Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘performance appraisal’

Dalam tulisan terdahulu saya menjelaskan bahwa masalah miss-komunikasi yang kadang kita anggap sepele, dapat menimbulkan bencana yang tak terduga…. Karena kebanyakan dari kita hanya melihat masalah di permukaan saja. Memang bukanlah hal mudah untuk mendapatkan realita kebenaran.

Ada banyak hal yang menyebabkan terjadinya fenomena gunung es dalam komunikasi . Namun dalam kesempatan ini saya akan menjelaskan 2 faktor yang menurut saya sangat penting dan cukup besar peranannya. Kedua faktor tersebut adalah :

1. Pemimpin tidak peka …

Banyak dari kita merasa bahwa kita mampu memimpin, karena kita sudah memberi arahan dan instruksi yang jelas, menyampaikan target yang menantang, memimpin rapat dengan efektif, bahkan menawarkan bantuan jika ada kesulitan.

Tapi terkadang kita tidak menyadari bahwa komando kita, target yang ditetapkan, perkataan kita, sikap kita, telah menimbulkan emosi negatif seperti keresahan, kekecewaan di kalangan karyawan. Jalan pintasnya kita menyalahkan karyawan ….

Jangan menganggap sepele atas timbulnya emosi negatif di lingkungan kerja. Bila kita anggap keresahan dan kekecewaan tsb masalah sepele, maka sebenarnya yang terjadi adalah kita membangun tembok pemisah komunikasi yang kokoh.

Bila hal ini dibiarkan, kebenaran atau realita akan semakin jauh terlihat. Bahayanya kalau kepekaan kita kurang ….. yang terlihat adem-ayem, yang manis-manis, yang baik-baik…..tapi …..selanjutnya …. Tiba-tiba terjadi bencana yang tak terduga ….

Oleh karena itu kita perlu berhati-hati dalam gaya kepemimpinan kita. Gaya kepemimpinan komando dan penentu kecepatan walau dalam saat-saat tertentu efektif, namun pada dasarnya gaya ini lebih banyak memberi tekanan, keresahan, frustrasi dan suasana negatif lainnya. Sedangkan gaya pembimbing, demokratis, afiliatif dan juga visioner lebih banyak memberikan suasana positif.

Setiap gaya ini boleh digunakan termasuk yang bernuansa negatif, hanya saja harus digunakan pada saat dan kondisi yang tepat, bila tidak tepat …..walaupun sifat gaya tersebut bernuansa positif …. hasilnya belum tentu positif, demikian juga sebaliknya. Bila karena situasi tertentu kita perlu menggunakan gaya yang bedampak emosi negatif … maka kita harus bisa mengimbanginya dengan hal-hal yang bersifat positif.

Mohon maaf saya tidak akan menyampaikan penjelasan lebih detail mengenai masing-masing gaya tsb disini (ciri-ciri, dampak atau kekuatan/kelemahannya, dan saat pengunaannya). Bila tertarik dengan detail gaya kepemimpinan ini, silahkan membaca buku “The New Leaders” karya Daniel Goleman.

Disamping gaya kepemimpinan, masih ada beberapa hal yang dapat menghalangi kita untuk melihat realita kebenaran atau kenyataan. Misalnya, “mekanisme perlindungan ego”. Tanpa kita sadari kita sering melindungi diri kita secara emosional. Agar lebih nyaman dan mudah menghadapi hidup, kita menerima sebagian informasi saja, sedangkan informasi penting lainnya yang membuat kita tidak nyaman tanpa kita sadari kita buang atau sisihkan.

Mekanisme perlindungan ego ini akan membangun persepsi yang dipengaruhi baik oleh nilai-nilai /prinsip hidup kita, latar belakang pendidikan dan lingkungan kita, harapan kita, dll.   Perbedaan-perbedaan tersebut juga merupakan tabir dalam komunikasi.

Kalau anda baca buku best seller terbaru “Black Swan” anda mungkin akan mengernyitkan dahi …. Menurut Nassim Nicholas Taleb, …..Pengetahuan, teori, sejarah atau pengalaman kita sebenarnya mempersempit pandangan kita. Para pakar analis …. Menggiring kita berfokus pada cara berfikir tertentu …… padahal banyak kejadian tak terduga karena hal-hal yang luput dari perhatian kita….. Wah yang terakhir ini lebih berat ….., lupakan dulu saja… hehehe…coba kita simak faktor kedua berikut …

2. Sistem yang dibangun menakutkan.

Selain gaya, karakter dan kemampuan leader…. Harap diperhatikan pula bagaimana anda membangun system yang mempengaruhi perilaku karyawan anda. Bila suasana menakutkan terbangun, maka keterbukaan komunikasi yang diharapkan tidak akan bisa terjadi. Tidak peduli seberapa baik anda bersikap.

