Sering kita dengar kalimat “Ah.. ini hanya masalah komunikasi” saat kita menghadapi masalah, baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan sehari-hari. Tapi sadarkah kita bahwa…. masalah komunikasi bukanlah masalah sepele, tidak patut dipandang sebagai “hanya”.
Dampak miss-komunikasi rasanya tidaklah sulit diidentifikasi (oleh karena itu tulisan ini tidak akan membahas hal ini) kita semua pasti pernah mengalaminya dan menyadari akibatnya. Tetapi memahami masalah komunikasi & memperbaikinya … memang bukanlah pekerjaan mudah dan ringan.
Fenomena Gunung Es
Kita kadang terjebak pada fakta yang terlihat kasat mata…. “hubungan kita baik-baik kok, kita kompak, tidak ada masalah….” , Ya memang kita tidak sampai saling memukul, saling menghina, saling membenci …. pendek kata hubungan terlihat harmonis…bahkan bisa saja masih banyak canda tawa, masih ada acara kebersamaan
Tapi kita sering merasa heran, mengapa masih sering terjadi kesalah pahaman, mengapa kita tidak bisa bekerjasama dengan baik, mengapa kerjasama kita tidak menghasilkan sinergy, mengapa proyek tidak tuntas, mengapa masalah selalu muncul ? mengapa masalah yang sama terus berulang ? dan lain-lain…. Jika pertanyaan-pertanyaan ini muncul … hati-hati ! Kita berhadapan dengan gunung es komunikasi !
Yang terlihat memang tampak baik, tapi yang terlihat itu sama seperti gunung es…. dimana dibawahnya (yang tidak terlihat) … bisa jadi lebih banyak masalahnya. Oleh karena itu jangan berpuas diri dengan yang tampak saja. Jangan menganggap komunikasi pasti baik, dengan melihat hubungan yang tampak harmonis, canda tawa, saling menghormati, dll.
Team yang banyak terbentuk, notulen meeting, kegiatan gathering atau bahkan outbound tidak dapat menggambarkan hubungan yang sebenarnya. ……Hubungan ini memang terjadi, tetapi bisa saja sekedar basa-basi, sopan santun, tata krama, peraturan, etika, atau sekedar menjalankan tugas …. kurang tulus. Kita perlu lihat lebih dalam lagi, apa yang terjadi dibawah permukaan…. bagaimana hubungan yang sebenarnya ada.
Saat kita mengerjakan sesuatu yang membutuhkan koordinasi, barulah kita bisa melihat efektifitas komunikasi yang sebenarnya. Biasanya dalam sebuah proyek yang perlu melibatkan berbagai pihak, terlihat bahwa koordinasi yang didasari komunikasi sangat sulit di atur, diimplementasikan dan diarahkan. Masing-masing merasa benar dengan cara berfikirnya, tidak ada kesepakatan atas analisis & sumber masalah, metoda, prioritas, dan lain-lain. Hasilnya, saat merencanakan sesuatu dari kesepakatan meeting yang dipaksakan ….. implementasinya banyak masalah.
Kalau yang sudah parah, ketidakefektifan komunikasi ini makin tidak terlihat lagi karena makin ke dasar samudra. Dalam kondisi ini, banyak orang memilih diam. Ya diam….. diam memang tampak harmonis …, bahkan sebagian beranggapan ”diam adalah emas”.
Tetapi sebenarnya “diam karena efek kebuntuan komunikasi “, hanya akan menimbulkan bencana. Bencana hanya menunggu waktu. Masalah ditutup-tutupi, hanya kebaikan yang disampaikan. Bahkan lebih parah lagi, keadaan dikesankan menjadi baik walaupun kenyataannya tidak baik.
Terkadang, saat datang bencana, kita pun masih belum menyadari bahwa ada masalah mendasar dalam hubungan dan komunikasi, kita sibuk dengan meredamkan api bencana, tanpa melihat akar masalahnya yang lebih dalam. Biasanya dalam suasana ini banyak muncul rumor – gosip yang semakin memperarah efektivitas komunikasi.
Selanjutnya, sebagai akibatnya …akan terlihat tingkat komitment yang semakin luntur… kalau ada masalah … bukan mencari penyelesaian, tapi sibuk mencari korban untuk disalahkan. Semua menyelamatkan diri dan muka masing masing. deadline diabaikan …… masalah dijadikan alasan …. . turn over karyawan meningkat, yang di dalam terus mencari oppotunity yang lebih baik….Ditingkat ini bisa dikatakan penyakit komunikasi sudah sangat kronis.
Kita baru menyadari dan menyesali setelah bencana besar benar-benar terjadi dan kondisi sudah sedemikian parahnya.
Atasan yang kurang peka, belum tentu dapat melihat fenomena ini, karena ini tidak terangkat kepermukaan. Yang terlihat, tetap keharmonisan, berita baik dan argumentasi yang masuk akal. Namun perlukah kita menunggu hingga bencana besar benar-benar terjadi dan tinggal penyesalan yang tersisa ?


[...] Untuk yang senang manajemen atau leadership, silahkan membaca artikel baru saya mengenai komunikasi : Bencana Dari Gunung Es Komunikasi [...]
Saya akan mengikuti tulisan ini sampai Bencana dari Gunung Es Komunikasi dapat teratasi Pak.
Salam juga buat anak Bapak yang tulisannya unik & kreatif.
terimakasih pak, semoga bag 2 nya segera selesai (sekarang belum dibuat pak…hehehe). terimakasih juga atas apresiasinya terhadap tulisan anak saya.
salam-progoharbowo
Wah pak… memang ini penting sekali. Bukan hanya di pekerjaan tapi di masyarakat juga.
“diam karena efek kebuntuan komunikasi “, hanya akan menimbulkan bencana….. setuju sekali pak.
Dulu saya selalu menganggap diam itu baik, tapi sekarang tidak. lebih baik buka-bukaan saja.
TFS pask, saya tunggu bagian ke duanya.
Salam kenal juga
masalah komunikasi memang menjadi ujung tombak segala permasalahan, andai niat komunikasi ada, pastilah semua masalah dapat teratasi
nggak sabat nunggu kelanjutannya nih
nggak sabar nunggu kelanjutannya nih
[...] 20, 2009 oleh progoharbowo Dalam tulisan terdahulu saya menjelaskan bahwa masalah miss-komunikasi yang kadang kita anggap sepele, dapat menimbulkan [...]