Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘pemimpin’

“Kamu harus profesional dong…. urusan kerjaan ya kerjaan jangan campur adukkan dengan masalah keluarga !” kalimat ini sering kita dengar dan kesannya tepat.  Tapi coba kita pikirkan kembali …. berapa banyak orang yang tidak terpengaruh moodnya bila sedang ada masalah keluarga ?

Memimpin dengan hati ! disini perbedaannya.  Seorang pemimpin yang ingin membuat karyawannya mau bekerja all out, loyal perlu merebut hati karyawan.  Perhatian pada hal-hal kecil yang menyentuh hatinya, termasuk perhatian pada masalah keluarganya sangat berdampak besar pada produktivitas dan loyalitas.

Oleh karena itu jangan lagi menganggap masalah keluarga karyawan bukan masalah perusahaan….. jika diperlukan dan karyawan membutuhkan bantuan … bantulah dengan sepenuh hati ……dan bersiaplah anda mendapatkan return yang tidak terduga …..

Read Full Post »

Saya mencoba merenungi, mengapa pak SBY seolah memuja soeharto dan langsung menyebutnya sebagai putra terbaik bangsa, pahlawan bangsa.  Mengapa ? Apa maksudnya ?

Apakah kesalahan soeharto layak dilupakan ?  Mengapa SBY melihat hanya dari kebaikannya ? dan dengan mudahnya memaafkan kesalahannya ?

Kalau kita ingat konsep Rekening Bank Emosi dari S. Covey dalam buku larisnya “7 habits”……. maka kita tidak perlu heran dengan sikap SBY pada Soeharto.  Artinya Rekening Bank Emosi antara kedua tokoh ini sangat tinggi.

Rekening bank emosi adalah istilah yang dibuat oleh Covey (Penulis buku laris 7 habits), dalam menjelaskan hubungan antar manusia.  Bila Soeharto banyak berbuat baik pada SBY maka Soeharto mendepositokan emosinya (hubungan baik) pada  rekening emosi SBY, begitu juga mungkin sebaliknya.  Sebagai contoh, hal-hal yang menambah rekening bank emosi misalnya  : menolong, menunjukkan kasih sayang, membantu, menepati janji, dll yang membuat kita makin merasa percaya dan dekat.

Sebaliknya bila SBY membohongi, mengingkari janji, menyakiti…. maka SBY melakukan penarikan rekening emosi, begitu juga sebaliknya Soeharto pada SBY. Bila rekening emosi menipis…. yang terjadi tidak saling percaya, dan artinya hubungan merenggang.

Nah ciri kalau Rekening Bank Emosi tinggi, maka hubungan sangat baik.  Bila hubungan sangat baik…. maka coba bayangkan kalau kita punya sahabat atau kerabat yang dekat maka bila yang bersangkutan melakukan kesalahan kita akan segera memaklumi, akan mudah memaafkan, kesalahan pun kadang dipandang sebagai kebenaran.

Sebaliknya bila kita punya teman atau kerabat yang hubungannya tidak baik (rekening bank emosi tipis), maka andai kita mau berbuat baik pun akan dicugai, kebenaran pun bisa dipandang sebagai kesalahan.

Untuk menjadi manusia yang efektif salah satunya adalah kita membina hubungan dan memang harus meningkatkan rekening bank emosi bila kita ingin berhasil dalam bermasyarakat. Sebagai pemimpin, hubungan yang baik dengan banyak orang merupakan asset besar….. disini SBY berhak membina hubungan dengan siapapun sedekat mungkin termasuk dengan Soeharto

Tapi saat kita melihat suatu masalah, saat kita menilai seseorang…..yang harus lebih ditekankan adalah melihat dan mendengar secara EMPATI.  Sekali lagi EMPATI dan ini berbeda dengan SIMPATI !  Empati artinya kita melihat / mendengar dengan hati dan pikiran terbuka, berusaha seobyektif mungkin, tapi tidak terlibat secara emosi.  Ini yang membedakan simpati dan empati. 

