Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Bisnis’ Category

Saat ini innovasi diberbagai bidang seperti bidang bioteknologi, nanoteknologi, atau juga dibidang kedokteran, pangan, teknologi informasi, dll semakin pesat.  Apakah kita hanya akan menjadi pengguna, atau bahkan hanya sebagai penonton ?

Dengan perkembangan teknologi internet, web, dan komunitas berbasis web, disertai juga kenyataan bahwa sumber daya semakin langka dan mahal, informasi semakin terbuka dan menyebar dengan cepat, mampukah Indonesia bersaing dengan negara maju ?

Kalau kita ingin mengejar ketertinggalan, kita harus mampu menghasilkan juga suatu terobosan, sesuatu yang bisa menjadi trend setter ! Dimana salah satu peluang Indonesia ?

EMPAT LENSA merupakan sebuah pengembangan pemikiran anak bangsa, suatu  innovasi luar biasa dalam bidang kepemimpinan. Karena merupakan pemikiran yang inovatif, maka banyak hal kontroversial di dalamnya, banyak yang terkesan tidak masuk akal, tidak realistis…. Tapi begitulah sifat suatu terobosan ….. ia memutarbalikkan kebiasaan kita saat ini.

Dengan kacamata EMPAT LENSA praktek-praktek  manajemen yang umum dilakukan saat ini seperti kontrol, presisi, disiplin, stabilitas, struktur formal dan berjenjang, strategi jangka panjang, hukuman dan penghargaan, menjadi tidak relevan lagi.

Ubahlah cara pandang melihat pengetahuan, melihat sistem atau lingkungan kita, melihat data dan melihat manusia. Dengan cara pandang baru ini, kita akan belajar dengan efektif dan terus menerus meningkatkan diri, membagi kewenangan secara optimal pada semua pihak, mengambil keputusan secara tepat dan bijak.

EMPAT LENSA membutuhkan keterbukaan cara berfikir, membutuhkan keberanian luar biasa dalam menerapkannya.  Namun hasil yang didapatkan sungguh mahadahsyat.  Dengan tehnik kepemimpinan yang tepat, kreativitas, kegigihan, antusiasme dan sinergitas akan menghasilkan suatu energi yang luar biasa, suatu hasil yang diluar ekspektasi, yang tak pernah anda bayangkan.

Ini adalah sebuah opportunity bagi bangsa kita bila ingin melompat jauh mengejar ketertinggalan. Bukan menjadi bangsa yang ikut-ikutan….. Anda mau menjadi pemenang di dunia baru ? Adopsilah EMPAT LENSA !

Dapatkan segera buku EMPAT LENSA di toko buku kesayangan anda !

Read Full Post »

Masih hangat dalam ingatan kita, bagaimana pemerintah melalui RPM Konten Multimedia ingin mengontrol internet, facebook, dll.

Dengan teknologi internet, web dan maraknya komunitas berbasis web ini, menyebabkan semakin bebasnya orang berekspresi, dan  juga semakin terbukanya kesempatan orang menjadi pemimpin, menggiring opini publik.

Kita sudah sama-sama menjadi saksi, bagaimana komunitas facebooker mengawal dan mengarahkan kasus bibit chandra…

Perkembangan komunitas dan juga bisnis bisa menjadi sangat liar dan tidak lagi dibatasi oleh jarak dan waktu. Saat ini siapapun, termasuk anda, mempunyai peluang menjadi pemimpin yang efektif, pemimpin yang berskala global.  Dapatkah anda bayangkan, bagaimana perkembangan organisasi atau komunitas serta konsep bisnis baru ke depan dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih ?

Sayangnya perubahan yang terjadi, tidak diikuti dengan perubahan praktek-praktek manajemen dan kepemimpinan.  Pemimpin yang masih menginginkan kontrol yang ketat akan menjadi tidak efektif dalam kondisi saat ini.

Bayangkan bagaimana anda bisa mengontrol kontent dari facebook, twitter, dlsb ? Tentu sangat sulit ! Komunitas melakukan kontrol dan koreksinya sendiri.  Ini pun terjadi dalam organisasi kita, dalam komunitas kita.  Sulit kita melakukan kontrol terhadap karyawan atau anggota yang tersebar secara geografis, dan mempunyai akses informasi yang mudah didapat, serta ditambah perubahan lingkungan yang sangat cepat.

