Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Februari, 2009

Ini bisa dibilang lanjutan postingan saya yang lalu (baca tulisan lalu) .  Ternyata ulah pak kepsek tsb tidak berhenti ….

Minggu lalu teman sma saya yang juga menyekolahkan anaknya disana menelpon saya dan menceritakan ulah kepsek tsb, singkatnya sbb :

Ada improvement mengenai susunan acara, dimana acara tanya jawab diberi waktu… walaupun hanya untuk 1 penanya saja, yang kebetulan teman saya tsb.  Selain mempertanyakan masalah pembiayaan (yang dijawab kurang jelas)….teman saya tersebut mempertanyakan bagaimana kontrol dan bimbingan guru-guru terhadap anak-anak agar suasana belajar lebih baik, contohnya agar kebiasaan menyontek dapat lebih ditekan.

Lalu apa jawab sang kepsek nyentrik tsb ?

Menurut penuturan teman saya tsb, dengan lantang Ybs bertanya kepada hadirin(intinya sbb) :  .”…. pak/bu…jujur saja… apakah bapak/ibu tidak pernah menyontek ??? kalau saya saat mengambil S2 juga terkadang nyontek … jadi ….nyontek itu tanda anak itu kreatif/tangguh punya daya juang .... yang salah yang ngawas …..……dst”

WAOW !! apakah ini pantas diucapkan seorang kepala sekolah, seorang pemimpin pendidik ?  Beliau berulang kali bertanya kepada para ortu yang hadir …. jujur….jujur aja pak/bu……. pernah nyontek nggak ?? Dan sedihnya …kata teman saya…. ada sebagian ortu yang menjawab… pernah ……..

Tentu benar ada tanggung jawab pengawas dalam hal ini, tetapi menghalalkan nyontek di dunia pendidikan ? ……Astaghfirulloh …..

Geli juga …… tapi …aduh…. coba apa komentar anda tentang ulah kepsek ini … khususnya tentang pendidikan moral …..

Iklan

Read Full Post »

Sebenarnya saya ragu menuliskan hal ini … akan bermanfaat atau malah menuai badai khususnya nasib anak saya ? yaah…., semoga anda menangkap niat baik saya.

Sabtu minggu lalu, kami diundang ke sekolah anak saya (anak kedua) sebuah SMPN terbaik di Jakarta Timur, dengan agenda persiapan UN dan silaturahmi kepala sekolah baru. Sebagai orang tua yang baik, tentu saja kami memenuhi undangan tersebut dengan antusias. Namun apa dikata …. Pertemuan ini menjadi sesuatu yang menggelikan dan menyisakan pertanyaan besar di benak para orang tua ….. “Apa lagi Ini ????” ….

Begini cerita lengkapnya :

Sekitar pkl 07.50 saya sudah sampai disekolah (undangan jam 08.00), masuk ke ruang pertemuan sudah ada sekitar 20-30 orang tua, dan para orang tua terus berdatangan memenuhi ruangan (kapasitas 150-200 org) yang sudah tertata apik, dengan full karpet, tanaman hias, organ, TV monitor besar dan layar infocus.

Kami dengan sabar menanti walau jam telah menunjukkan angka lebih dari jam 08 pagi. Kami pun bertegur sapa dengan sesama orang tua murid. Tiba-tiba seseorang masuk keruangan dengan berteriak lantang kepada kami : “Keluar-keluar ……. Ayo cepat keluar-keluar …….keliling dulu …… lihat kelas-kelas……. Ayo …… cepat-cepat ….. keluar….”

Tentu saja kami kaget, kok tanpa sopan santun kepada orang tua… tiba-tiba saja meyuruh keluar layaknya menyuruh anak-anak yang nakal. Sambil berbisik-bisik dan bergumam mempertanyakan “siapa sih ? kok begitu amat ?” kamipun mencoba tetap respek mengikuti komandonya untuk berkeliling melihat kondisi kelas dan sekolah secara keseluruhan.

Dalam hiruk-pikuk tsb, kami mengetahui ternyata sang komando tsb adalah kepala sekolah yang baru. O..Ou….. sikapnya terhapuskan oleh kondisi sekolah yang cukup banyak perubahan dari sisi kebersihan dan penampilan. Lantai, bangku, dinding semua terlihat fresh.

Setelah selesai berkeliling, kami kembali digiring masuk ruang pertemuan dan acara dibuka oleh MC dilanjutkan lantunan lagu dari salah seorang murid diiringin pemain organ murid smp juga, so far so good ! Acara dilanjutkan dengan sambutan kepala sekolah yang baru, namun sebelum memulai, MC menyampaikan biodata kepsek dan juga video beliau saat penyambutan/pelantikan sebagai kepala sekolah sekitar 1 bulan yang lalu.

