Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘ketrampilan’ Category

Para blogger sejatinya adalah seorang jurnalis…. Sebagian besar blogger tentunya akan senang bila tulisannya dihargai oleh penerbit buku.  Berikut pengalaman saya mulai menjadi blogger lalu berhubungan dengan penerbit dan akhirnya menjadi sebuah buku.

Puji Syukur buku pertama saya “Empat Lensa” akan segera diterbitkan oleh Ipb Press.  Ada kepuasan yang berbeda saat tulisan kita lebih dihargai dan diabadikan dalam sebuah buku.  Walaupun ini baru pengalaman pertama saya, saya tetap ingin berbagi dengan rekan-rekan bagaimana cara dan langkah saya hingga mendapat kesempatan bekerjasama dengan penerbit.  Semoga ini bisa memberi inspirasi pada para blogger yang ingin menulis buku…menjadi penulis pemula nggak susah kok….

Kata rekan-rekan dan atasan saya, saya mempunyai bakat menulis (pasti para blogger juga demikian), tapi saya masih bingung….mau nulis apa  ? Munculnya fenomena blog membuat hasrat saya tersalurkan, lalu sayapun bergabung dengan wordpress di awal tahun 1998.

Tak disangka, dalam waktu 2 minggu sejak menulis di wordpress, saya sudah masuk jajaran toplist…. Wah mendapat sambutan hangat nih….., berarti gaya penulisan saya ada yang suka.  Karena blog saya adalah blog pribadi…. Ya bebas…, topiknya macem-macem…..

Dari berbagai macem topik tersebut saya selipkan artikel-artikel potongan ide buku yang akan saya terbitkan (test). Surprise, artikel tersebut juga mendapat sambutan hangat …….wah makin semangat deh buat menulis buku.

Kebetulan dikantor, saya juga mendapat tugas tambahan memimpin sebuah program “Learning Forum”di jajaran top management… mau tidak mau saya baca buku-buku management mutakhir…. Semangat menulis makin menggebu dengan tema yang semakin mengerucut…..  Karena hal inilah, saya meninggalkan komunitas blogger untuk sementara waktu… selain kesibukan kantor, juga larut dalam penyusunan buku….

Setelah naskah buku kira-kira selesai 75 %, saya baru berfikir ini buku mau ditawarkan kemana ? ada nggak yang mau menerbitkan ? saya lalu konsultasi dengan beberapa kenalan jurnalis beneran…. Bagaimana proses penerbitan sebuah buku, hal apa yang harus diperhatikan…… Atas konsultasi ini saya menyempurnakan naskah saya, dan untuk masalah proses penerbitan… penjelasan & sarannya jurnalis beneran itu tergolong umum misalnya :

  1. Buku dibuat dengan tujuan apa ?
  2. Siapa target marketnya ?
  3. Buatlah tulisan dengan karakter yang kuat.
  4. Finalisasi naskah
  5. Menghubungi penerbit untuk menawarkan buku tsb
  6. Presentasi dari segi ide dan pemasaran
  7. Bila oke, mendapat tawaran kontrak kerjasama
  8. Buku terbit, mendapat royalti

Point 1 sampai 3, itu berhubungan dengan kualitas dan kelas penulis. Untuk meyakinkan kualitas, saya mengirim sampel satu dua bab untuk dibaca anak, kerabat dan teman…. Saya tanya pendapat dan masukannya ? apakah menarik ? apakah mengerti ? apa sarannya ? dll.  Dari respon tersebut saya coba perbaiki naskah saya … ini terus dilakukan berkali-kali.

Untuk point 4 dan 5 walau sederhana tapi saya masih agak bingung.  Finalisasi naskah itu sampai seperti apa ? bagaimana menghubungi penerbit ? apa tipe-tipe kontrak kerjasama dengan penerbit ? Lalu kalau sekedar kirim naskah, kapan naskah kita dapat giliran dibaca/dievaluasi oleh staf redaksi ? Pasti puluhan atau ratusan naskah mengalir ke redaksi.  Penerbit seperti apa yang layak diajak kerjasama oleh penulis pemula seperti saya ?

