Setelah diterima di FK-UI, ternyata anak saya masih menyimpan rasa penasaran untuk menjajal test masuk ITB (yang akan diselenggarakan tgl 29-30 Mei mendatang).
Selain rasa penasaran anak saya, kami pun sebenarnya sedang menimbang-nimbang cocokkah ia berprofesi menjadi dokter dengan karakter dan sifatnya saat ini ?
Kami pun lalu mencoba membanding-bandingkan kelebihan dan kekurangan pilihan masing-masing. Jurusan ITB yang ia pilih adalah jurusan elektro dan informatika, ini pun jurusan paling bergengsi di ITB karena Tingkat Kesulitan Relatifnya yang paling tinggi yaitu 84.
Pilihan jurusan ini tentunya sangat penting bagi masa depan anak kami. Sekilas FK UI sangat menjanjikan, profesi dokter tentu saja selain mulia juga menyediakan langsung lapangan kerja. Namun waktu yang dibutuhkan untuk menjadi dokter cukup lama sekitar 5-6 tahun
Sementara bila lulus dari STEI ITB, walaupun sangat besar kemungkinan lulusannya tidak kesulitan mencari kerja, namun ia hanya menjadi pekerja, perlu meniti karier…. at least untuk sementara waktu sebelum kariernya meningkat dan berhasil. Waktu kuliah sekitar 4 tahun, biaya kuliah (uang pangkal ITB) dua kali lebih mahal dari FK UI.
Sekilas…. karakter anak saya adalah cukup introvert, lebih sering beraktivitas individual, agak pendiam /pemalu, namun bila sudah kenal dekat ia akan lebih terbuka bicara, bahkan cenderung banyak bicara dan berbicara dengan cepat. Dalam pengamatan saya ia masih harus mengasah kemampuan interaksi sosialnya, masih terkesan agak kaku.
Tentang kecerdasan, dalam test IQ memang sudah jauh diatas rata-rata, ia orang yang sangat analitis, logik, kemampuan membacanya sangat cepat, namun ia cenderung malas belajar, apalagi yang hafalan.
Ia punya hobby game. sangat maniac game… karena malas belajar dan kalau belajar hanya sebentar, kami sering meledeknya : “istirahatnya belajar, utamanya main game ya ?“ karena belajar terlama di rumah rekornya ya sekitar 1 jam. Biasanya setengah jam sudah nonton TV or main game kembali.
Selain masalah kecocokan anak saya, masalah yang mengusik juga adalah apakah pantas anak saya ikut test lagi, padahal sudah diterima di jurusan paling favorit dan bergengsi di negeri ini. Terlalu egoiskah ia ? sementara yang lain masih mengharapkan peluang karena belum diterima ?
Bagaimana pendapat para blogger ? apa jurusan yang cocok untuknya ? apa kelebihan UI dan ITB ? masih perlukah mengikuti test ke ITB ?


Kalo menurut pendapat gua …
Biar Si Mas yang nentuin sendiri … dia “sreg” kemana …
(kalo gua lihat dari penuturan ente diatas … ini anak eksentrik juga ya … hahahaha)
Perkara egois atau tidak …
mmm gua pikir sih enggak …
So kalaupun di ITB nanti bisa lulus juga (which is feeling gua mengatakan demikian ) …
Dia toh nanti akan mengambil hanya satu kursi saja kan ?
Kursi yang dia tinggalin kan akan diisi orang juga pren …
(hati kecil gua mengatakan Si Sulung chemistrynya akan lebih nyucuk di ITB deh pren …)(once again … ini feeling sok tau gua doang … nggak ada analisa apa-apa)
Salam Gua chuy …
En semoga sukses ya …
Iman,
Menurut saya, yang paling penting sebelum kuliah, seseorang harus tau apa yang dia pelajari nanti, apakah itu menjadi kebanggaannya, kesenangannya maupun hal yang dikejarnya? Setelah menghadapi banyak mahasiswa yang sukses maupun tidak sukses … keberhasilan kuliah semata-mata adalah kemauan. Tidak mungkin seseorang masuk PTN bergengsi kalau tidak pintar. Disini bukan soal pintar dan tidak pintar, tapi semangat atau tidak semangat.
Jadi usul saya, ajaklah anakmu melihat-lihat kurikulum masing-masing jurusan yang akan diambil. Jelaskan sedikit banyak tentang isi kuliah2nya. Pernah ada anak yang suka solder-menyolder (hobbyist) dan kebetulan masuk elektro ITB … ternyata DO gara-gara di kuliahnya memang tidak ada mata kuliah buat amplifier atau radio-TV. Adanya ilmu medan dengan vector dan tensor
Sekali anakmu punya minat, pasti dia akan berhasil. Kuliah itu adalah proses pendewasaaan, bukan mencetak manusia menjadi insinyur, dokter, pengacara dls. Sekali dia dewasa, dengan kemampuan pola pikir yang baik .. dia bisa meraih menjalani hidupnya dengan baik.
Akhir kata, selamat kawan!! Kamu sudah berhasil membawa anakmu ke Universitas !!
Salam, RP.
Saya setuju sekali dengan 2 pendapat terdahulu.. pertama biarkan sang anak yang menentukan pilihannya sendiri tetapi tentunya tetap dengan tuntunan kita dengan memberikan masukan..
Kedua kalo dilihat dari uraian pak Iman tentang sifat2 sang anak… feeling saya juga cenderung sama dengan Mas nh18 di atas…
Saya kira semua setuju bahwa masa kuliah juga akan sangat menentukan masa depan sang anak, jadi kita harus sangat berhati-hati dalam memutuskan segala sesuatunya..
Salam
KW
F-28
Terimakasih pak NH, pak Ronny dan pak KW. Anak saya saya minta langsung membaca komen bapak-bapak. Sekali lagi lagi terimakasih atas input dan sharingnya.
salam- progoharbowo
Waduh Om! Cita2 saya banget bisa masuk FK UI.
Tapi sayang, otak saya ga secerdas anaknya Om!
Biarkan saja ikut test, kan ga ada salahnya, daripada truz lanjut di FK UI tapi rasa penasarannya ga terpenuhi kan bisa2 mengganggu bathin anaknya Om! hohohoho anak kecil ikutan ngemeng
Setuju, biar si anak yang nentuin dan tanggung jawab pada masa depannya… Tapi kalau menurut saya, sosok introvert lebih cocok di STEI yang butuh kejeniusan teknik daripada kedokteran yang agak membutuhkan banyak sosialisasi dengan pasien…
Yang pintar boleh memilih sesuai dengan kemauan pikirannya, kapan perlu diambil kedua jurusan itu asalkan ada waktu. Hal ini bukan luar biasa konon menurut berita yang kita dengar diluar negeri itu orang S2 dan S3 ada lebih dari 1 dan di Universitas Terkenal pula.
Jadi soal output nantinya jangan dihubungkan dengan materi, yang penting ada ilmu dan punya tujuan mulia semua ilmu bermanfaat. Rezeki akan datang, kebahagian akan didapatkan dari semua profesi.. semua profesi itu mulia..
Jangan menganggap hanya pekerjaan sbg dokter saja yg dianggap mulia,pekerjaan lainpun mulia (asal bukan KKN), yang penting berikan kesempatan si anak cerdas utk memilih bidang apa yg dia kehendaki. Mimpi anak belum tentu sama dgn mimpi orang tua. btul nggak ?