Usaha kontrol walaupun masih memungkinkan, namun menjadi sangat tidak efektif dan efisien.  Mengapa tidak sebaiknya mereka diberi wewenang lebih (delegasi), dan kebebasan berkreasi ? Namun seberapa besar kita beri kebebasan ? sejauh mana kita memberi rambu-rambu ?

Perubahan dunia, tentu memerlukan perubahan cara memimpin.  Perubahan cara memimpin tentu memerlukan perubahan  paradigma jika ingin tetap efektif.

Paradigma Empat Lensa memberikan kesempatan bagi anda untuk lebih adaptif terhadap perubahan yang terjadi.  Dengan Empat Lensa kita akan lebih memahami pengetahuan dan pembelajaran, lingkungan, data dan manusia.

Dengan membaca Empat Lensa SBY diharapkan dapat lebih meningkatkan efektivitas keputusannya, misalnya  dalam kasus RPM Kontent multimedia, Kasus Century, ataupun kasus-kasus lainnya.  SBY juga perlu berfikir ulang apakah perlu menggemukkan kabinetnya atau merampingkan kabinetnya.

Selain itu SBY ataupun presiden pengganti nantinya mungkin harus lebih berani memberi kesempatan pada anak-anak muda agar lebih kreatif, cepat bertindak dan memahami perubahan dunia saat ini.  Jangan anggap anak muda tidak dapat berfikir bijak.

Empat lensa mungkin terkesan nyeleneh, kontroversial, terlalu idealis, kurang aplikatif. Namun, jangan salah…., kami sudah membuktikan filosofi empat lensa sangat efektif diterapkan.

Kalau Indonesia mau melakukan lompatan jauh mengejar ketertinggalan, maka terobosan paradigma ini merupakan kesempatan bagi kita.  Ya…. ini sebuah terobosan, sebuah lompatan, untuk hasil yang bukan sekedar baik…tapi untuk hasil yang Maha Dahsyat !  Ayo Indonesia Bangkit dan kejar ketertinggalan.

Jangan ragu untuk berubah, jadilah yang terdepan ……mengutip nasihat AA Gym : mulailah dari diri sendiri, mulailah dari yang kecil, mulailah hari ini……

Bacalah Buku : Empat Lensa – Karya Iman Progoharbowo !

Di toko buku kesayangan anda

Harga  Rp. 59.000,-

Read Full Post »

Coba kita simak kembali pernyataan Sri Mulyani (SM) yang merasa menang dengan keputusannya mundur dari kabinet.  Benarkah Ia menang ? Kalau Ia menang, siapa yang Ia kalahkah ? ataukah sebenarnya Ia kalah ?

Saya terus terang termasuk pengagum SM, buat saya Ia bukan saja wanita yang pandai, tapi juga mempunyai integritas yang tinggi, prinsip yang kokoh, kuat namun luwes dalam menempatkan diri.  Tak perlu dijelaskan mengapa demikian, kiprahnya sudah banyak diketahui khalayak.

Yang ingin saya soroti disini, apakah Ia benar-benar menang dengan keputusan mundur seperti yang diklaim SM di sebuah kampus ?

SM mengatakan menang karena merasa ia tidak terseret dalam kartel politik yang sarat konflik kepentingan.  Ya….. dalam hal ini SM tidak terkalahkan oleh tekanan kepentingan tersebut.  Namun apakah layak disebut pemenang ?

Bila kita cermati, kemenangan SM ini barulah sebatas kemenangan diri, tetapi belum merupakan kemenangan publik, atau secara sosial SM belum dapat dikatakan menang….

Karena SM memilih mundur, dan SM tidak mampu mengubah dan memperbaiki lingkungannya agar prinsip dan nilai-nilai SM yang baik dapat ditularkan bahkan diadopsi oleh lingkungannya. SM kalah dalam lingkungan terdekatnya…..

Sangat disayangkan, Tokoh SM harus mundur dan kalah oleh konflik kepentingan yang ada.  Namun apakah kekalahan ini sebuah kemenangan tertunda ? Saya masih berharap demikian....

Semua itu tentu berpulang pada dampak dan reaksi keputusan mundurnya SM , serta upaya lanjutan SM untuk mengimplementasikan idealismenya pada masyarakat luas, khususnya Bangsa Indonesia.