Mencari penerbit sebenarnya tidak sulit.  Kita tinggal buka internet dengan bantuan search engine, nama dan alamat penerbit bisa kita dapatkan.  Tapi saya lakukan berbagai cara, selain lihat di internet, saya juga coba hubungi teman yang mungkin tahu atau pernah berhubungan dengan penerbit. Dari sini saya mendapat sedikit gambaran mengenai beberapa penerbit.

Membuat bahan presentasi untuk menjual ide buku ini, sebuah seni tersendiri.  Kita harus dapat menyampaikan apa bedanya buku kita dengan buku lain. Apa manfaatnya bagi pembaca, siapa yang akan membeli, kenapa mereka bakal membeli, dll.

Walaupun penulis pemula, saya pede aja untuk menawarkan ke beberapa penerbit lalu bisa membandingkan mana tawaran kerjasama yang paling cocok untuk saya. Kemudian supaya naskah saya tidak terkirim sia-sia, saya juga mencari tahu orang yang tepat yang perlu dihubungi di penerbit yang kita tuju.

Naskah 90% selesai, contact person penerbit sudah didapat…. maka saya mulai menghubungi penerbit.  Ada penerbit kondang yang saya hubungi hanya by email (dari search engine) tetapi responnya sangat hangat.  Ada yang melalui jasa teman mendapatkan nomor penting staf redaksi responnya juga baik sekali, ada yang langsung bertemu dan responnya sangat baik, dan tentunya ada juga yang dihubungi tetapi tidak merespon.

Namun menurut saya hasil yang didapat cukup “Surprise !”, perkenalan dan ide buku saya disambut baik oleh orang-orang penting di 3 penerbit kondang. Langkah berikutnya adalah mengirim naskah lengkap, berdoa, dan persiapan negosiasi kerjasama.  Kalau masih ingin mengikuti …..tunggu dibagian kedua ya….

Iklan

Read Full Post »

Pastinya kita pernah merasa … kok dia nggak ngerti-ngerti ya ? Kok tulalit banget sih ? kok nggak nyambung-nyambung ya ngomong ama dia ? Atau…. Kenapa sih dia nggak mau berubah ?

Jangan frustrasi ! ingatlah pada nasehat klasik : “Kalau anda mau merubah orang, rubahlah diri anda sendiri dulu. Kalau anda mau didengarkan, cobalah mendengarkan terlebih dahulu”.

Ya mendengarkan, merupakan kunci untuk didengarkan, kunci untuk mempengaruhi orang lain.  Namun sayang, kebanyakan orang merasa sudah mendengarkan, padahal dia belum benar-benar mendengarkan….. maka yang terjadi seperti judul tulisan dan alinea pertama tulisan ini.

Seperti apa sih tingkatan kemampuan mendengarkan itu ? dan anda bisa introspeksi berada dimana kemampuan mendengarkan anda ? coba simak berbagai tingkatan mendengarkan  seperti berikut ini.

1. Tidak mau mendengarkan !

  • Ini paling parah…. Kalau tidak ada niat, bagaimana kita bisa mendengarkan.
  • Orang yang menolak mendengar keterangan/penjelasan orang lain, sangat-sangatlah berbahaya….
  • Selain menyakiti orang lain, juga bisa terjebak dalam kesombongan yang akhirnya membodohi diri sendiri.

2. Berpura-pura mendengarkan !

  • Ada yang menganggap ini lebih parah dari yang pertama.  Tidak usah dipermasalahkan… ini bukan urutan baku.
  • Tapi intinya, disini sudah ada niat untuk tidak menyakiti orang lain, tapi kesombongan/ ke “sok tau”an nya masih tinggi.
  • Dampaknya sama saja dengan yang pertama, menyakiti dan membodohi diri sendiri.

