Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘sekolah’ Category

Setelah akhirnya ikut test ITB juga dan hasilnya diterima, anak saya melepaskan kursinya di ITB dan memilih FKUI.  Namun, tawaran bea siswa dari Jepang yang sangat menggiurkan,  menjadi sebuah kebimbangan/persoalan baru.

Saat ini Ia telah resmi menjadi mahasiswa kedokteran UI karena Ia baru saja registrasi dan sudah mendapatkan kartu mahasiswa dan jacket kuning kebanggaan.  Namun,  Ia pun saat ini telah lolos 2 tahap seleksi untuk penerima bea siswa ke Jepang dengan pilihan jurusan tehnik atau science.  Kami hanya tinggal menunggu wawancara akhir.

Bea siswa Jepang ini dari sisi ekonomi sangat mengiurkan, karena selain biaya kuliah dan buku yang ditanggung, penginapan disediakan, juga mendapatkan uang saku yang lumayan besar. Pendek kata saya bisa bebas merdeka mengenai biaya, bahkan dari pengalaman kakak kelas di Jepang, sangat memungkinkan baginya untuk menabung hingga sekitar 5 juta rupiah per bulan.

Selain alasan ekonomi, tentu saja pengalaman hidup di negara maju, bahasa, exposure internasional, kemandirian adalah suatu nilai lebih jika memilih bea siswa ini. Dalam soal waktu kuliah, di Jepang juga akan memakan waktu 5,5 tahun (sama dengan FK-UI), karena 1,5 tahun pertama diisi dengan belajar bahasa jepang dahulu.

Kelebihan FKUI tentu saja masalah pekerjaan setelah lulus. Ia tidak harus meniti karier, sebagai profesional ia langsung bisa praktek dan bahkan menciptakan lapangan kerja bagi asistennya, perawatnya, dll. Dengan sikap anak saya yang cenderung introvert (lihat karakter anak saya dalam postingan terdahulu), menjadi dokter bukanlah halangan. Sepanjang ia pintar dan trampil dalam bidangnya, maka ia akan dicari pelanggannya.

Namun bila ia masuk ke tehnik atau science, ia tentunya harus meniti karier di sebuah perusahaan, walaupun mungkin saja bisa berwirausaha, namun hal tsb bukanlah hal yang mudah. Belum lagi, kemandiriannya dan kemampuan sosialnya yang masih perlu diasah….. membuat kami khawatir apakah ia mampu mengatasi masalahnya sendiri di negeri orang ? apakah ia mampu mengatasi rasa rindunya pada tanah air dan keluarganya ? dan yang terpenting, apakah nantinya ia bisa meniti karier dengan sukses ?

Pertimbangan lain, kelihatannya saat ini ia enjoy dengan FKUInya …….apakah bijak bila saya mendorong untuknya untuk pergi Ke Jepang dan melepas FKUI nya ???  Bagaimana menurut rekan blogger ???

Iklan

Read Full Post »

Setelah diterima di FK-UI, ternyata anak saya masih menyimpan rasa penasaran untuk menjajal test masuk ITB (yang akan diselenggarakan tgl 29-30 Mei mendatang).

Selain rasa penasaran anak saya, kami pun sebenarnya sedang menimbang-nimbang cocokkah ia berprofesi menjadi dokter dengan karakter dan sifatnya saat ini ?

Kami pun lalu mencoba membanding-bandingkan kelebihan dan kekurangan pilihan masing-masing.  Jurusan ITB yang ia pilih adalah jurusan elektro dan informatika, ini pun jurusan paling bergengsi di ITB karena Tingkat Kesulitan Relatifnya yang paling tinggi yaitu 84.

Pilihan jurusan ini tentunya sangat penting bagi masa depan anak kami. Sekilas FK UI sangat menjanjikan, profesi dokter tentu saja selain mulia juga menyediakan langsung lapangan kerja.  Namun waktu yang dibutuhkan untuk menjadi dokter cukup lama sekitar 5-6 tahun

Sementara bila lulus dari STEI ITB, walaupun sangat besar kemungkinan lulusannya tidak kesulitan mencari kerja, namun ia hanya menjadi pekerja, perlu meniti karier…. at least untuk sementara waktu sebelum kariernya meningkat dan berhasil.  Waktu kuliah sekitar 4 tahun, biaya kuliah (uang pangkal ITB) dua kali lebih mahal dari FK UI.