Apa yang SM katakan di kampus tersebut, memang sangat bermakna, selain menyebutkan buruknya iklim politik negeri ini,  Ia juga menyebutkan adanya kepalsuan dalam demokrasi saat ini.  Seolah-olah demokrasi, tetapi sebenarnya bukan, bahkan ia menyebutkan ini seperti orde baru…..

Kalau dampak pidato ini terus bergulir dan berdampak pada perubahan….. tentu ada harapan keputusan SM adalah sebuah kemenangan tertunda. Tapi jika SM berhenti sampai disitu…..bisa jadi Ia benar-benar kalah secara publik.

SM adalah seorang tokoh, Ia punya tanggung jawab untuk terus berjuang memperbaiki keadaan  ini…… Ayo ….. Jangan berhenti sampai disini…..

Jangan merasa menang dengan tindakan mundur…. perjuangan masih panjang… Indonesia perlu berubah dan bangkit…….berjuanglah terus SM…  bongkar dan basmi praktik-praktik politik kotor di negeri ini……yakinlah banyak yang mendukung hati nuranimu…..

Salam- progoharbowo

Read Full Post »

SBY, Menteri Lingkungan & Menteri  Perumahan secara bersama-sama  menghentikan pembukaan lahan baru bagi pengembang perumahan di seluruh P. Jawa.  Keputusan ini dibuat untuk menghentikan peningkatan kerusakan lingkungan yang sudah sangat memprihatinkan.

Kalimat tersebut tentu saja hanya angan-angan dan harapan saya dan juga mungkin sebagian besar pencinta lingkungan.  Mungkinkah terjadi ? Tentunya masih sangat memungkinkan bila Presiden punya ketegasan, punya semangat untuk melakukan keputusan terobosan (bukan cari aman dan popularitas) disamping tentu saja  punya visi yang kuat tentang penyelamatan dan perbaikan lingkungan.

Anda tahu seberapa parah kerusakan pulau Jawa ?

–          Pada akhir tahun 1980-an, tutupan hutan alam di Jawa hanya tinggal 0,97 juta hektar atau 7 persen dari luas total Pulau Jawa.

–          Pulau Jawa sejak tahun 1995 telah mengalami defisit air sebanyak 32,3 miliar meter kubik setiap tahunnya.

–          Sebagian besar DAS di Jawa kondisinya kritis akibat kerusakan lingkungan pada hulu dan hilir.

–          saat ini di Jawa terdapat 141 DAS. Dari jumlah tersebut tercatat ada 116 DAS yang kritis. Bahkan 16 DAS masuk dalam aktegori kritis 1 alias sangat kritis

–          Dan masih banyak lagi data kerusakan lingkungan….

Kalau kita berjalan dari jakarta ke bogor, terus terjadi pengembangan lahan untuk perumahan, tengok mulai dari cililitan sampai cibubur, cileungsi, sekarang cikeas juga, cibinong, hingga sentul dan terus hingga mega mendung, cisarua, cipanas dan cianjur…

Kalau kita berjalan ke arah cikampek… juga demikian, mulai dari pondok gede perumahan sambung-menyambung sampai bekasi, cibitung, cikarang, kerawang… kalau diteruskan… nggak ada lagi lahan hijau.

Andaikata saya menjadi SBY :

  • Saya akan panggil menteri perumahan, menteri lingkungan untuk tidak lagi memberikan izin bagi pengembang membuka lahan perumahan kecil-kecil tradisonal, untuk menyelamatkan P Jawa.
  • Untuk perumahan kecil harus dibangun vertikal.  Bangunan vertikal, hemat lahan hijau.  Bila membangun perumahan biasa (non vertikal), harus dengan proporsi minimal 30 % bangunan dan 70% lahan hijau, buatlah harga yang mahal…. Hingga hanya orang kaya yang mampu beli rumah non vertikal dan ia diberi beban untuk menyelamatkan lingkungan……

Perumahan vertikal selain menghemat lahan, juga menghemat sarana transportasi dan perhubungan, rumah tidak dibangun di daerah terpencil jauh seperti sekarang ini yang merusak daerah aliran sungai, atau daerah serapan air lainnya.  Rumah sederhana selain lokasi terpencil, sarana jalan minim… menimbulkan kekumuhan.  Akibatnya sulit dan mahalnya biaya distribusi dan transpotasi….menjadi beban ekonomi baru….