Kalau kita mendengarkan keluhan teman kita yang mengadukan dia telah disakiti kekasihnya sambil menangis…. maka kalau kita empati , kita bisa mendengar melihat masalah secara lebih obyektif… dan tetap rekan kita merasa dihargai, kitapun bisa lebih fokus pada penyelesaian masalah…. mungkin saja ada yang harus diperbaiki oleh teman kita.

Sementara kalau simpati, bisa jadi teman kita tenang merasa dihargai…. bahkan mungkin kita terlibat dalam tangisan dan memaki-maki kekasihnya tersebut…. tetapi penyelesaian masalah sangat kecil pencapaiannya dan menjadi tidak efektif.

Nah, dari uraian saya di atas…. jangan heran lagi dengan  sikap SBY pada Soeharto tersebut.  Hal itu menandakan SBY punya hubungan sangat-sangat erat dengan mantan orang nomor 1 tersebut… karena Rekening Bank Emosinya sangat tinggi.  Artinya hubungannya sudah sangat-sangat dekat, sehingga semua kesalahan dianggap kecil dan layak dimaafkan sedangkan kebaikannya dipandang besar dan patut dihargai…..

Apakah seorang pemimpin pantas terlibat emosi yang sangat dalam sehingga tidak bisa melihat secara lebih obyektif ?  Ataukah seharusnya lebih empati (bukan simpati)… artinya kita melihat secara lebih proporsional pada tempatnya tanpa melibatkan emosi kita ?  Haruskah kita kubur kesalahan soeharto ? atau kita kita harus belajar dari kesalahan dan kebaikannya ?

Anda semua bisa menilai SBY dengan persepsi masing-masing……..

Read Full Post »

Apakah anda mengerti bahwa saat yang tepat untuk mendelegasikan wewenang pada bawahan bukanlah saat sang bawahan punya kemampuan sama atau lebih dari atasan. Bukan … ! Jangan  menunggu hal itu …tapi harus sebelum itu ! Mengapa begitu ? untuk memahami hal ini, anda perlu memahami teori pembelajaran dalam tulisan saya terdahulu.  Dengan memahami bahwa belajar adalah mengambil pengalaman (keputusan) dari teori /asumsi/hipotesis yang ada, maka si pengambil keputusan akan mendapatkan kesempatan belajar.

Bila kita menunggu bawahan kita sama kemampuannya dengan kita … maka hal itu tidak akan pernah terjadi ! Ya sekali lagi …… tidak akan pernah terjadi ! karena kalau atasan tidak mendelegasikan wewenang pada bawahannya, maka sang atasannya yang terus belajar dan makin tinggi kemampuannya.  sehingga sampai kapanpun bawahan tidak mungkin mengejar ataupun menyamai kemampuan atasan.

Namun, …..hati-hati ! Kalau bawahan belum sama kemampuannya, maka ada kemungkinan bawahan salah dalam mengambil keputusan ! ya benar ! Disitulah resiko yang harus ditanggung atasan.  Besarnya gap (jarak) kemampuan atasan dan bawahan  yang kita tolerir adalah sama dengan berapa besar resiko yang berani kita ambil.

Pendelegasian (empowerment) selain mengandung unsur kepercayaan juga memang mengandung resiko.  Pemimpin yang tidak berani mengambil resiko, tidak mungkin melakukan pendelegasian !  Oleh karena itu jangan bicara mendelegasikan kalau anda tidak mau tanggung resiko.

untuk lebih jelasnya lihat gambar  terlampir ( klik :Gambar Konsep pendelegasian ).

Ingat bila anda tidak mendelegasikan, anda akan terus terjebak dalam kegiatan tehnis operasional dan pada akhirnya tidak melakukan fungsi yang sebenarnya sebagai seorang pemimpin seperti mengarahkan (visi, strategy), menyelaraskan sistem, mengembangkan karyawan serta membuang hambatan-hambatan non tehnis.