Sekilas…. karakter anak saya adalah cukup introvert, lebih sering beraktivitas individual, agak pendiam /pemalu, namun bila sudah kenal dekat ia akan lebih terbuka bicara, bahkan cenderung banyak bicara dan berbicara dengan cepat. Dalam pengamatan saya ia masih harus mengasah kemampuan interaksi sosialnya, masih terkesan agak kaku.

Tentang kecerdasan, dalam test IQ memang sudah jauh diatas rata-rata, ia orang yang sangat analitis, logik, kemampuan membacanya  sangat cepat, namun ia cenderung malas belajar, apalagi yang hafalan.

Ia punya hobby game. sangat maniac game… karena malas belajar dan kalau belajar hanya sebentar, kami sering meledeknya : “istirahatnya belajar, utamanya main game ya ?”  karena belajar terlama di rumah rekornya ya sekitar 1 jam. Biasanya setengah jam sudah nonton TV or main game kembali.

Selain masalah kecocokan anak saya, masalah yang mengusik juga adalah apakah pantas anak saya ikut test lagi, padahal sudah diterima di jurusan paling favorit dan bergengsi di negeri ini.  Terlalu egoiskah ia ? sementara yang lain masih mengharapkan peluang karena belum diterima ?

Bagaimana pendapat para blogger ? apa jurusan yang cocok untuknya ? apa kelebihan UI dan ITB ? masih perlukah  mengikuti test ke ITB ?

Read Full Post »

Hari-hari ini kami sedang berbahagia, karena anak sulung kami diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.  Prestasi anak saya ini pernah saya posting awal 2008, saat itu ia baru kelas 1 SMA baru lulus SMP dengan nilai NEM tertinggi. (baca artikel : tips menghadapi UN, pengalaman mendapatkan nilai NEM tertinggi)

Tak terasa saat ini moment tsb terulang lagi, walau bukan menjadi yang tertinggi (karena nilai bahasa indonesia hanya mendapat 7,8) namun nilai matematik di UN mendapat nilai sempurna 10 …..cukup membanggakan.

Sejak SMA, saya sudah tidak dapat membimbing pelajarannya karena sebagian besar saya sudah lupa dengan materi pelajaran kimia, fisika dan matematika yang cukup rumit.  Kebiasaannya main game juga belum berubah, namun kami tak hentinya mengingatkan waktu belajar kepadanya.

Walaupun sudah SMA, bimbingan dan perhatian orang tua tidak boleh kendor.  Dengan banyaknya gangguan /pengaruh lingkungan, teknologi, media yang luar biasa…. mau tidak mau kita harus memastikan anak kita masih di rel yang benar. Mengingatkan untuk belajar, manakala ia terhanyut dalam kegiatan remajanya, adalah sangat penting.

Sejak kelas 3 SMA ia sudah mengikuti bimbingan belajar intensif dan secara rutin mengikuti try out. Tidak lupa saya juga membelikan buku-buku latihan soal UN dan test PT yang banyak tersedia di toko buku.Selebihnya, kami berdoa dan kadang bertahajud untuk kesuksesan anak kami.  Dalam hal ini pun kami mengalami titik pencerahan setelah anak kami kelas 3 SMP (3 thn yang lalu).

Ada hal sepele yang lucu dan mungkin memalukan, namun saya kira mungkin ada yang mengalaminya juga.  Dalam hal ini bisa dikatakan kami mengalami titik pencerahan.  Hingga tiga tahun yang lalu, saya sangat sibuk untuk bekerja (meniti karier), hingga kalaupun kami berdoa, lebih khusyu doa untuk diri sendiri karena didera oleh berbagai masalah di kantor, konyol sekali.

Hingga pada suatu saat saya mempertanyakan untuk apa kesuksesan yang kami raih, bila anak-anak kami tidak berhasil dalam kehidupannya mendatang.  Dengan bertambahnya umur kami, kami menyadari bahwa anak-anak yang merupakan titipanNya, adalah tanggung jawab kami. Kami harus mengantarnya agar mereka bisa sukses dan bahagia dan menjadi orang yang bermanfaat. kami lebih khusyu berdoa untuk masa depan anak-anak kami….

