Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Februari, 2010

Buruk, Jelek, bodoh…. adalah sebutan yang dibuat manusia. Namun semua ciptaan Tuhan sebenarnya adalah baik.  Ini perlu disadari oleh kita…. Kadang sebutan buruk menyebabkan tenggelamnya sebuah potensi hasil kreasi sang maha pencipta.

Jangan mengubur potensi yang ada pada setiap Individu ! Setiap Individu memang unik, dan keunikan itu bisa menjadi potensi maha dahsyat bila kita memahaminya, bila kita mensyukuri karunia Illahi.

Kuncinya ada pada kita masing-masing, bagaimana kita menghargai keunikan itu, lalu berilah kesempatan untuk berkembang. Malcolm Gladwell dalam bukunya ‘outlier‘ membahas apa yang menjadi kunci orang-orang yang luar biasa

Outlier dalam bahasa statistik umumnya diartikan data pencilan, Gladwell membahas bagaimana orang-orang outlier (orang-orang yang sukses luar biasa) bisa mendapatkan kesuksesannya.

Pohon Ek yang tumbuh tinggi dan kuat di hutan, bukan karena tumbuh dari biji yang paling kuat ! Tapi karena mendapat sinar matahari penuh (tdk ada pohon yg menghalangi), tanahnya subur, tidak ada kelinci yang mengunyah kulit kayunya saat masih kecil, tidak ada tukang kayu yang menebangnya.

Penelitian terhadap bintang hockey  di Amerika, menunjukkan fenomena menarik terhadap tanggal  kelahiran dan sistem pendaftaran.   Maksudnya, ternyata sang bintang  hockey menjadi hebat karena  sejak kecil telah mendapat keuntungan kesempatan.  Ternyata sang bintang  rata-rata lahir di bulan januari-maret, sementara waktu pendaftaran setiap januari.

Karena keuntungan tanggal kelahiran tersebut, ia mempunyai tubuh yang lebih besar, mempunyai kesempatan latihan lebih banyak saat evaluasi, lalu menjadi ‘terkesan lebih berbakat’.  Karena dianggap lebih berbakat,  ia diberi porsi latihan lebih banyak lagi dan lebih baik (masuk team khusus), dan selanjutnya keahliannya jauh meninggalkan teman-teman lainnya.

Demikian juga dengan pemain biola, menjadi hebat karena ia mempunyai lebih banyak waktu latihan dibanding yang lain. Para pemusik hebat ternyata mempunyai jam latihan yang sangat intens. Penelitian menunjukkan,  tidak ada pemusik alami (hebat tanpa latihan), ataupun pemusik yang telah bekerja keras tetapi tidak menjadi ahli.

The beatles menjadi hebat, karena ia punya waktu berlatih setiap hari di sebuah pub di Jerman dengan berbagai jenis musik selama lebih dari 25000 jam.  Demikian juga Bill Gates, menjadi ahli komputer, karena sejak sekolah ia punya kesempatan jauh lebih banyak bermain komputer dibandingkan anak-anak pada jamannya.

Apa arti semua ini ? Artinya,

  1. Jangan begitu mudah memfonis setiap orang tidak punya potensi. Jangan terlalu mudah mengelompokkan orang, apalagi mencap tidak punya potensi
  2. Semua orang punya potensi yang dapat dikembangkan, hanya kadang kita saja yang belum melihat potensinya.
  3. Sedangkan bagi diri sendiri, ayo gali potensi… kuncinya raih kesempatan dan rajin berlatih. Jangan mudah menyerah …..

Ada lagi yang ingin menambahkan ?

NB : postingan ini postingan ulang, karena postingan lalu agak error bila disearch.

Iklan

Read Full Post »

Buruk, Jelek, bodoh…. adalah sebutan yang dibuat manusia. Namun semua ciptaan Tuhan sebenarnya adalah baik.  Ini perlu disadari oleh kita…. Kadang sebutan buruk menyebabkan tenggelamnya sebuah potensi hasil kreasi sang maha pencipta.