Sistem yang menakutkan menurut Dr. Edward Deming, umumnya adalah sistem “Reward & punishment” termasuk di dalamnya sistem “Performance appraisal”. Kita harus berhati-hati bila ingin menerapkan sistem tsb. Sistem ini seperti ranjau …. Bisa efektif, tapi bisa sangat bahaya bagi perusahaan. Bahkan, Dr Edward Deming & Pieter Scoltes lebih menyarankan meninggalkan sistem tersebut .

Disatu sisi kita melihat reward & punishment sangat efektif untuk memotivasi dan mendisiplinkan karyawan. Tapi pernahkah anda sungguh-sungguh mencoba pendekatan lain untuk memotivasi karyawan ? Cara motivasi tanpa “stick & carrot” ini memang lebih sulit ….. membutuhkan leadership skill yang jauh lebih tinggi ….. tetapi sebenarnya sangat-sangat efektif.Selain Munculnya motivasi internal karyawan yang biasanya “luar biasa”, keterbukaan akan terbangun.

Demikian juga dengan sistem performance appraisal. Sehebat apapun metoda performance appraisal, saat karyawan akan mengambil keputusan, berkomunikasi…. Karyawan akan berfikir apa dampaknya pada performance/kinerja saya ? Adalah sangat normal bila masing-masing karyawan lebih mengutamakan kinerjanya (nasibnya).  Sehingga perilaku, keputusan yang diambil akan dihubungkan dengan penilaian kinerja dirinya. Ini juga dapat menjadi tabir dalam komunikasi.

Selanjutnya bagaimana cara mengatasinya untuk menemukan kebenaran ? Dengan melihat penyebabnya seperti yang saya uraikan di atas, maka tentu saja cara mengatasinya adalah :

1. Pemimpin meningkatkan kecerdasan emosi

Gunakan kesadaran diri dan empati untuk memantau tindakan/perilaku diri dan memperhatkan bagaimana orang lain bereaksi. Terbuka terhadap kritik, baik terhadap ide maupun terhadap gaya kepemimpinannya. Aktif mencari umpan balik dan menghargai suara sumbang.

2. Hilangkan Ketakutan !

Selain sikap yang menakutkan harus dibuang jauh-jauh, sistem yang dibangun juga harus mendorong keterbukaan. Ubahlah paradigma bahwa pada umumnya karyawan itu malas, tdk dapat dipercaya, menjadi pada umumnya karyawan ingin bekerja sebaik-baiknya, dapat dipercaya, dll. Lebih toleran terhadap kesalahan, lebih banyak membimbing dari pada menghakimi.

Nah… masalah komunikasi memang bukan masalah sepele…….Bila anda merasa strategy anda sudah cukup bahkan sangat baik, orang-orang anda juga sangat berkompeten, pasar sangat menjanjikan …. Tapi mengapa selalu banyak masalah …… ?

Cobalah introspeksi adakah kita kurang memamahi realita yang ada ? Adakah hambatan-hambatan komunikasi yang terjadi ?

Semoga tulisan ini sedikit memberi inspirasi untuk anda.

Selamat memperbaiki komunikasi ………

Iklan

Read Full Post »

Ranking dimitoskan bisa memotivasi. Kenyataannya, tidak ada riset yang mendukung ke arah itu.  Yang ada adalah, bukti banyaknya karyawan terdemotivasi karena adanya sistem ranking tsb.

Ranking umumnya merupakan hasil dari evaluasi kinerja (performance appraisal).  Kita membandingkan satu karyawan dengan karyawan lain dengan perbedaan skor/nilainya.  Kenapa berbahaya ? ayo kita lihat dari salah satu teori statistik yaitu variasi.  (untuk lebih mengerti variasi lihat juga tulisan saya terdahulu “Statistik Mengajarkan kita kapan untuk diam”

Dari teori variasi, kita mengenal :

1. variasi normal/biasa : variasi yang disebabkan sistem yang dibangun

2. variasi istimewa : variasi yang disebabkan oleh sesuatu di luar sistem yang dibangun

Misalkan, kita mempunyai 30 karyawan yang tugasnya mencetak kue,  waktu kerja adalah 1jam, dan kita mendapatkan data sbb :

1.  Rata-rata karyawan menghasilkan kue 100/jam, dan kebanyakan berkisar di 80-120 kue/jam/org

2.  Ada 2 orang yang hanya menghasilkan dibawah 60 kue/jam

3.  Ada 1 orang yang bisa menghasilkan hingga 160 kue/jam

Dari data tersebut misalnya (disederhanakan) kita bisa menyimpulkan, variasi normal berkisar antara 80-120.  Artinya, karena faktor-faktor bahan baku (tepung, mentega, gula, telur, dll), peralatan (cetakan, oven, blender, dll), metoda (urutan penuangan, lama waktu blender, lama waktu oven, setting suhu, dll), dan faktor-faktor lain seperti lingkungan (cuaca, dll), dll secara acak akan menghasilkan produktivitas karyawan seperti itu.  Ingat secara acak !