Walaupun Jalan ke depan masih panjang, kami syukuri anak kami telah berprestasi dan diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang sangat diidamkan oleh kebanyakan anak-anak berprestasi.

FK-UI mempunyai ‘passing grade’ tertinggi, artinya dalam seleksi masuk ia menetapkan standard nilai tertinggi di Indonesia untuk seluruh jurusan, yaitu 86.  Passing grade ke 2 tertinggi adalah STEI ITB (elektro dan informatika) yaitu 84. Passing grade ini di ITB dikenal sebagai Tingkat Kesulitan Relatif.  Jurusan yang lain di bawah skor ini.

Anak saya memilih kedua jurusan tersebut sebagai sasarannya.  Tentu saja saya sangat cemas karena persaingan yang sangat ketat dan standard seleksi yang sangat tinggi. Kini,  kecemasan itu berakhir dengan rasa syukur, karena telah diterima melalui Jalur SIMAK UI reguler.

Bayangkan sementara yang lain masih sibuk ikut test ujian masuk yang banyak sekali jalurnya, anak saya sudah merasa tenang. Biaya pun sangat affordable bagi kami, karena masuknya jalur reguler (biaya standard).

Semoga ia menjadi dokter yang handal, dan memberi arti bagi sesama.

Read Full Post »

Ini bisa dibilang lanjutan postingan saya yang lalu (baca tulisan lalu) .  Ternyata ulah pak kepsek tsb tidak berhenti ….

Minggu lalu teman sma saya yang juga menyekolahkan anaknya disana menelpon saya dan menceritakan ulah kepsek tsb, singkatnya sbb :

Ada improvement mengenai susunan acara, dimana acara tanya jawab diberi waktu… walaupun hanya untuk 1 penanya saja, yang kebetulan teman saya tsb.  Selain mempertanyakan masalah pembiayaan (yang dijawab kurang jelas)….teman saya tersebut mempertanyakan bagaimana kontrol dan bimbingan guru-guru terhadap anak-anak agar suasana belajar lebih baik, contohnya agar kebiasaan menyontek dapat lebih ditekan.

Lalu apa jawab sang kepsek nyentrik tsb ?

Menurut penuturan teman saya tsb, dengan lantang Ybs bertanya kepada hadirin(intinya sbb) :  .”…. pak/bu…jujur saja… apakah bapak/ibu tidak pernah menyontek ??? kalau saya saat mengambil S2 juga terkadang nyontek … jadi ….nyontek itu tanda anak itu kreatif/tangguh punya daya juang .... yang salah yang ngawas …..……dst”

WAOW !! apakah ini pantas diucapkan seorang kepala sekolah, seorang pemimpin pendidik ?  Beliau berulang kali bertanya kepada para ortu yang hadir …. jujur….jujur aja pak/bu……. pernah nyontek nggak ?? Dan sedihnya …kata teman saya…. ada sebagian ortu yang menjawab… pernah ……..

Tentu benar ada tanggung jawab pengawas dalam hal ini, tetapi menghalalkan nyontek di dunia pendidikan ? ……Astaghfirulloh …..

Geli juga …… tapi …aduh…. coba apa komentar anda tentang ulah kepsek ini … khususnya tentang pendidikan moral …..

Read Full Post »

Sebenarnya saya ragu menuliskan hal ini … akan bermanfaat atau malah menuai badai khususnya nasib anak saya ? yaah…., semoga anda menangkap niat baik saya.

Sabtu minggu lalu, kami diundang ke sekolah anak saya (anak kedua) sebuah SMPN terbaik di Jakarta Timur, dengan agenda persiapan UN dan silaturahmi kepala sekolah baru. Sebagai orang tua yang baik, tentu saja kami memenuhi undangan tersebut dengan antusias. Namun apa dikata …. Pertemuan ini menjadi sesuatu yang menggelikan dan menyisakan pertanyaan besar di benak para orang tua ….. “Apa lagi Ini ????” ….

