Benar-benar pusing jadi pengurus WOTK Kelas International, bayangkan aja :
1. Para orang tuanya sangat berpendidikan, berkedudukan tinggi, sehingga penuh tuntutan, sangat kritis dan juga penuh ambisi atas keberhasilan anak-anaknya….. namun dilain pihak dalam kesibukannya sulit sekali dikumpulkan apalagi dikoordinasikan…. Karena kebanyakan mereka pimpinan di kantornya masing-masing, mereka maunya mengarahkan bukan diarahkan… wueleh..wueleh…..bayangkan bagaimana saya yang diberi tugas memimpin para orang tua tsb..gemes…asyik… seru …. dan tentu tambah pengalaman…dan wawasan…
2. Anak-anaknya juga aktif, kritis (kadang sedikit liar). Need of achievement mereka juga tinggi, karena mereka anak-anak berprestasi (ranking utama) di SMPnya dengan NEM yang tinggi (sekitar 27-29,67) !
3. Guru dan manajemen sekolah tergagap-gagap dengan kritikan dan tekanan dari murid dan apalagi orang tuanya…..Alhamdulillah…. komunikasi dengan sekolah saat ini mulai membaik, sekolah mulai terlihat usahanya memperbaiki dan memenuhi tuntutan orang tua dan muridnya….walau ya…..masih sebatas usaha….hasilnya ? masih harus bersabar ….
4. Program Dua sertifikat (Cambrige dan Nasional) sangat membebani anak-anak ….. Disini saya agak heran…. (mungkin ini juga Pe eRnya Dikmenti), Sertifikat Cambrige adalah sertifikat yang diakui internasional, tetapi di Indonesia malah belum bisa diakui… hal ini memaksa Kelas International di Indonesia harus menyiapkan keduanya (ujian Cambrige dan ujian nasional yang silabusnya berbeda).
Saat ini kami tengah mempersiapkan anak-anak menempuh ujian IGCSE yang pertama…. perdebatan dari ketiga pihak (anak-orang tua-guru) tentang kesiapan, metoda pengayaan materi, try out dan berbagai persiapan lainnya … membuat pusing pengurus WOTK ….
yah….setelah berbagai usaha …. saya berdoa semoga semua berjalan lancar dan anak-anak mencapai prestasi yang diharapkan untuk bekal hidupnya di masa datang …..


saya baru tau ujian NAsional Indonesia tidak diakui international. wah koq bisa yah?
yang bikin bingung nih pak, kok IGCSE ama ALEVEL yang diakui internasional gak diakui di indonesia?
“gak level” kali yah..
duh orang2 kita terlalu..
oh, kami gak terlalu kritis ko pak.
biasa saja..
kami hanya kurang minum penenang.
a ya setuju. Keanehan lain d Indonesia, sertifikat yg diakui internasional tdk mau (belum lah) diakui. Seperti ujian dari Indonesia itu tdk setaraf dgn A-level saja.. Jangan2 mereka mengganggap ujian Indo lebih bermutu?
Kalau menurut saya lebih bagus tes dari cambridge karena soal-soalnya bkn hny teori semata seperti di Indonesia, namun mengajak berpikir untuk aplikasi.. =)
tapi walau ada kelas internasional kan pak harus selalu ikut ujian nasional, dan kelas internasional juga ada raport sendiri jadi ada dua rapot:
jadi untuk memajukan dan meningkatkan mutu pendidikan dan lulusan murid murid kita ada contoh soal dan pembahasan dari pusdiknas;
download di:
http://satyasembiring.wordpress.com/2008/02/22/standar-kompetensi-lulusan-gambaran-umum-ujian-nasional-contoh-soal-dan-pembahasan-tahun-2008/
Saya amat bergembira kalau usaha Bapak, dkk selama ini sudah mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan. Memang dibutuhkan kesabaran, pengorbanan dan kesungguhan untuk merubah suatu keadaan. Kalau tidak kita sendiri, siapa lagi yang akan peduli terhadap pendidikan. Selamat dan sukses !
Saya juga bingung. Saya ibu dari 5 anak yang bersekolah di sekolah national plus. Sekolah anak saya katanya punya maping kalau anak sukses dalam ujian nasional pasti akan sukses dalam ujian cambridge. Logikanya kok dibolak balik ya? Nyatanya kurikulum Cambridge khan jauh lebih mature daripada kurikulum nasional. Apakah kurikulum nasional jauh lebih hebat dari kurikulum Cambridge?
Terbukti dari ranking PTN di Indonesia.
Ini arogansi Depdiknas karena tidak ngerti apa2 atau sifat defensif mereka?
Sampai2 ada suara yg saya dengar dari Depdiknas bahwa mereka menyalahkan ortu yang menyekolahkan anaknya di national plus karena ijasahnya tidak diakui national. Lha, kalau salah, kenapa Depdiknas membuka pintu bagi national plus?
Pusing saya jadinya. Akhirnya saya jadi punya keinginan untuk migrasi ke negara yang menyediakan pendidikan terbaik dan murah.
Daripada di negara ini kita sudah bersedia membayar mahal untuk anak kita bisa go globalisasi ternyata masih juga dipersulit.
Saya seorang idealis yang ingin anak saya maju dengan demikian bangsa Indonesia juga maju khan.. Tetapi kalau sedari SD mereka masih juga dipaksakan mengambil dual ijasah dengan dalih nantinya mereka tidak dapat diterima dimana-mana di dalam negeri, ya kapan majunya negara ini ya? Semua kok di negara ini selalu penuh ancaman dari birokrat2.
Jadinya saya berpikir, saya yang punya gaji halal dan tidak korupsi dan ingin anak saya maju pun masih juga dipersulit. Semua hal dipersulit. Anak sedari SD pun dipersulit.
Kalau anak saya dari SD saya masukan ke SD negeri yang katanya gratis pun juga tidak semudah itu nantinya.
Pusing saya…. bayar mahal dipersulit, gratisan juga dipersulit. Padahal untuk pendidikan lho..
[...] Reportnya mengurus Kelas International Favorit [...]
soal pengakuan dikmenti, ga menjadi masalah kalau siswa ybs akan melanjutkan kuliah di luar… kan salah satu tujuan anak mengambil kelas internasional karena ingin melanjutkan ke luar negeri.
kayaknya dikmenti ga mau kalah saing sama lembaga asing. kira2 gini pak: kalau orang lain ga mau mengakui kita, emang dikira kita ga bisa ga mengakui mereka???
just a joke lah….
wew…
kayaknya banyak bangedd tantangan nya yua???
kuq bisa UN g d akui oLeh internasionaL???