Kebaikan Batak = Keburukan Jawa
Januari 31, 2008 oleh progoharbowo
Pada suatu hari saudara saya (orang jawa) berselisih dengan seorang supir angkot yang berasal dari daerah tapanuli (batak)…. masalahnya mungkin sudah diduga yaitu, senggol menyenggol kendaraan di tengah kemacetan. Karena tidak ada polisi dan kedua belah pihak tetap pada pendiriannya, mereka sepakat menuju kantor polisi terdekat.
Karena si supir berbicara meledak-ledak, maka ditegurlah sang supir oleh pak polisi agar berbicara lebih santun dan tenang. Namanya pak supir yang sedang naik pitam … sekonyong-konyong ia berbicara :
“Saya orang Batak …. saya tidak bisa bicara halus seperti dia (sambil menunjuk ke arah saudara saya). Kami orang batak kalau bicara lantang dan terus terang tetapi jujur, tidak seperti orang Jawa bicara tidak jujur, berputar-putar dan berbelit-belit”.
Itulah manusia …. kebaikan dan keburukan itu sangat relatif, tergantung nilai-nilai yang kita anut, budaya, adat-istiadat, kebiasaan, latar belakang pendidikan, pengharapan dll.
Untuk orang batak yang baik adalah bicara langsung, terbuka dan terus terang karena disitu nilai kejujuran dan keterbukaan dijunjung. Namun bagi orang jawa, hal itu tidak sopan, kalau berbicara sebaiknya harus santun.
Kebaikan buat saudara saya (sopan santun, bicara halus dengan tutur kata yang baik) dianggap keburukan bagi si supir karena dianggap berputar-putar, berbelit-belit dan tidak jujur. Begitu juga sebaliknya.


waduh maaf…
tadi ada yang komentar cukup baik mengenai artikel ini…
tapi saya salah pencet jadi terhapus… kalau tidak keberatan kirim ulang komentarnya, terimakasih sebelumnya
Satu pelajaran yang mungkin perlu diterapkan sejak SD adalah soal “cross culture” selain tentu saja “budi pekerti”.
Mungkin org bilang pelajaran agama sudah mencakup budi pekerti, tapi spt-nya tidak, lihat saja soal buang sampah, mempersilahkan org tua, ibu hamil dsb untuk menduduki bangku di bis dsb, Org Indonesia kurang sekali kesadarannya.
Balik ke “cross culture”, dengan mempelajari apa dan bagaimana “culture” org lain, mudah2an kita bisa memahami dan memaklumi.
Kejujuran tetap kunci utama, karena spt kata pepatah ia adalah mata uang yg berlaku dimana-mana.
Assalaamu alaikum bang…
Jadi inget cerita engkong ane waktu naik haji, kata engkong orang Arab sono bakalan tersinggung kalau pundaknya ditepok-tepok. Sebaliknya kalo jenggotnya dielus, mereka merasa dihormati. Kebalikannya orang kita, kalau ditepok-tepok pundak merasa seneng karena merasa didukung (terutama kalo lagi sedih). Tapi kalau jenggot atawa dagunya dipegang, bisa marah karena dianggap kagak sopan.
Salam pedes!
Ya, itu komentar saya
.
Jadi, saya yakin sopan santun memang diperlukan dalam berinteraksi, tapi mesti tetap diiringi dengan ketegasan dalam berbicara
.
terimkasih…. tambahan contoh bang cabe rawit bagus sekali juga komentar streetpunk … terimakasih semua pembaca
hahah salam pak.. lucu juga.. saya ini orang batak tapi kebanyakan didik oleh orang jawa, hampir 49% dosen saya dulu adalah orang jawa dan sebagain orang china dan arab
eeh tambah lagi komentarnya, tadi kepenjet juga send comment.
karena itu saya dibilang jawa batak ( jabat = jawa batak) tapi ya orang jawa kan bahasanya enak di dengar, adem lah pokoknya
Ayah saya juga sebal sama Jawa yang dianggapnya suka nusuk dari belakang. “Lihat saja, kerisnya ditarok di belakang, gak seperti kita yang ditarok di depan.” Beliau juga tidak suka dengan cara Jawa mengatakan ‘tidak tahu’, tapi bilangnya ‘kurang tahu’. Menurut ayah, kalo ‘kurang tahu’ berarti harus tahu sedikit, sementara buat orang Jawa, ‘kurang tahu’ itu artinya ‘tidak tahu’. Jangan dimasukkin ke hati ya, stereotype anggaplah lucu-lucuan saja, spt org Batak identik dgn tukang tambal ban, tukang copet, pengacara dsb.
ya bisa dibalik juga keburukan Batak = kebaikan Jawa
hehehe