Begini cerita lengkapnya :

Sekitar pkl 07.50 saya sudah sampai disekolah (undangan jam 08.00), masuk ke ruang pertemuan sudah ada sekitar 20-30 orang tua, dan para orang tua terus berdatangan memenuhi ruangan (kapasitas 150-200 org) yang sudah tertata apik, dengan full karpet, tanaman hias, organ, TV monitor besar dan layar infocus.

Kami dengan sabar menanti walau jam telah menunjukkan angka lebih dari jam 08 pagi. Kami pun bertegur sapa dengan sesama orang tua murid. Tiba-tiba seseorang masuk keruangan dengan berteriak lantang kepada kami : “Keluar-keluar ……. Ayo cepat keluar-keluar …….keliling dulu …… lihat kelas-kelas……. Ayo …… cepat-cepat ….. keluar….”

Tentu saja kami kaget, kok tanpa sopan santun kepada orang tua… tiba-tiba saja meyuruh keluar layaknya menyuruh anak-anak yang nakal. Sambil berbisik-bisik dan bergumam mempertanyakan “siapa sih ? kok begitu amat ?” kamipun mencoba tetap respek mengikuti komandonya untuk berkeliling melihat kondisi kelas dan sekolah secara keseluruhan.

Dalam hiruk-pikuk tsb, kami mengetahui ternyata sang komando tsb adalah kepala sekolah yang baru. O..Ou….. sikapnya terhapuskan oleh kondisi sekolah yang cukup banyak perubahan dari sisi kebersihan dan penampilan. Lantai, bangku, dinding semua terlihat fresh.

Setelah selesai berkeliling, kami kembali digiring masuk ruang pertemuan dan acara dibuka oleh MC dilanjutkan lantunan lagu dari salah seorang murid diiringin pemain organ murid smp juga, so far so good ! Acara dilanjutkan dengan sambutan kepala sekolah yang baru, namun sebelum memulai, MC menyampaikan biodata kepsek dan juga video beliau saat penyambutan/pelantikan sebagai kepala sekolah sekitar 1 bulan yang lalu.

Nah berikutnya, mulailah sang komando beraksi …. Dengan gaya meledak-ledak … bapak kepala sekolah yang baru mengajak kita bershalawat bersama …..( shatalulloh…. Salammullah… alathoha…. Rasulillah …. dst) layaknya di sebuah acara pengajian. Kita tersenyum…… bahkan sebagian orang tua yang non muslim (ini sekolah negeri bukan sekolah islam) menundukkan kepala dan mungkin dalam hatinya … apaan sih……

Kembali lagi dengan gaya seorang guru kepada murid “ ….. ayo bapak-ibu yang keras dong…..jangan lemes gitu …. Sekarang ibu-ibu dulu …….trus gantian bapak-bapak ….. trus ayo bareng ……… dengan rasa respek kami orang tua mengikuti komandonya sambil tersenyum ….”

Selesai dengan shalawat…… mulailah beliau menceritakan dirinya…. Jadi kita mendapatkan lagi biodata beliau (padahal tadi sudah ditayangkan)….. bedanya ini diceritakan oleh tokoh aslinya. Tentu lebih seru karena ledakan dan guyonan dan aktingnya yang luar biasa… namun isinya semua sama dengan yang ditayangkan tadi yaitu antara lain :

Anak seorang pejuang kemerdekaan, ayahnya ikut mengantar bung karno ke rengasdengklok

Pendidikan lulus S2, sedang melanjutkan S3

Mantan kepsek SMPN ….. (saya lupa yang jelas bukan smpn unggulan)….

Selesai dengan acara yang berbau narsis…hehehe (nggak apa-apa lah… kadang kita juga suka narsis kan….)… selanjutnya beliau bertanya : “Bagaimana bapak-ibu sudah lihat perubahan yang terjadi di sekolah ini ? saya belum 1 bulan loh bu ( tepatnya 1 bulan kurang 1 hari)…. Tapi bapak/ibu lihat …… dst……” Pada prinsipnya beliau mengatakan saya bekerja keras dengan semangat baru melakukan perubahan berarti di sekolah ini.

Sampai disini….. kami pikir…. Oke…terimakasih, salut juga deh…… walaupun sikap dan perilakunya agak-agak “berbeda”. Namun, rasa salut itu tidak lama …..setelah beliau mengatakan bahwa semua renovasi sekolah ini …… belum dibayar …ALIAS NGUTANG…….!

