaitu : tidak adanya transparansi anggaran dan penggunaan dana pendidikan, belum sesuainya fasilitas dan sarana belajar mengajar seperti yang dijanjikan semula, kualitas guru dan program, serta komunikasi dengan manajemen sekolah.

Ada beberapa hal yang sangat tidak masuk di akal tentang pengelolaan kelas international ini, contohnya :

1.  Beberapa Guru belum memahami sepenuhnya sylabus dari cambrige.  Akibatnya point yang ditekankan dalam pengajaran masih seperti program regular, padahal buku pegangan dan hal yang akan diuji benar-benar mengacu pada sylabus yang sudah berstandard global.

(lebih…)

Read Full Post »

Saya adalah orang tua murid salah satu siswa Kelas international di SMUN favorit di jakarta.  Semakin hari saya kok semakin merasa was was bahkan merasa tertipu dengan program ini.

Bayangkan saja saya sudah invest tidak kurang dari Rp.26 jt (ini hanya biaya 1 tahun ajaran), tetapi guru yang fasih berbahasa inggris hanya 1 orang dan ybs juga tidak fokus pada kegiatan belajar mengajar karena juga aktivis partai.  Kepala sekolah sudah setengah tahun lebih tidak mau berdialog…

Padahal banyak sekali yang ingin kita komunikasikan, seperti perkembangan anak-anak kita, persiapan menghadapi ujian dari cambrige, kejelasan dan transparasi pengelolaan dana pendidikan, fasilitas dan sarana belajar mengajar, kualitas guru, dlsbnya…..

Saya ingat sekali saat setelah kelulusan SMP, dimana alhamdulillah anak saya memperoleh nilai NEM tertinggi di bekasi 29,67.  Saya habis-habisan dibujuk untuk masuk kelas international oleh pihak sekolah favorit DKI tersebut, bahkan saya sampai tidak menanggapi tawaran beasiswa dari sekolah internasional swasta di Kalimalang.  Dan ternyata pengalaman di bujuk rayu ini dialami oleh hampir seluruh orang tua murid yang nota bene anaknya berprestasi dan orang tuanya berduit.

Sementara itu yang bikin saya pusing juga, saya terpilih menjadi ketua wali orang tua murid, dimana para orang tua murid yang relatif dari kalangan berada dan berpendidikan tinggi penuh dengan tuntutan agar investasi mereka terhadap pendidikan anak-anaknya bisa berjalan optimal.

Apakah ada pembaca yang bisa sharing mengenai dunia pendidikan menengah ? mohon saya mendapat inputannya.  terimakasih

Read Full Post »