Nah berikutnya, mulailah sang komando beraksi …. Dengan gaya meledak-ledak … bapak kepala sekolah yang baru mengajak kita bershalawat bersama …..( shatalulloh…. Salammullah… alathoha…. Rasulillah …. dst) layaknya di sebuah acara pengajian. Kita tersenyum…… bahkan sebagian orang tua yang non muslim (ini sekolah negeri bukan sekolah islam) menundukkan kepala dan mungkin dalam hatinya … apaan sih……

Kembali lagi dengan gaya seorang guru kepada murid “ ….. ayo bapak-ibu yang keras dong…..jangan lemes gitu …. Sekarang ibu-ibu dulu …….trus gantian bapak-bapak ….. trus ayo bareng ……… dengan rasa respek kami orang tua mengikuti komandonya sambil tersenyum ….”

Selesai dengan shalawat…… mulailah beliau menceritakan dirinya…. Jadi kita mendapatkan lagi biodata beliau (padahal tadi sudah ditayangkan)….. bedanya ini diceritakan oleh tokoh aslinya. Tentu lebih seru karena ledakan dan guyonan dan aktingnya yang luar biasa… namun isinya semua sama dengan yang ditayangkan tadi yaitu antara lain :

Anak seorang pejuang kemerdekaan, ayahnya ikut mengantar bung karno ke rengasdengklok

Pendidikan lulus S2, sedang melanjutkan S3

Mantan kepsek SMPN ….. (saya lupa yang jelas bukan smpn unggulan)….

Selesai dengan acara yang berbau narsis…hehehe (nggak apa-apa lah… kadang kita juga suka narsis kan….)… selanjutnya beliau bertanya : “Bagaimana bapak-ibu sudah lihat perubahan yang terjadi di sekolah ini ? saya belum 1 bulan loh bu ( tepatnya 1 bulan kurang 1 hari)…. Tapi bapak/ibu lihat …… dst……” Pada prinsipnya beliau mengatakan saya bekerja keras dengan semangat baru melakukan perubahan berarti di sekolah ini.

Sampai disini….. kami pikir…. Oke…terimakasih, salut juga deh…… walaupun sikap dan perilakunya agak-agak “berbeda”. Namun, rasa salut itu tidak lama …..setelah beliau mengatakan bahwa semua renovasi sekolah ini …… belum dibayar …ALIAS NGUTANG…….!

Dan berikutnya beliau menekankan kepada kami para orang tua untuk menanggung biaya tsb. Beliau memotivasi para orang tua dengan ikut prihatin dan berjuang untuk pendidikan bangsa ini (anak pejuang) dan rasa ikhlas membantu kesejahteraan guru (dari sudut agama).

Dalam upayanya meyakinkan kita, beliau tidak segan-segan sampai duduk dilantai dengan kaki meronta-ronta mempraktekkan kalau anakanak bisa jatuh karena bangku sekolah yang rusak, juga menggunakan kata-kata … seperti ……”pikir….men…pikir…!!!” saat mempertanyakan bagaimana kita bisa maju kalau nggak pakai uang sumbangan dari orang tua.

Dengan KepSek yang lama, sejak kelas 2 SMP (anak saya masuk sekolah tsb mulai kelas 2)…. Tidak ada sama sekali pungutan biaya sepeserpun ! jadi sekolahnya gratis-tis… sesuai janji pemerintah. Tapi, ini yang dikritik kepsek yang baru. Beliau mengatakan ” saya menangis setelah tahu bahwa kepsek disini dibelenggu karena tidak boleh pungut iuran……”

Setelah masalah fasilitas/sarana pendidikan, beliau dibantu dengan Komite sekolah menyampaikan juga rencana perpisahan yang akan diselenggarakan di Balai Sudirman ! Waow…. Balai Sudirman….Salah satu gedung mewah di DKI. Beliau mengingatkan … jangan kecewakan anak-anak….. anak-anak sudah setuju…. Dan biaya 160jt juga ditanggung orang tua. Belum lagi acara pisah sambut kep sek….. mereka meminta lagi bantuan ortu, biaya sekitar 17 jt ! Buku Tahunan 75 Jt…..

Karena komite tetap tidak boleh memungut dana dari ortu, maka beliau melakukan ide terobosan (yang beliau sangat bangga dengan ide ini), yaitu membentuk organisasi “Pemerhati Pendidikan”. Iuran tidak ditetapkan, tetapi berdasarkan keihklasan orang tua. Yang tidak mampu, tidak perlu iuran. Untuk itu mereka langsung menyebarkan amplop untuk uang tunai tanpa nama dan form untuk menjadi anggota pemerhati pendidikan dengan janji nilai sumbangan.

Sementara materi utama persiapan UN, hanya disampaikan jadwal ujian saja. Serta hasil try out yang dilihat sekilas tanpa dibahas. Masalah hasil try out bisa ditanyakan langsung ke wali kelas setelah pertemuan ini … begitu katanya.

Dan yang bikin gemes…….. tidak ada acara tanya-jawab….. karena waktu habis, dan kelompok/ortu berikut sudah menunggu untuk masuk ruangan. Acara langsung ditutup. Sebagian orang tua ngomel……. “Kalau cuma begini ngapain datang ya….. ngomongnya persiapan ujian… kok malah cuma minta duit…..”.