3. Mendengarkan dengan selektif !

  • Kebanyakan orang berada disini.
  • Sayangnya, kebanyakan orang di golongan ini sudah merasa mendengarkan, sehingga tidak sadar akan kekurangannya.
  • Sifat ini memang berhubungan dengan sifat dasar manusia pada umumnya yaitu adanya Ego-Defense mechanism (mekanisme perlindungan ego).
  • Artinya, kita cenderung menolak sesuatu yang tidak nyaman, dengan kata lain hanya menerima yang nyaman bagi diri kita.  Jadi dalam mendengarkan, kita  biasanya hanya mendengar yang cocok dengan pendapat kita, sedangkan yang berbeda atau yang tidak kita sukai … kita abaikan.
  • Contoh : Saat mendengar feeback, kita cenderung menolak negative feedback… dan menganggap : “ah…. Mereka tidak kenal dengan saya…. Itu nggak bener… itu data ekstrim… sebaiknya diabaikan saja”.

4. Mendengarkan sambil dalam hati berargumen !

  • ini sebenarnya mirip dengan no tiga di atas…… dan sering kita juga tidak menyadarinya.  Padahal ini hambatan terbesar dalam kemampuan mendengarkan.
  • Saat lawan bicara menyampaikan pendapatnya….. kita sudah sibuk dengan argument kita sendiri…. Gawatnya biasanya kita berfikir dalam hati  ”ah…. Kamu salah…..”, atau “ah… bukan begitu…”, dll.
  • Jadi kuping kita mendengar, tapi hati dan pikiran kita sibuk dengan argument kita sendiri…..  kita mendengar tetapi sambil mendebat dalam pikiran kita.
  • Hal ini terjadi karena kesombongan kita juga, kita sudah merasa mengerti maksudnya dan kita juga merasa lebih benar darinya.
  • Jadi haslinya bisa sama dengan mendengarkan selektif atau bahkan sama saja dengan tidak mendengarkan, karena saat teman kita bicara, kita juga berbicara sendiri dalam hati dan pikiran kita.  Alhasil….. salah persepsi, silang pendapat.

5. Mendengar dengan Empati.

  • Nah, yang paling tinggi tingkatan mendengarkan adalah mendengar dengan Empati. Kita benar-benar mendengarkan, mencoba mengerti konteksnya secara utuh.
  • Kita hilangkan dulu argument kita, totally focus pada apa yang disampaikan. Cermati kata-katanya, bahasa tubuhnya, maksud kalimatnya, konteks pembicaraannya. Fokus mendengarkan….hilangkan pikiran yang lain.
  • Tapi, kita juga tidak boleh larut dalam emosi pembicara.  Jangan terpancing emosi bila lawan bicara kita emosi (menangis, marah, dll).  Kita mengerti keadaannya.  Ini penting, agar kita tetap bisa berusaha obyektif/rasional.

Sedikit tips agar bisa mendengar dengan empati antara lain sbb :

  1. Dengarkan semua kata-kata
  2. Lihat juga bahasa tubuh.
  3. Pahami maksudnya, dengan bertanya bila ada yang kurang mengerti atau ragu-ragu
  4. Ulangi kata-kata penting ybs sebagai langkah konfirmasi dan bukti mendengarkan. Sedapatmungkin dengan mengulang kata-katanya, jangan merubah.
  5. Jangan menyimpulkan, Jangan menghakimi (kamu salah, or kamu benar)…..dengarkan…dengarkan ….. sekali lagi fokus mendengarkan.
  6. Jangan cepat-cepat menasehati
  7. Jangan sok tahu atau sok yakin bahwa kita punya pengalaman yang sama…..(oh saya juga pernah……) dan malah balik mendominasi cerita pengalaman kita
  8. Dengarkan sampai ybs merasa sudah selesai menyampaikan maksudnya

Nah, bagaimana pengalaman dan kemampuan mendengarkan anda ? atau mau menambahkan tips mendengar yang baik ? silahkan……

Read Full Post »