Ingin rasanya menikmati P Jawa dengan hutan alami dan kebun yang hijau… kekumuhan hilang, jalan-jalan halus dan rapih…. dengan kerindangan dikiri kanan……

hmm….. anda setuju ? atau siapa bisa menyempurnakan mimpi ini……..

Pak SBY jangan lagi sibuk dengan jargon-jargon, jangan lagi sibuk dengan pencitraan … ayo buat langkah nyata dengan keputusan tegas…. inovatif…..

Read Full Post »

Pernahkah anda memperhatikan saat mengisi bensin, lalu kran slang bensin yang dipegang oleh petugas berhenti-berhenti mengeluarkan bensin ?

Terus terang saya penasaran, sering sekali hal ini terjadi,  khususnya di awal pengisian, setelah petugas menyatakan “Dari nol ya pak !!”

Setelah kalimat “dari nol ya pak” meluncur dari mulut petugas…..lalu mulailah mengalir deras bensin dari slang tersebut ke tangki mobil kita, dan sekejap bunyi klek-klek……si slang tersebut tiba-tiba berhenti mengeluarkan bensin (penguncinya jatuh ke bawah)… dan secepat kilat sang petugas menaikkan lagi penguncinya untuk mengalirkan kembali bensin dari slang…..

Kadang ini terjadi berkali-kali dalam waktu berdekatan, sebelum akhirnya mereka “menguasai keadaan” dan akhirnya slang tersebut nggak ngadat lagi sampai akhir pengisian.

Ketentuan pengisian harus dari nol, tentu saja menjadi sia-sia karena setelah stop berkali-kali….. mereka meneruskan pengisian tanpa mengulang dari nol !

Apakah ini upaya mereka untuk “mencuri” hak kita sepersekian liter ? Siapa yang dapat menjelaskan fenomena pengisian bensin ini ? kalau ternyata kekhawatiran saya ini benar, praktek ini harus diberantas…..kalau ternyata bukan… mengapa kok jadi kebiasaan ? dan menurut saya ini kebiasaan yang aneh…..

Salam,

Read Full Post »

Lho Kok ? benar… bekerja di perusahaan makanan sehat membuat saya dapat meningkatkan gaya hidup sehat. Saya sangat-sangat bersyukur, karena tanpa dukungan dan program dari kantor kita sulit berdisiplin.

Setidaknya, dengan peraturan dan monitoring kesehatan yang dilakukan selama kita hidup di kantor, membantu kita mempertahankan kesehatan dan kebugaran.  Lima hari dalam seminggu dengan kebiasaan hidup lebih sehat, tentu sangat berpengaruh.

Mau tau apa saja yang menjadi program kesehatan karyawan di kantor saya ? Berikut contohnya :

  1. Tidak ada gorengan dalam snack meeting.  Snack meeting berupa biskuit rendah kalori, salad buah, rujak, dll.
  2. Tidak ada gorengan dan kerupuk saat makan di kantin kantor. Menu sehat menjadi santapan sehari-hari di kantin tanpa gorengan, jeroan, gulai dlsb.  Kolesterol, gula, tekanan darah, asam urat lebih terkendali.
  3. Disediakan Gym (lengkap dengan peralatannya) di kantor.
  4. Malas nge-gym di kantor, kantor bekerjasama dengan Celfit untuk keanggotaan karyawan.
  5. Disediakan juga kegiatan disertai instruktur antara lain Yoga, Hip Hop, dll di kantor bagi yang berminat satu minggu satu kali.
  6. Ada juga olah raga bela diri Aikido
  7. Untuk olahraga konvensional seperti badminton, futsal, sepakbola juga disediakan
  8. Seluruh area kantor dan pabrik bebas rokok
  9. Lift tidak dianjurkan digunakan untuk naik 3 lantai, kecuali membawa barang, orang sakit atau ibu hamil.
  10. Pemeriksaan kesehatan (general Check up) lengkap setahun sekali, untuk kasus tertentu bisa setahun 2 kali
  11. Pemeriksaan kebugaran tubuh dengan alat inbody, yang mengukur Body mass index dilakukan setiap 3 bulan sekali !
  12. Adanya klinik lengkap dengan dokter jaga