Ada lagi yang lebih mengejutkan ! saat saya menceritakan hal ini kepada anak saya, anak saya memberikan informasi baru …. : “oh pantes aja yah….beberapa waktu yang lalu mamanya temen adek bilang… “hati-hati tuh sama kepsek yang baru, kayaknya calon…….(maaf saya ggak sampai hati menulisnya disini), masak kita disawer…”

Jadi, beliau telah mengundang sebagian kecil ortu untuk mau dijadikan pengurus Pemerhati Pendidikan dan saat pertemuan itu, beliau memberi uang…….Waduh….. apa maksudnya ini ???

Bagaimana pendapat anda tentang perilaku kepsek baru ini ??

Menurut saya, point penting yang harus diperbaiki adalah :

  1. Sebagai pendidik, seharusnya mencontohkan sikap dan perilaku yang sopan dan santun.
  2. Bila ingin mencari jalan keluar masalah dana, maka perlu ada transparansi terlebih dahulu …. Berapa dana dari pemerintah , berapa yang seharusnya dibutuhkan, baru terhitung berapa kekurangan. Bila ini tidak dilakukan, maka pemungutan dana dari orang tua hanya akan mengundang Fitnah !
  3. Dalam kondisi ekonomi dan dunia yang sedang prihatin, juga antisipasi kebutuhan biaya pendidikan masuk SMU, pantaskah kita bermewah-mewah (pesta perpisahan di balai sudirman, dll)

Ada komentar, pendapat atau saran dari anda ?

Read Full Post »

Menjelang musim ujian dan kenaikan kelas, kembali banyak yang mencari informasi mengenai sekolah, tidak terkecuali Kelas International. Saya sudah beberapa kali menulis masalah ini silahkan anda membaca tulisan saya terdahulu, seperti :

  1. SMUN Favorit Kelas International
  2. Reportnya mengurus Kelas International Favorit
  3. Beban Berganda Kelas International
  4. Ujian Cambrige Kelas International

Terimakasih kepada semua yang telah membaca, memberi dukungan dan juga merasakan manfaat dari tulisan saya. Ada beberapa pertanyaan kepada saya bagaimana perkembangannya saat ini ?

Berikut saya sampaikan, perkembangan penting pengelolaan sekolah dan juga prestasi anak saya (yang tentu saja masih sangat membanggakan).

  1. Berulang kali pertemuan/rapat, surat dilayangkan, notulen untuk perbaikan system belajar mengajar ….. respon pihak sekolah adalah selalu sama :”terimakasih atas masukan yang sangat berarti, beruntung ada orang tua yang sangat memperhatikan masalah ini, dslb…” Namun tindakan perbaikan jika diibaratkan dengan point maka, dari 100 point hanya sekitar 30 point yang dilakukan. Kendalanya, birokrasi… koordinasi !
  2. Sedangkan prestasi anak saya …. Alhamdulillah,  Anak saya satu-satunya yang menyapu bersih nilai A untuk ujian Cambrige O level (Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, dan Bhs Inggris), bahkan mendapatkan A* (baca A star) untuk Matematika, Fisika dan Kimia.

Masalah yang sekarang kami hadapi adalah persiapan ujian A level. Mengingat Keputusan Diknas dan universitas di Indonesia yang mengharuskan ada Ujian nasional, maka kami (orang tua dan sebagian anak-anak berprestasi) menginginkan mengambil ujian A level di bulan Mei-Juni ini, agar tahun depan sudah focus pada ujian nasional.

Keuntungan lain bila mengambil ujian A level di Mei-Jun, maka anak-anak sudah bisa mendaftar ke perguruan tinggi di luar negeri untuk mengambil langsung S1 saat ini (tapi tidak bisa di Indonesia). Karena sudah A level maka lama pendidikan di S1 pun hanya 3 tahun, bahkan bisa lebih cepat.

Namun sangat disayangkan, sekolah masih belum bisa memfasilitasi keinginan tersebut karena terbentur sarana lab, staf pengajar dan program sekolah yang memilih AS level di Mei-Jun dan A level di Okt-Nov.

Gemes ???? sangat gemes…. Kita masih berjuang mencari jalan keluar untuk hal ini. Oleh karena itu sekali lagi, bila anda ingin menyekolahkan anak anda di kelas international bersiaplah :

  1. Dana pendidikan yang tidak sedikit
  2. Perhatian dan keterlibatan orang tua untuk mendorong pihak sekolah meningkatkan mutu proses belajar mengajarnya
  3. Masih harus siap-siap mengeluarkan dana tambahan untuk bimbingan belajar persiapan ujian Cambrige.
  4. Mempersiapkan fisik & mental anak-anak mendapat beban berganda cambrige dan UN

Semoga seri tulisan ini memberi manfaat bagi orang tua murid, anak-anak yang berminat ke sekolah internasional, dan juga pemerhati pendidikan lainnya. Saya sangat-sangat berharap pihak Diknas pun membaca dan yang lebih penting melakukan action /follow up untuk memperbaiki program international ini.

Read Full Post »