Bila tidak mendelegasikan, artinya anda tidak memberdayakan anggota organisasi seoptimal mungkin.  Bayangkan bila anda sendirian (karena tidak mendelegasikan) melawan kompetitor/pesaing yang menggunakan kemampuan seluruh karyawannya (misal 10 atau 100 orang) ? Kecil kemungkinan anda akan memenangkan persaingan !

Siap Mendelegasikan ? Harus !

Good bye pemimpin otoriter …. Welcome Empowerment

Read Full Post »

Saya tersenyum membaca buku “Inventory Accuracy karya  David J. Piasecki”, khususnya tentang kelemahan manusia dibandingkan komputer, karena saya sering mengalaminya. Menurut David, manusia sebagai mahkluk organik sering tidak konsisten,  contohnya :

   Terkadang lupa sesuatu dan tiba-tiba teringat kembali & sebaliknya 

   Suka lupa pasword lama dan baru

    Berfikir tentang kata yang spesifik, tapi yang keluar dari mulut (berkata) yang lain.

    Kita sering melakukan sesuatu / memproses informasi tanpa sadar. Makin berulang kegiatan kita, makin kita melakukan tanpa sadar. Contohnya, saat mengendarai mobil,secara otomatis kita mengendarai dari kantor pulang ke rumah. Kalau hari itu kita punya rencana lain (misal mampir ke apotik), apotiknya sering terlewat karena kita mengemudikan kendaraan secara otomatis setiap hari dari kantor langsung pulang ….pikiran kita kemana … tangan dan kaki otomatis mengantar kita pulang….. 

–   dan beberapa contoh lainnya

Sedangkan komputer (saya yakin anda juga sudah tahu), sangat konsisten karena punya data base, tabel, metoda terstruktur untuk menyimpan/menginterpretasikan/mengambil data, dengan input yang sama akan menghasilkan output yang sama karena hubungan spesifik sudah ditentukan terlebih dahulu.

Pemahaman kelemahan dan kelebihan manusia tentunya akan sangat berguna buat kita sebagai seorang pemimpin khususnya dalam membangun sistem, kebijakan atau apapun yang berhubungan dengan manusia.

Ada daftar/contoh tambahan dari anda tentang kelemahan manusia dibandingkan komputer ?

Read Full Post »

Masih ingat artikel saya terdahulu ? Ma maaf saya selingkuh ;  Kebaikan Batak = Keburukan jawaMengadili Soeharto secara lebih arif, bisakah kita ?  ……dalam artikel-artikel tersebut kita membahas adanya perbedaan persepsi di antara manusia.

Bila kita ingin menjadi seorang pemimpin yang berhasil, maka kita perlu memahami manusia dan individu.  Berbicara tentang manusia, maka kita berbicara tentang sifat/hal/karakter umum  sedangkan berbicara mengenai individu maka kita berbicara tentang manusia sebagai pribadi yang unik satu sama lain. (lebih…)

Read Full Post »

Saya mencoba merenungi, mengapa pak SBY seolah memuja soeharto dan langsung menyebutnya sebagai putra terbaik bangsa, pahlawan bangsa.  Mengapa ? Apa maksudnya ?

Apakah kesalahan soeharto layak dilupakan ?  Mengapa SBY melihat hanya dari kebaikannya ? dan dengan mudahnya memaafkan kesalahannya ?

Kalau kita ingat konsep Rekening Bank Emosi dari S. Covey dalam buku larisnya “7 habits”……. maka kita tidak perlu heran dengan sikap SBY pada Soeharto.  Artinya Rekening Bank Emosi antara kedua tokoh ini sangat tinggi.

