Feeds:
Pos
Komentar

Archive for April, 2011

Buang sampah sembarangan, tidak lagi membudaya di Jakarta ! Wah senangnya Jakarta menjadi bersih, tertib dan nyaman. Kapankan hal ini terjadi ? Haruskah menunggu Ahlinya ???

Jakarta bisa menjadi bersih, asal dilakukan dengan ketekunan, keseriusan… bukan politik pencitraan, bukan untuk kepentingan golongan apalagi untuk kepentingan pribadi….. tapi betul betul hanya untuk Jakarta yang bersih !

Ayo kita mulai dengan melibatkan organisasi kemasyarakatan, komunitas pencinta lingkungan dan kebersihan……tidak usah nunggu ahlinya. Kita turun ke lapangan, berbagi tugas… kuncinya bukan program sesaat ! Tetapi kita ciptakan sistem yang berkelanjutan agar budaya bersih terjadi !

Sudah banyak program peduli sungai Ciliwung, bersih-bersih sungai, taman dll…tentu kita patut berterimakasih pada rekan-rekan yang telah menggerakkan program ini….namun saya berandai-andai untuk membuat gerakan yang berbeda… bukan gerakan sesaat…tapi gerakan yang berkelanjutan, gerakan yang akan mengubah Jakarta.

Gerakannya sendiri bisa dilakukan dengan ide yang sangat sederhana, namun realisasi idenya membutuhkan kepemimpinan, komitment dan pengorganisasian yang sangat kuat agar benar-benar efektif mengubah Jakarta dan masyarakatnya……bagaimana caranya ???

Berikut ide sederhana berupa hal-hal kecil yang bisa kita lakukan antara lain :

1.  Membentuk komunitas Relawan yang mau turun ke lapangan untuk bahu membahu mewujudkan Jakarta bersih

2.  Menyepakati standard kebersihan suatu area,  contoh : “Tidak boleh ada sampah berserakan di jalan, trotoar dan halaman”

3.   Membantu tersedianya tempat sampah dan menempatkannya secara tepat di area tersebut baik lokasi, jumlah dan kapasitasnya. Dalam hal ini bisa dijalin kemitraan dengan perusahaan perusahaan atau donatur pribadi.

4.  Membantu menyadarkan masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan di area tersebut secara langsung (bukan ceramah, atau seminar dll). Jadi tugas relawan adalah :

  • Mengawasi lapangan
  • Membimbing masyarakat agar berperilaku yg mendukung jakarta bersih, misalnya membuang sampah pada tempatnya.

5.  Memastikan Petugas kebersihan melakukan tugasnya, atau jika memungkinkan relawan terlibat langsung membantu membersihkan area

6.  Menyusun jadwal rutin petugas kebersihan dan pengawas/pembimbing lapangan, minimal jadwal 3 bulanan.  Gerakan ini bersifat rutin bukan sesaat !

7.  Secara berkala melakukan evaluasi hasil gerakan ini, dan memperbaiki cara-cara pengorganisasian sehubungan dengan kenyataan dan perkembangan yang terjadi di lapangan.

8.  Tentunya organisasi juga bisa dikembangkan sesuai kebutuhan. Fungsi-fungsi bisa terbagi menjadi fungsi petugas kebersihan, pengawas, pengadaan sarana, kemitraan, administrasi, penjadwalan, dll. Namun sekali lagi organisasi ini bukan berorientasi keuntungan… ini kerja sosial… murni idealisme jakarta bersih !

9.  Karena sumber daya tentunya ada batasnya, maka gerakan ini harus dimulai dari area atau wilayah kecil sebagai fokus program. Misalnya kita mulai dengan Daerah kota tua  sebagai daerah wisata.  Batasan wilayah percontohan  dapat kita tentukan dengan batasan kelurahan (pinangsia dan roa malaka), atau batasan jalan raya, kali atau apapun disesuaikan dengan sumber daya yang ada.

Gerakan ini juga bisa di duplikasi disetiap wilayah, misalnya jakarta timur, selatan, pusat, dll. Saya yakin gerakan ini akan  segera menyebar, jika area percontohan berhasil dan tentunya banyak sekali masyarakat yang peduli kebersihan lingkungan ……

Diharapkan setelah perilaku masyarakat berubah, sarana dilengkapi, petugas yang dibutuhkan akan sangat berkurang, Relawan bisa mundur teratur… dan selanjutnya dikembalikan kepada pemerintah daerah dalam pengelolaannya.