Monitoring kondisi kesehatan ini sama sekali tidak dikaitkan dengan performance appraisal.  Semua dilakukan sukarela….., perusahaan hanya memberi feedback…. Tidak ada paksaan, tidak ada punishment…

Kok ada ya kantor seperti ini ? ya ini bener-bener nyata…. Kantor kami adalah perusahaan makanan kesehatan dengan visi “inspiring nutritious life”…..Visi ini tentu bukan sekedar slogan, selain produk-produknya yang mengisnpirasi banyak orang untuk hidup sehat…. Kita berharap para karyawan pun menjadi duta bagi menyebarnya pola hidup sehat ……

Anda tertarik ?

Read Full Post »

Dalam tulisan terdahulu saya menjelaskan bahwa masalah miss-komunikasi yang kadang kita anggap sepele, dapat menimbulkan bencana yang tak terduga…. Karena kebanyakan dari kita hanya melihat masalah di permukaan saja. Memang bukanlah hal mudah untuk mendapatkan realita kebenaran.

Ada banyak hal yang menyebabkan terjadinya fenomena gunung es dalam komunikasi . Namun dalam kesempatan ini saya akan menjelaskan 2 faktor yang menurut saya sangat penting dan cukup besar peranannya. Kedua faktor tersebut adalah :

1. Pemimpin tidak peka …

Banyak dari kita merasa bahwa kita mampu memimpin, karena kita sudah memberi arahan dan instruksi yang jelas, menyampaikan target yang menantang, memimpin rapat dengan efektif, bahkan menawarkan bantuan jika ada kesulitan.

Tapi terkadang kita tidak menyadari bahwa komando kita, target yang ditetapkan, perkataan kita, sikap kita, telah menimbulkan emosi negatif seperti keresahan, kekecewaan di kalangan karyawan. Jalan pintasnya kita menyalahkan karyawan ….

Jangan menganggap sepele atas timbulnya emosi negatif di lingkungan kerja. Bila kita anggap keresahan dan kekecewaan tsb masalah sepele, maka sebenarnya yang terjadi adalah kita membangun tembok pemisah komunikasi yang kokoh.

Bila hal ini dibiarkan, kebenaran atau realita akan semakin jauh terlihat. Bahayanya kalau kepekaan kita kurang ….. yang terlihat adem-ayem, yang manis-manis, yang baik-baik…..tapi …..selanjutnya …. Tiba-tiba terjadi bencana yang tak terduga ….

Oleh karena itu kita perlu berhati-hati dalam gaya kepemimpinan kita. Gaya kepemimpinan komando dan penentu kecepatan walau dalam saat-saat tertentu efektif, namun pada dasarnya gaya ini lebih banyak memberi tekanan, keresahan, frustrasi dan suasana negatif lainnya. Sedangkan gaya pembimbing, demokratis, afiliatif dan juga visioner lebih banyak memberikan suasana positif.

Setiap gaya ini boleh digunakan termasuk yang bernuansa negatif, hanya saja harus digunakan pada saat dan kondisi yang tepat, bila tidak tepat …..walaupun sifat gaya tersebut bernuansa positif …. hasilnya belum tentu positif, demikian juga sebaliknya. Bila karena situasi tertentu kita perlu menggunakan gaya yang bedampak emosi negatif … maka kita harus bisa mengimbanginya dengan hal-hal yang bersifat positif.

Mohon maaf saya tidak akan menyampaikan penjelasan lebih detail mengenai masing-masing gaya tsb disini (ciri-ciri, dampak atau kekuatan/kelemahannya, dan saat pengunaannya). Bila tertarik dengan detail gaya kepemimpinan ini, silahkan membaca buku “The New Leaders” karya Daniel Goleman.

Disamping gaya kepemimpinan, masih ada beberapa hal yang dapat menghalangi kita untuk melihat realita kebenaran atau kenyataan. Misalnya, “mekanisme perlindungan ego”. Tanpa kita sadari kita sering melindungi diri kita secara emosional. Agar lebih nyaman dan mudah menghadapi hidup, kita menerima sebagian informasi saja, sedangkan informasi penting lainnya yang membuat kita tidak nyaman tanpa kita sadari kita buang atau sisihkan.