Dan berikutnya beliau menekankan kepada kami para orang tua untuk menanggung biaya tsb. Beliau memotivasi para orang tua dengan ikut prihatin dan berjuang untuk pendidikan bangsa ini (anak pejuang) dan rasa ikhlas membantu kesejahteraan guru (dari sudut agama).

Dalam upayanya meyakinkan kita, beliau tidak segan-segan sampai duduk dilantai dengan kaki meronta-ronta mempraktekkan kalau anakanak bisa jatuh karena bangku sekolah yang rusak, juga menggunakan kata-kata … seperti ……”pikir….men…pikir…!!!” saat mempertanyakan bagaimana kita bisa maju kalau nggak pakai uang sumbangan dari orang tua.

Dengan KepSek yang lama, sejak kelas 2 SMP (anak saya masuk sekolah tsb mulai kelas 2)…. Tidak ada sama sekali pungutan biaya sepeserpun ! jadi sekolahnya gratis-tis… sesuai janji pemerintah. Tapi, ini yang dikritik kepsek yang baru. Beliau mengatakan ” saya menangis setelah tahu bahwa kepsek disini dibelenggu karena tidak boleh pungut iuran……”

Setelah masalah fasilitas/sarana pendidikan, beliau dibantu dengan Komite sekolah menyampaikan juga rencana perpisahan yang akan diselenggarakan di Balai Sudirman ! Waow…. Balai Sudirman….Salah satu gedung mewah di DKI. Beliau mengingatkan … jangan kecewakan anak-anak….. anak-anak sudah setuju…. Dan biaya 160jt juga ditanggung orang tua. Belum lagi acara pisah sambut kep sek….. mereka meminta lagi bantuan ortu, biaya sekitar 17 jt ! Buku Tahunan 75 Jt…..

Karena komite tetap tidak boleh memungut dana dari ortu, maka beliau melakukan ide terobosan (yang beliau sangat bangga dengan ide ini), yaitu membentuk organisasi “Pemerhati Pendidikan”. Iuran tidak ditetapkan, tetapi berdasarkan keihklasan orang tua. Yang tidak mampu, tidak perlu iuran. Untuk itu mereka langsung menyebarkan amplop untuk uang tunai tanpa nama dan form untuk menjadi anggota pemerhati pendidikan dengan janji nilai sumbangan.

Sementara materi utama persiapan UN, hanya disampaikan jadwal ujian saja. Serta hasil try out yang dilihat sekilas tanpa dibahas. Masalah hasil try out bisa ditanyakan langsung ke wali kelas setelah pertemuan ini … begitu katanya.

Dan yang bikin gemes…….. tidak ada acara tanya-jawab….. karena waktu habis, dan kelompok/ortu berikut sudah menunggu untuk masuk ruangan. Acara langsung ditutup. Sebagian orang tua ngomel……. “Kalau cuma begini ngapain datang ya….. ngomongnya persiapan ujian… kok malah cuma minta duit…..”.

Ada lagi yang lebih mengejutkan ! saat saya menceritakan hal ini kepada anak saya, anak saya memberikan informasi baru …. : “oh pantes aja yah….beberapa waktu yang lalu mamanya temen adek bilang… “hati-hati tuh sama kepsek yang baru, kayaknya calon…….(maaf saya ggak sampai hati menulisnya disini), masak kita disawer…”

Jadi, beliau telah mengundang sebagian kecil ortu untuk mau dijadikan pengurus Pemerhati Pendidikan dan saat pertemuan itu, beliau memberi uang…….Waduh….. apa maksudnya ini ???

Bagaimana pendapat anda tentang perilaku kepsek baru ini ??

Menurut saya, point penting yang harus diperbaiki adalah :

  1. Sebagai pendidik, seharusnya mencontohkan sikap dan perilaku yang sopan dan santun.
  2. Bila ingin mencari jalan keluar masalah dana, maka perlu ada transparansi terlebih dahulu …. Berapa dana dari pemerintah , berapa yang seharusnya dibutuhkan, baru terhitung berapa kekurangan. Bila ini tidak dilakukan, maka pemungutan dana dari orang tua hanya akan mengundang Fitnah !
  3. Dalam kondisi ekonomi dan dunia yang sedang prihatin, juga antisipasi kebutuhan biaya pendidikan masuk SMU, pantaskah kita bermewah-mewah (pesta perpisahan di balai sudirman, dll)

Ada komentar, pendapat atau saran dari anda ?