Perda yang mengatur denda terhadap buang sampah sembarangan bisa diterapkan…..karena sarana dan perilaku sebagian besar masyarakat dan aparat telah berubah dan impian jakarta menjadi bersih pasti terwujud…..

Kalau saya jadi Gubernur tentu lebih mudah menggerakkan aparat dan masyarakat , dan sebenarnya memang ini tugas gubernur, namun sayang saya bukanlah gubernur…..… daripada  capek nunggu ahlinya bergerak…jadi saya berfikir apa yang bisa kita lakukan…..

Mungkinkah ??? semua tergantung kita… apakah anda mau bergabung menjadi Relawan Laskar Bersih ini ???  atau anda mau menyempurnakan ide ini…… silahkan……berikan sumbangsih mu untuk masyarakat dan lingkungan….

Nggak usah nunggu ahlinya…. Capek !

Iklan

Read Full Post »

Saya kok makin geram ya dengan kondisi Kota Jakarta yang semakin kotor dan macet! di jalan protokol di jalan tikus  apalagi di pasar, terminal…. kotor dan macet seolah jadi budaya Jakarta. Malu bila kita bandingkan dengan kota-kota besar di negara-negara lain, jakarta semakin tertinggal.

Kemana para aparat pemda ? apakah mereka tutup mata dan telinga ? banyak hal yang bisa dilakukan tetapi mereka seperti tidak melakukan apa-apa…. Padahal bang Foke dan aparatnya cukup fokus kerjakan masalah macet dan banjir ! berhasil dalam 2 hal ini, bang foke akan dikenang dan diapresiasi luar biasa.

Masalah transportasi massal untuk mengurangi kemacetan, tak kunjung tuntas…. Bolak balik uji kelayakan dan proses tender…… waktunya juga lambaatt… sekali. Pembangunan sarana jalan tol dan non tol….. tidak ada ketegasan, keputusan maju mundur dan sangat lambat……semua keputusan tergantung untung rugi bagi para pejabat terkait, bukan kepentingan masyarakat yang didahulukan. lihat tulisan terdahulu

Namun diluar proyek-proyek trilyunan itu, sebenarnya banyak hal yang masih bisa dilakukan dalam meningkatkan kemampuan mikro manajemen para aparatnya Bang Foke.   Apakah tidak bisa digerakkan oleh bang Foke agar para walikota, para camat dan bahkan lurah untuk membuat daerahnya bebas kesemrawutan. Saat ini rasanya, kalau di terminal dan pasar…. kotor ,semrawut … itu lumrah…..

Kalau saya jadi bang Foke, saya akan start agar setiap walikota secara terencana membuat sasaran kelurahan/kecamatan bebas kesemrawutan. Misalnya saja  dengan pendisiplinan perilaku angkutan umum dan masyarakat di terminal, halte, pasar dan pusat keramaian lainnya.

Contohnya di prapatan pasar rebo (dekat kampung rambutan) jakarta timur. Jalan layang, tol, lebar jalan sudah memadai… tetapi kesemrawutan tetap terjadi…tidak ada konsistensi penerapan kedisiplinan para pengemudi angkutan umum dan pedagang kaki lima serta masyarakat sekitar.  Sesekali razia…. hanya sesaat terlihat bersih….rapih…tertib.. namun setelah itu… kembali semrawut. Dan Aparat masa bodoh dengan fenomena ini !

Banyak simpul-simpul kemacetan akibat menyempitnya lajur jalan… contoh jalan raya cakung dua titik simpul kemacetan karena penyempitan jalan yang hanya tinggal 50 meteran tetap tidak dituntaskan bertahun-tahun lamanya… dan hingga kini belum jelas kapan hal ini diselesaikan.

Tentunya para pembaca punya banyak contoh dimana seharusnya pemda setempat bisa melkaukan sesuatu untuk mengatasi kesemrawutan….

Bang Foke… jangan sibuk dengan acara seremonial….. jangan sibuk dengan rapat-rapat tender yang sarat kepentingan…..lakukan sesuatu keputusan dan langkah nyata di lapangan !

Bang Foke kerja lebih keras dan nyata dong !

Read Full Post »