Rekening bank emosi adalah istilah yang dibuat oleh Covey (Penulis buku laris 7 habits), dalam menjelaskan hubungan antar manusia.  Bila Soeharto banyak berbuat baik pada SBY maka Soeharto mendepositokan emosinya (hubungan baik) pada  rekening emosi SBY, begitu juga mungkin sebaliknya.  Sebagai contoh, hal-hal yang menambah rekening bank emosi misalnya  : menolong, menunjukkan kasih sayang, membantu, menepati janji, dll yang membuat kita makin merasa percaya dan dekat.

Sebaliknya bila SBY membohongi, mengingkari janji, menyakiti…. maka SBY melakukan penarikan rekening emosi, begitu juga sebaliknya Soeharto pada SBY. Bila rekening emosi menipis…. yang terjadi tidak saling percaya, dan artinya hubungan merenggang.

Nah ciri kalau Rekening Bank Emosi tinggi, maka hubungan sangat baik.  Bila hubungan sangat baik…. maka coba bayangkan kalau kita punya sahabat atau kerabat yang dekat maka bila yang bersangkutan melakukan kesalahan kita akan segera memaklumi, akan mudah memaafkan, kesalahan pun kadang dipandang sebagai kebenaran.

Sebaliknya bila kita punya teman atau kerabat yang hubungannya tidak baik (rekening bank emosi tipis), maka andai kita mau berbuat baik pun akan dicugai, kebenaran pun bisa dipandang sebagai kesalahan.

Untuk menjadi manusia yang efektif salah satunya adalah kita membina hubungan dan memang harus meningkatkan rekening bank emosi bila kita ingin berhasil dalam bermasyarakat. Sebagai pemimpin, hubungan yang baik dengan banyak orang merupakan asset besar….. disini SBY berhak membina hubungan dengan siapapun sedekat mungkin termasuk dengan Soeharto

Tapi saat kita melihat suatu masalah, saat kita menilai seseorang…..yang harus lebih ditekankan adalah melihat dan mendengar secara EMPATI.  Sekali lagi EMPATI dan ini berbeda dengan SIMPATI !  Empati artinya kita melihat / mendengar dengan hati dan pikiran terbuka, berusaha seobyektif mungkin, tapi tidak terlibat secara emosi.  Ini yang membedakan simpati dan empati. 

Kalau kita mendengarkan keluhan teman kita yang mengadukan dia telah disakiti kekasihnya sambil menangis…. maka kalau kita empati , kita bisa mendengar melihat masalah secara lebih obyektif… dan tetap rekan kita merasa dihargai, kitapun bisa lebih fokus pada penyelesaian masalah…. mungkin saja ada yang harus diperbaiki oleh teman kita.

Sementara kalau simpati, bisa jadi teman kita tenang merasa dihargai…. bahkan mungkin kita terlibat dalam tangisan dan memaki-maki kekasihnya tersebut…. tetapi penyelesaian masalah sangat kecil pencapaiannya dan menjadi tidak efektif.

Nah, dari uraian saya di atas…. jangan heran lagi dengan  sikap SBY pada Soeharto tersebut.  Hal itu menandakan SBY punya hubungan sangat-sangat erat dengan mantan orang nomor 1 tersebut… karena Rekening Bank Emosinya sangat tinggi.  Artinya hubungannya sudah sangat-sangat dekat, sehingga semua kesalahan dianggap kecil dan layak dimaafkan sedangkan kebaikannya dipandang besar dan patut dihargai…..

Apakah seorang pemimpin pantas terlibat emosi yang sangat dalam sehingga tidak bisa melihat secara lebih obyektif ?  Ataukah seharusnya lebih empati (bukan simpati)… artinya kita melihat secara lebih proporsional pada tempatnya tanpa melibatkan emosi kita ?  Haruskah kita kubur kesalahan soeharto ? atau kita kita harus belajar dari kesalahan dan kebaikannya ?

Anda semua bisa menilai SBY dengan persepsi masing-masing……..

Read Full Post »