Read Full Post »

Menjelang musim ujian dan kenaikan kelas, kembali banyak yang mencari informasi mengenai sekolah, tidak terkecuali Kelas International. Saya sudah beberapa kali menulis masalah ini silahkan anda membaca tulisan saya terdahulu, seperti :

  1. SMUN Favorit Kelas International
  2. Reportnya mengurus Kelas International Favorit
  3. Beban Berganda Kelas International
  4. Ujian Cambrige Kelas International

Terimakasih kepada semua yang telah membaca, memberi dukungan dan juga merasakan manfaat dari tulisan saya. Ada beberapa pertanyaan kepada saya bagaimana perkembangannya saat ini ?

Berikut saya sampaikan, perkembangan penting pengelolaan sekolah dan juga prestasi anak saya (yang tentu saja masih sangat membanggakan).

  1. Berulang kali pertemuan/rapat, surat dilayangkan, notulen untuk perbaikan system belajar mengajar ….. respon pihak sekolah adalah selalu sama :”terimakasih atas masukan yang sangat berarti, beruntung ada orang tua yang sangat memperhatikan masalah ini, dslb…” Namun tindakan perbaikan jika diibaratkan dengan point maka, dari 100 point hanya sekitar 30 point yang dilakukan. Kendalanya, birokrasi… koordinasi !
  2. Sedangkan prestasi anak saya …. Alhamdulillah,  Anak saya satu-satunya yang menyapu bersih nilai A untuk ujian Cambrige O level (Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, dan Bhs Inggris), bahkan mendapatkan A* (baca A star) untuk Matematika, Fisika dan Kimia.

Masalah yang sekarang kami hadapi adalah persiapan ujian A level. Mengingat Keputusan Diknas dan universitas di Indonesia yang mengharuskan ada Ujian nasional, maka kami (orang tua dan sebagian anak-anak berprestasi) menginginkan mengambil ujian A level di bulan Mei-Juni ini, agar tahun depan sudah focus pada ujian nasional.

Keuntungan lain bila mengambil ujian A level di Mei-Jun, maka anak-anak sudah bisa mendaftar ke perguruan tinggi di luar negeri untuk mengambil langsung S1 saat ini (tapi tidak bisa di Indonesia). Karena sudah A level maka lama pendidikan di S1 pun hanya 3 tahun, bahkan bisa lebih cepat.

Namun sangat disayangkan, sekolah masih belum bisa memfasilitasi keinginan tersebut karena terbentur sarana lab, staf pengajar dan program sekolah yang memilih AS level di Mei-Jun dan A level di Okt-Nov.

Gemes ???? sangat gemes…. Kita masih berjuang mencari jalan keluar untuk hal ini. Oleh karena itu sekali lagi, bila anda ingin menyekolahkan anak anda di kelas international bersiaplah :

  1. Dana pendidikan yang tidak sedikit
  2. Perhatian dan keterlibatan orang tua untuk mendorong pihak sekolah meningkatkan mutu proses belajar mengajarnya
  3. Masih harus siap-siap mengeluarkan dana tambahan untuk bimbingan belajar persiapan ujian Cambrige.
  4. Mempersiapkan fisik & mental anak-anak mendapat beban berganda cambrige dan UN

Semoga seri tulisan ini memberi manfaat bagi orang tua murid, anak-anak yang berminat ke sekolah internasional, dan juga pemerhati pendidikan lainnya. Saya sangat-sangat berharap pihak Diknas pun membaca dan yang lebih penting melakukan action /follow up untuk memperbaiki program international ini.

Read Full Post »

Untuk orang tua yang akan atau baru menyekolahkan anaknya di program internasional, semoga tulisan ini bermanfaat.  Kebetulan anak saya sudah menyelesaikan ujian cambrige O Level untuk Fisika & Matematika… dan alhamdulillah ybs mendapat nilai terbaik untuk keduanya yaitu A* ( baca : A star !).