Jadi kita tidak bisa mempertanyakan atau mencari jawaban apakah salah satu faktor di atas yang menyebabkan produksi 80/orang/jam …atau 120/orang/jam.  Ini sama saja seperti kita melempar dadu…. angka 1 sampai 6 akan keluar secara acak.  Kita tidak bisa menganalisa, mengapa dari dadu yang kita lempar, sekarang angka 1 yang ke luar, tadi angka 2 dan apakah dalam dua lemparan kedepan akan muncul angka 6 ? Itu semua acak.  Sama dengan produksi karyawan di atas…. hari ini 80 besok 110 ….kemarin 99 … semua acak.

Oleh karena itu kita hanya bisa menyimpulkan dari sistem yang kita bangun, karyawan akan bervarisasi secara normal dalam range 80-120 kue. Suatu saat seorang karyawan bisa menghasilkan 80, bisa 90, lain waktu bisa 100 atau bisa 120….. acak karena variasi sistem.

Kalau kita tidak puas dengan range tsb, maka yang harus dilakukan adalah mengubah sistemnya.  Misalnya  : metoda diubah, alat diperbaiki, dll.  Tapi kita tidak bisa langsung menghakimi karyawan atau menganggap karyawan yang menghasilkan 120 lebih baik dari yang 100 dan lebih baik dari yang 80.  Mereka menghasilkan karena sistem yang dibangun oleh leadernya.  Nah disini ranking tanpa mengetahui teori variasi sangat berbahaya, membuat karyawan frustasi….. !

Untuk karyawan yang menghasilkan dibawah 60 ? apakah pasti mereka dianggap karyawan yang tidak becus ? tunggu dulu jangan terburu-buru !  kita perlu menganalisa lebih dalam…. apakah mereka menggunakan cara yang berbeda ? apakah mereka memahami cara/prosedur kerja ? sudahkah diberikan pelatihan yang memadai ?  kalau belum beri pelatihan, kalau sudah …tanya kembali apakah ybs cocok dengan pekerjaannya ? kalau tidak cocok, apakah ada pekerjaan yang cocok untuknya ? kalau ternyata cocok ? adakah masalah khusus yang menyebabkan hal itu ? ….

Intinya, jangan langsung menghakimi atau memberi label bahwa karyawan tersebut buruk.  Ini memang perlu dikuatkan oleh paradigma bahwa : sebenarnya …. pada umumnya… karyawan … ingin memberikan yang terbaik (teori Y Mc Gregor).  Jadi kalau dia menghasilkan yang tidak baik …. kita harus cari tahu penyebabnya…. karena ybs umumnya mengalami masalah yang membutuhkan bantuan.

Sebaliknya, yang mencapai 160 kue /jam bagaimana ? sama, pertama kita coba investigasi mengapa ybs bisa seperti itu ?

– Apakah ybs menggunakan metoda berbeda ? kalau ya & cara ini terbukti efektif, tularkan cara ini ke karyawan yang lain, selanjutnya rata-rata pun akan bergeser ke arah 160 kue/jam/orang.  Orang yang menemukan cara baru ini ? berilah recognition /pengakuan dan atau reward (penghargaan) sesuai dengan jasanya.

– Apakah memang ybs orang yang sangat spesial (anugrah dari Tuhan) ? kalau ya, hargai orang ini dengan memberi pekerjaan /tanggung jawab tambahan (job enlargement /job enrichment), atau ya standard gajinya dibedakan. Untuk yang istimewa ini, karena menonjol….. semua pasti mengakui …. jadi tidak akan ada perasaan tidak adil ….. justru bila tidak dibedakan menjadi tidak adil.  Biasanya orang ini memang  benar-benar terlihat jelas istimewa dan semua orang setuju tanpa diperdebatkan.

Nah, bagaimana anda menranking karyawan ? hati-hati, kenali variasi, pahami cara penanganan.  Kalau tidak hati-hati, asal meranking, bukannya motivasi yang didapat… malahan demotivasi sebagian besar karyawan yang terjadi……apalagi kalau hal ini dikaitkan dengan gaji……

Read Full Post »