Jangan mengubur potensi yang ada pada setiap Individu ! Setiap Individu memang unik, dan keunikan itu bisa menjadi potensi maha dahsyat bila kita memahaminya, bila kita mensyukuri karunia Illahi.

Kuncinya ada pada kita masing-masing, bagaimana kita menghargai keunikan itu, lalu berilah kesempatan untuk berkembang. Malcolm Gladwell dalam bukunya ‘outlier‘ membahas apa yang menjadi kunci orang-orang yang luar biasa

Outlier dalam bahasa statistik umumnya diartikan data pencilan, Gladwell membahas bagaimana orang-orang outlier (orang-orang yang sukses luar biasa) bisa mendapatkan kesuksesannya.

Pohon Ek yang tumbuh tinggi dan kuat di hutan, bukan karena tumbuh dari biji yang paling kuat ! Tapi karena mendapat sinar matahari penuh (tdk ada pohon yg menghalangi), tanahnya subur, tidak ada kelinci yang mengunyah kulit kayunya saat masih kecil, tidak ada tukang kayu yang menebangnya.

Penelitian terhadap bintang hockey  di Amerika, menunjukkan fenomena menarik terhadap tanggal  kelahiran dan sistem pendaftaran.   Maksudnya, ternyata sang bintang  hockey menjadi hebat karena  sejak kecil telah mendapat keuntungan kesempatan.  Ternyata sang bintang  rata-rata lahir di bulan januari-maret, sementara waktu pendaftaran setiap januari.

Karena keuntungan tanggal kelahiran tersebut, ia mempunyai tubuh yang lebih besar, mempunyai kesempatan latihan lebih banyak saat evaluasi, lalu menjadi ‘terkesan lebih berbakat’.  Karena dianggap lebih berbakat,  ia diberi porsi latihan lebih banyak lagi dan lebih baik (masuk team khusus), dan selanjutnya keahliannya jauh meninggalkan teman-teman lainnya.

Demikian juga dengan pemain biola, menjadi hebat karena ia mempunyai lebih banyak waktu latihan dibanding yang lain. Para pemusik hebat ternyata mempunyai jam latihan yang sangat intens. Penelitian menunjukkan,  tidak ada pemusik alami (hebat tanpa latihan), ataupun pemusik yang telah bekerja keras tetapi tidak menjadi ahli.

The beatles menjadi hebat, karena ia punya waktu berlatih setiap hari di sebuah pub di Jerman dengan berbagai jenis musik selama lebih dari 25000 jam.  Demikian juga Bill Gates, menjadi ahli komputer, karena sejak sekolah ia punya kesempatan jauh lebih banyak bermain komputer dibandingkan anak-anak pada jamannya.

Apa arti semua ini ? Artinya,

  1. Jangan begitu mudah memfonis setiap orang tidak punya potensi. Jangan terlalu mudah mengelompokkan orang, apalagi mencap tidak punya potensi
  2. Semua orang punya potensi yang dapat dikembangkan, hanya kadang kita saja yang belum melihat potensinya.
  3. Sedangkan bagi diri sendiri, ayo gali potensi… kuncinya raih kesempatan dan rajin berlatih. Jangan mudah menyerah …..

Ada lagi yang ingin menambahkan ?

Read Full Post »

Lho Kok ? benar… bekerja di perusahaan makanan sehat membuat saya dapat meningkatkan gaya hidup sehat. Saya sangat-sangat bersyukur, karena tanpa dukungan dan program dari kantor kita sulit berdisiplin.

Setidaknya, dengan peraturan dan monitoring kesehatan yang dilakukan selama kita hidup di kantor, membantu kita mempertahankan kesehatan dan kebugaran.  Lima hari dalam seminggu dengan kebiasaan hidup lebih sehat, tentu sangat berpengaruh.

