Salon Kecantikan sebagai penyebar HIV AIDS ?
Februari 17, 2008 oleh progoharbowo
Awalnya saya ragu-ragu untuk membagi informasi ini, karena khawatir akibatnya bisa heboh. Tetapi karena informasi ini cukup penting dan tulisan ini didasari oleh niat baik penulis, maka … jadinya lillahi ta’ala saja.
Kemarin saya berbincang dengan rekan saya, menurut keterangannya data dari dokter di RS cukup terkenal di jakarta (anda bisa hubungi saya kalau penasaran) menyampaikan bahwa angka penyebaran HIV AIDS di Indonesia akhir-akhir ini meningkat kembali. Yang sangat mengkhawatirkan, pasien yang masuk rs tersebut dan didiagnosis terkena HIV AIDS akhir-akhir ini kebanyakan adalah ibu rumah tangga biasa. Pertanyaannya mengapa bisa menyebar di kalangan ibu rumah tangga biasa ?
Menurut keterangannya, angka penyebaran karena jarum suntik, narkoba dan prostitusi di Indonesia sudah cukup stabil tapi kok tiba-tiba angka penyebaran naik kembali dan ternyata banyak terjadi pada ibu rumah tangga. Sementara dari keterangan ibu rumah tangga yang mengidap HIV AIDS tersebut, rata-rata mereka rajin berkunjung ke salon untuk pedicure, medicure dan facial. Apakah memang ada hubungannya yang cukup kuat tentang hal ini ?
Mungkin para dokter dan pemerhati masalah kesehatan di Indonesia segera bisa mengkonfirmasikan hal ini. Bila memang ada potensi hubungan tersebut, sebaiknya pemerintah harus segera melakukan tindakan agar salon-salon kecantikan membangun sistem keamanan kesehatan bagi konsumennya, seperti menerapkan sistem hygiene dan sanitasi atau HACCP dan sejenisnya.
Sekali lagi, tulisan ini bukan menakut-nakuti dan semoga tidak membuat bisnis salon ambruk…. tetapi membuat bisnis salon semakin meningkatkan kualitasnya sehingga tidak menjadi faktor penyebar HIV AIDS seperti kabar dari RS tsb.
Untuk itu jangan bereaksi berlebihan, tapi mohon hati-hati kepada para ibu yang kerap sering mengunjungi salon agar lebih memperhatikan aspek hygiene dan sanitasi alat-alat yang digunakan. Tetaplah ke salon langganan……. karena hubungan salon dan HIV AIDS belum dibuktikan secara ilmiah, data-data juga belum jelas dan lengkap….. jadikan informasi ini untuk feedback bagi salon kesayangan ibu-ibu.
Semoga tulisan ini lebih banyak manfaatnya daripada mudharatnya…


Ibu rumah tangga rentan kena HIV/AIDS setahu saya lebih banyak karena suaminya yg menularkan…… Darimana suaminya dapat? Ya akibat jajan-lah…..
Mungkin karena itu alasan memakai “kondom” ketika jajan bisa saya maklumi…
(Bukan berarti saya setuju dengan jajannya loh ya?)
Cuma kan fakta bahwa banyak suami yg nggak mempan lagi dengan segala macam ajaran agama (ancaman dosa dsb) masih banyak?
Rasanya istri mereka yg (mungkin) tidak tahu menahu kebejatan suaminya itu tidaklah layak untuk mendapat derita (AIDS) dari dosa suaminya.
Kurang lebih begitu menurut saya
Untungnya saya yang sering pakai salonpas. Jadi aman
Tren penyebaran HIV/AIDS pada ibu rumah tangga sebenarnya sudah diperkirakan oleh LEPIN sejak tahun 1991. Beberapa faktor yang mempengaruhinya antara lain faktor biologis dan faktor sosial budaya.
Yang dimaksud faktor biologis adalah bentuk alat reproduksi wanita yang lebih “menampung” spesimen dari luar tubuh dibandingkan alat reproduksi pria.
Yang dimaksud faktor sosial budaya adalah sikap para ibu rumah tangga yang sangat percaya bahwa suami mereka setia. Di sisi lain, ibu rumah tangga kurang mendapat informasi tentang HIV/AIDS karena akses informasinya lebih terbatas dibandingkan pelajar ataupun pekerja kantor yang sering berhubungan dengan “dunia luar rumah”. Berhubung para ibu ini tidak “neko-neko”, wajar jika mereka merasa sehat. Padahal, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) belum tentu tampak sakit.
Satu-satunya cara untuk mengetahui status HIV kita, entah positif atau negatif, adalah tes darah. Tes ini dapat dilakukan di klinik-klinik VCT. RS dr. Kariadi, RS Tugurejo, RS Panti Wilasa dan unit-unit PMI sudah mempunyai kinik VCT. Maka dari itu, untuk pencegaham awal, sebaiknya tiap orang melakukan tes darah, bukan hanya ibu rumah tangga yang disorot.