Mekanisme perlindungan ego ini akan membangun persepsi yang dipengaruhi baik oleh nilai-nilai /prinsip hidup kita, latar belakang pendidikan dan lingkungan kita, harapan kita, dll.   Perbedaan-perbedaan tersebut juga merupakan tabir dalam komunikasi.

Kalau anda baca buku best seller terbaru “Black Swan” anda mungkin akan mengernyitkan dahi …. Menurut Nassim Nicholas Taleb, …..Pengetahuan, teori, sejarah atau pengalaman kita sebenarnya mempersempit pandangan kita. Para pakar analis …. Menggiring kita berfokus pada cara berfikir tertentu …… padahal banyak kejadian tak terduga karena hal-hal yang luput dari perhatian kita….. Wah yang terakhir ini lebih berat ….., lupakan dulu saja… hehehe…coba kita simak faktor kedua berikut …

2. Sistem yang dibangun menakutkan.

Selain gaya, karakter dan kemampuan leader…. Harap diperhatikan pula bagaimana anda membangun system yang mempengaruhi perilaku karyawan anda. Bila suasana menakutkan terbangun, maka keterbukaan komunikasi yang diharapkan tidak akan bisa terjadi. Tidak peduli seberapa baik anda bersikap.

Sistem yang menakutkan menurut Dr. Edward Deming, umumnya adalah sistem “Reward & punishment” termasuk di dalamnya sistem “Performance appraisal”. Kita harus berhati-hati bila ingin menerapkan sistem tsb. Sistem ini seperti ranjau …. Bisa efektif, tapi bisa sangat bahaya bagi perusahaan. Bahkan, Dr Edward Deming & Pieter Scoltes lebih menyarankan meninggalkan sistem tersebut .

Disatu sisi kita melihat reward & punishment sangat efektif untuk memotivasi dan mendisiplinkan karyawan. Tapi pernahkah anda sungguh-sungguh mencoba pendekatan lain untuk memotivasi karyawan ? Cara motivasi tanpa “stick & carrot” ini memang lebih sulit ….. membutuhkan leadership skill yang jauh lebih tinggi ….. tetapi sebenarnya sangat-sangat efektif.Selain Munculnya motivasi internal karyawan yang biasanya “luar biasa”, keterbukaan akan terbangun.

Demikian juga dengan sistem performance appraisal. Sehebat apapun metoda performance appraisal, saat karyawan akan mengambil keputusan, berkomunikasi…. Karyawan akan berfikir apa dampaknya pada performance/kinerja saya ? Adalah sangat normal bila masing-masing karyawan lebih mengutamakan kinerjanya (nasibnya).  Sehingga perilaku, keputusan yang diambil akan dihubungkan dengan penilaian kinerja dirinya. Ini juga dapat menjadi tabir dalam komunikasi.

Selanjutnya bagaimana cara mengatasinya untuk menemukan kebenaran ? Dengan melihat penyebabnya seperti yang saya uraikan di atas, maka tentu saja cara mengatasinya adalah :

1. Pemimpin meningkatkan kecerdasan emosi

Gunakan kesadaran diri dan empati untuk memantau tindakan/perilaku diri dan memperhatkan bagaimana orang lain bereaksi. Terbuka terhadap kritik, baik terhadap ide maupun terhadap gaya kepemimpinannya. Aktif mencari umpan balik dan menghargai suara sumbang.

2. Hilangkan Ketakutan !

Selain sikap yang menakutkan harus dibuang jauh-jauh, sistem yang dibangun juga harus mendorong keterbukaan. Ubahlah paradigma bahwa pada umumnya karyawan itu malas, tdk dapat dipercaya, menjadi pada umumnya karyawan ingin bekerja sebaik-baiknya, dapat dipercaya, dll. Lebih toleran terhadap kesalahan, lebih banyak membimbing dari pada menghakimi.

Nah… masalah komunikasi memang bukan masalah sepele…….Bila anda merasa strategy anda sudah cukup bahkan sangat baik, orang-orang anda juga sangat berkompeten, pasar sangat menjanjikan …. Tapi mengapa selalu banyak masalah …… ?

Cobalah introspeksi adakah kita kurang memamahi realita yang ada ? Adakah hambatan-hambatan komunikasi yang terjadi ?

Semoga tulisan ini sedikit memberi inspirasi untuk anda.

Selamat memperbaiki komunikasi ………

Read Full Post »

Older Posts »