Mau tau apa saja yang menjadi program kesehatan karyawan di kantor saya ? Berikut contohnya :

  1. Tidak ada gorengan dalam snack meeting.  Snack meeting berupa biskuit rendah kalori, salad buah, rujak, dll.
  2. Tidak ada gorengan dan kerupuk saat makan di kantin kantor. Menu sehat menjadi santapan sehari-hari di kantin tanpa gorengan, jeroan, gulai dlsb.  Kolesterol, gula, tekanan darah, asam urat lebih terkendali.
  3. Disediakan Gym (lengkap dengan peralatannya) di kantor.
  4. Malas nge-gym di kantor, kantor bekerjasama dengan Celfit untuk keanggotaan karyawan.
  5. Disediakan juga kegiatan disertai instruktur antara lain Yoga, Hip Hop, dll di kantor bagi yang berminat satu minggu satu kali.
  6. Ada juga olah raga bela diri Aikido
  7. Untuk olahraga konvensional seperti badminton, futsal, sepakbola juga disediakan
  8. Seluruh area kantor dan pabrik bebas rokok
  9. Lift tidak dianjurkan digunakan untuk naik 3 lantai, kecuali membawa barang, orang sakit atau ibu hamil.
  10. Pemeriksaan kesehatan (general Check up) lengkap setahun sekali, untuk kasus tertentu bisa setahun 2 kali
  11. Pemeriksaan kebugaran tubuh dengan alat inbody, yang mengukur Body mass index dilakukan setiap 3 bulan sekali !
  12. Adanya klinik lengkap dengan dokter jaga

Monitoring kondisi kesehatan ini sama sekali tidak dikaitkan dengan performance appraisal.  Semua dilakukan sukarela….., perusahaan hanya memberi feedback…. Tidak ada paksaan, tidak ada punishment…

Kok ada ya kantor seperti ini ? ya ini bener-bener nyata…. Kantor kami adalah perusahaan makanan kesehatan dengan visi “inspiring nutritious life”…..Visi ini tentu bukan sekedar slogan, selain produk-produknya yang mengisnpirasi banyak orang untuk hidup sehat…. Kita berharap para karyawan pun menjadi duta bagi menyebarnya pola hidup sehat ……

Anda tertarik ?

Read Full Post »

Para blogger sejatinya adalah seorang jurnalis…. Sebagian besar blogger tentunya akan senang bila tulisannya dihargai oleh penerbit buku.  Berikut pengalaman saya mulai menjadi blogger lalu berhubungan dengan penerbit dan akhirnya menjadi sebuah buku.

Puji Syukur buku pertama saya “Empat Lensa” akan segera diterbitkan oleh Ipb Press.  Ada kepuasan yang berbeda saat tulisan kita lebih dihargai dan diabadikan dalam sebuah buku.  Walaupun ini baru pengalaman pertama saya, saya tetap ingin berbagi dengan rekan-rekan bagaimana cara dan langkah saya hingga mendapat kesempatan bekerjasama dengan penerbit.  Semoga ini bisa memberi inspirasi pada para blogger yang ingin menulis buku…menjadi penulis pemula nggak susah kok….

Kata rekan-rekan dan atasan saya, saya mempunyai bakat menulis (pasti para blogger juga demikian), tapi saya masih bingung….mau nulis apa  ? Munculnya fenomena blog membuat hasrat saya tersalurkan, lalu sayapun bergabung dengan wordpress di awal tahun 1998.

Tak disangka, dalam waktu 2 minggu sejak menulis di wordpress, saya sudah masuk jajaran toplist…. Wah mendapat sambutan hangat nih….., berarti gaya penulisan saya ada yang suka.  Karena blog saya adalah blog pribadi…. Ya bebas…, topiknya macem-macem…..

Dari berbagai macem topik tersebut saya selipkan artikel-artikel potongan ide buku yang akan saya terbitkan (test). Surprise, artikel tersebut juga mendapat sambutan hangat …….wah makin semangat deh buat menulis buku.

Kebetulan dikantor, saya juga mendapat tugas tambahan memimpin sebuah program “Learning Forum”di jajaran top management… mau tidak mau saya baca buku-buku management mutakhir…. Semangat menulis makin menggebu dengan tema yang semakin mengerucut…..  Karena hal inilah, saya meninggalkan komunitas blogger untuk sementara waktu… selain kesibukan kantor, juga larut dalam penyusunan buku….