Saat memilih kelas internasional ini, segudang impian dan harapan muncul di benak kami.  Tapi ternyata menyekolahkan anak di program internasional saat ini tidaklah mudah.  Baca juga suka duka saya yang lain, (ada 6 tulisan) mengenai sekolah internasional ini.

Dari berbagai kesulitan tsb (kesiapan guru-guru, pendampingan ketat orang tua, tekanan pengurus WOTK terhadap sekolah, beban berganda anak-anak, perilaku remaja)…. setelah memasuki tahun kedua, kesulitan sedikit-sedikit mulai teratasi (walau masih banyak kekurangan, dan tidak menurunkan bimbingan pada anak dan tekanan pada sekolah), dan kebingungan/kekhawatiran orang tua mulai menurun.

Kelas internasional dengan biaya yang sangat tinggi dan beban berganda tsb pada kenyataannya adalah pilihan orang tua dan anak. Selain nantinya tetap harus mengikuti ujian nasional di kelas 3, mereka harus ikut ujian yang diselenggarakan cambrige international yang berpusat di Inggris.

Ujian Cambrige untuk Kelas Internasional SMUN hanya untuk 5 mata ajaran yaitu Matematika, Fisika, Kimia, Biologi dan Bahasa Inggris.

  1. Tahap pertama mereka harus mengikuti ujian O level untuk mat, fis, kim dan bio plus ESL untuk bhs inggris. Ujian O level ini bisa diambil kelas 1 atau atau kelas 2 tergantung kesiapan anak dan gurunya.  Bila sudah mendapatkan sertifikat O level, anak bisa melanjutkan sekolah langsung ke luar negeri melalui jalur college (diploma) yang biayanya lebih murah … setelah 6 bulan – 1tahun diploma bisa melanjutkan ke S1 sekitar 3 tahun di luar negeri.  Ini tentunya bila orang tua mempunyai biaya sendiri menyekolahkan anaknya ke luar negeri.
  2. Setelah O level, anak-anak bisa melanjutkan ujian A level untuk mat, fis, kim, dan bio.  A level ini cukup sulit karena ini seperti Ujian SMA, ditambah dengan Tk persiapan di perguruan tinggi (atau foundation programe).  Jadi dengan Sertifikat A level, anak bisa langsung melanjutkan S1 di luar negeri dengan lama waktu 3 tahun, tanpa perlu ikut foundation programme.  Kalau lulusan SMA reguler dengan ijazah UN, masih harus mengikuti program foundation.
  3. Karena A level ini cukup sulit, kita juga bisa memilih untuk ujian dalam 2 tahap (biaya pun 2 kalinya) menjadi AS level dan A2.  selanjutnya sama dengan point 2.  Dengan sertifikat A level, bila nilai sangat baik (A*), mempunyai kesempatan mendapatkan beasiswa di beberapa perguruan tinggi top dunia.

Anak-anak sebenarnya boleh memilih apakah akan ikut ujian-ujian cambrige ini atau tetap fokus kepada UN….. dan untuk mengambil A level juga anak-anak boleh memilih mata ajaran apa yang akan diambil.  Ini sebenarnya tergantung jurusan yang akan diambil di S1(di luar negeri)  nanti.

Jurusan tertentu, hanya mensyaratkan biologi dan matematik,  Jurusan lain mensyaratkan matematik, fisika, kimia.  jadi, sejak kelas 2 SMA…. anak-anak perlu mulai menetapkan jurusan yang akan dia pilih nantinya.

Disini, saya kembali mengeluhkan sistem pendidikan kita yang membebani anak-anak sma dengan banyak mata ajaran… sementara SMA di luar negeri…… mata ajaran sudah mengarah pada jurusan nantinya, lebih spesifik….. Di Indonesia, pembagian hanya sebatas IPA, IPS dan Bahasa.  Anak SMA pulang hingga jam3 atau  4 sore setiap hari ….. tapi mutu ….. ???? beban banyak dan anak-anak tidakfokus, hasilnya …. ????

Semoga, tulisan ini bisa membuka wawasan para orang tua yang akan dan sedang menyekolahkan anaknya di program internasional dan juga memberi inspirasi kepada petinggi pendidikan kita …..

Read Full Post »

Older Posts »