Setelah naskah buku kira-kira selesai 75 %, saya baru berfikir ini buku mau ditawarkan kemana ? ada nggak yang mau menerbitkan ? saya lalu konsultasi dengan beberapa kenalan jurnalis beneran…. Bagaimana proses penerbitan sebuah buku, hal apa yang harus diperhatikan…… Atas konsultasi ini saya menyempurnakan naskah saya, dan untuk masalah proses penerbitan… penjelasan & sarannya jurnalis beneran itu tergolong umum misalnya :

  1. Buku dibuat dengan tujuan apa ?
  2. Siapa target marketnya ?
  3. Buatlah tulisan dengan karakter yang kuat.
  4. Finalisasi naskah
  5. Menghubungi penerbit untuk menawarkan buku tsb
  6. Presentasi dari segi ide dan pemasaran
  7. Bila oke, mendapat tawaran kontrak kerjasama
  8. Buku terbit, mendapat royalti

Point 1 sampai 3, itu berhubungan dengan kualitas dan kelas penulis. Untuk meyakinkan kualitas, saya mengirim sampel satu dua bab untuk dibaca anak, kerabat dan teman…. Saya tanya pendapat dan masukannya ? apakah menarik ? apakah mengerti ? apa sarannya ? dll.  Dari respon tersebut saya coba perbaiki naskah saya … ini terus dilakukan berkali-kali.

Untuk point 4 dan 5 walau sederhana tapi saya masih agak bingung.  Finalisasi naskah itu sampai seperti apa ? bagaimana menghubungi penerbit ? apa tipe-tipe kontrak kerjasama dengan penerbit ? Lalu kalau sekedar kirim naskah, kapan naskah kita dapat giliran dibaca/dievaluasi oleh staf redaksi ? Pasti puluhan atau ratusan naskah mengalir ke redaksi.  Penerbit seperti apa yang layak diajak kerjasama oleh penulis pemula seperti saya ?

Mencari penerbit sebenarnya tidak sulit.  Kita tinggal buka internet dengan bantuan search engine, nama dan alamat penerbit bisa kita dapatkan.  Tapi saya lakukan berbagai cara, selain lihat di internet, saya juga coba hubungi teman yang mungkin tahu atau pernah berhubungan dengan penerbit. Dari sini saya mendapat sedikit gambaran mengenai beberapa penerbit.

Membuat bahan presentasi untuk menjual ide buku ini, sebuah seni tersendiri.  Kita harus dapat menyampaikan apa bedanya buku kita dengan buku lain. Apa manfaatnya bagi pembaca, siapa yang akan membeli, kenapa mereka bakal membeli, dll.

Walaupun penulis pemula, saya pede aja untuk menawarkan ke beberapa penerbit lalu bisa membandingkan mana tawaran kerjasama yang paling cocok untuk saya. Kemudian supaya naskah saya tidak terkirim sia-sia, saya juga mencari tahu orang yang tepat yang perlu dihubungi di penerbit yang kita tuju.

Naskah 90% selesai, contact person penerbit sudah didapat…. maka saya mulai menghubungi penerbit.  Ada penerbit kondang yang saya hubungi hanya by email (dari search engine) tetapi responnya sangat hangat.  Ada yang melalui jasa teman mendapatkan nomor penting staf redaksi responnya juga baik sekali, ada yang langsung bertemu dan responnya sangat baik, dan tentunya ada juga yang dihubungi tetapi tidak merespon.

Namun menurut saya hasil yang didapat cukup “Surprise !”, perkenalan dan ide buku saya disambut baik oleh orang-orang penting di 3 penerbit kondang. Langkah berikutnya adalah mengirim naskah lengkap, berdoa, dan persiapan negosiasi kerjasama.  Kalau masih ingin mengikuti …..tunggu dibagian kedua ya….

Read Full Post »