Soeharto sudah tiada…… banyak duka banyak kecewa banyak emosi terlibat dalam kejadian ini…..Dapat dipastikan banyak sekali tulisan, komentar, obrolan membahas dan menghitung dosa dan jasa pak harto…….
Tulisan ini mengajak kita sejenak berfikir dengan kerangka yang lebih arif (ini niat penulis, semoga demikian juga hasilnya)….. sebaiknya memang anda membaca tulisan saya terdahulu mengenai sikap mental ketiga systems thinking….
Sikap mental kedua dan ketiga dari systems thinking menyebutkan bahwa kita tidak bisa menyalahkan satu pihak bila suatu “kejadian buruk” terjadi. Dalam kasus Soeharto, maka arifkah kita menyalahkan Soeharto sendiri atas krisis multi dimensi yang berkepanjangan di Indonesia ?
Betul Soeharto sebagai leader saat itu bertanggung jawab atas krisis yang terjadi hingga saat akhir dia memimpin. Soeharto seharusnya bisa menghindari krisis seburuk ini bila tidak melakukan kesalahan-kesalahannya …… apakah perlu dihukum ? biarlah orang hukum yang memikirkan dan memutuskannya.
Menghitung dosa dan jasa pak harto apakah tidak sopan ? apakah tidak tahu berterimakasih ? Disini harus lebih berhati-hati….. sebagai manusia yang terus ingin meningkatkan diri……,
maka proses pembelajaran harus kita lakukan. Jadi dalam kerangka memperbaiki kehidupan berbangsa penting bagi kita semua menganalisa baik dan buruknya atau jasa dan dosanya pak harto…. menurut saya harus dilakukan. Jangan menguburnya, jangan melupakannya…. jangan hanya mengingat jasanya… dan juga jangan hanya mengingat dosanya…. semuanya dibuka secara proporsional .. analisis secara lebih ilmiah….. lalu atur langkah kedepan.
Kemudian bila anda merasa bersebrangan dengan rekan anda, tokoh politik, atau siapapun, dalam mengadili Soeharto ….. maka bersikaplah lebih dewasa ….. ada beberapa hal yang ingin saya tekankan dalam bersikap dewasa / arif :
Setiap orang punya persepsi yang berbeda-beda. Persepsi ini tergantung pada nilai-nilai yang dianutnya, pengalaman pribadinya, pendidikan dan lingkungannya, dan juga harapan-harapannya dimasa mendatang. Kita sebagai manusia selalu berfikir dan memandang sesuatu dengan persepsi kita. Kita berkomunikasi dengan persepsi kita. Persepsi bukanlah fakta….. Persepsi adalah peta seperti peta jakarta, dan fakta adalah wilayah ..wilayah jakartanya. Sebuah peta yang baik akan semakin menyerupai wilayahnya … tetapi peta tetaplah peta bukan wilayahnya.
Kebenaran itu juga tidak pernah bisa ditangkap manusia…. karena manusia tidak pernah tahu faktanya, yang kita lihat adalah persepsi kita. kebenaran yang hakiki hanyalah milik Allah. Jadi janganlah kita merasa yang paling benar…… karena kita hanya mereka-reka kebenaran dengan sudut pandang kita yang dipengaruhi nilai-nilai, budaya,adataistiadat, pengetahuan, pengalaman dan harapan.
Yang lebih penting adalah kita harus bersikap proaktif. Bila kita mengaku kita sudah “systems thinking”, maka dimana pun peran kita, kita bisa menjadi seorang leader dalam lingkaran pengaruhnya dengan melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki krisis ini seperti kata AAGym, mulailah dari diri sendiri, mulailah dengan hal kecil dan mulailah hari ini.
Semoga bermanfaat sebagai renungan bagi kehidupan kita masing-masing
salam,


setuju pak
Apa Parameter Pemimpin Indonesia Yang Baik
(Sebuah Renungan – Ridwan Fakih,Kuwait)
Saat ini Indonesia tercinta sudah berumur lebih dari 62 tahun. Ada seorang pakar psikologi mengatakan, kita perlu waspada untuk mengamati posisi umur memasuki angka 18-40-60. Umur negara mungkin tidak identik dengan umur manusia. Memang. Tetapi tidak ada salahnya kita perlu merenung dengan umur negara kita yang sudah berumur lebih dari 62 tahun ini, untuk mengetahui sudah seberapa jauh kita berjalan. Sudah benarkah arah perjalanan kita. Apakah jalan kita yang kita tempuh sudah mengarah kepada tujuan yang kita tetapkan.
Dengan umur diatas 62 tahun, banyak anggota masyarakat masih menyatakan rasa tidak puas dengan kondisi negaranya sendiri. Kadang-kadang kita sadar kenapa kita justru selalu mengeluhkan kondisi negaranya sendiri yang tidak pernah kunjung memuaskan. Apalagi kalau kita melihat negara-negara tetangga di ASEAN. Apanya yang salah, siapa yang perlu disalahkan apa rakyatnya atau pemimpinya? Apa kedua-duanya perlu dipersalahkan? Pertanyaan-pertanyaan itu cukup menggelitik. Mungkin kedua-duanya ada kesalahan, secara system. Tetapi menyalahkan rakyat bisa kurang mengenai sasaran karena alamatnya tidak jelas, rakyat yang mana, sehingga paling mudah bagaimana kita mencoba melihat dan mencoba menilai para pemimpin kita sebagai perwakilan rakyatnya untuk melihat posisi negara kita saat ini.
Tulisan ini menjadi tidak menyenangkan bagi para pemimpin, karena tulisan ini akan ditujukan kepada mereka para pemimpin bangsa dan calon para pemimpin bangsa. Dan alangkah bijaksananya kalau para pemimpin dan calon para pemimpin bisa memandang ini tulisan ini sebagai masukan bukan sebagai kritikan pedas, anggaplah ini sebagai bahan renungan.Renungan ini akan menuju sebuah pertanyaan. Apakah pemimpin-pemimpin negara kita sudah baik dan benar dalam mempimpin?
Menjadi sulit kita akan menilainya kalau kita tidak mempunyai parameter atau ukuran yang jelas. Menentukan ukuran dan parameter mungkin juga menjadi susah, karena perlu criteria yang variabelnya banyak sehingga bisa menjadi tolok ukur atau sebagai parameter. Mungkin untuk menyederhanakan kita perlu parameter yang sesedikit mungkin, sehingga kita bisa berpikir lebih linier, dan memakai bahasa yang sederhana, mungkin tidak perlu memerlukan referensi literatur yang menumpuk di perpustakaan, tetapi cukup dengan kejujuran hati untuk menilai diri sendiri. Seorang pemimpin negara mungkin bisa disebut sebagai negarawan. Pertanyaan berikutnya apakah negarawan kita sebagai pemimpin bangsa kita sudah baik dan sukses memimpin negara kita, sesukses kepopuleran mereka? Nah marilah kita merenung sejenak tentang kepemimpinan negara kita. Pengertian sederhana seorang negarawan adalah secara jelas harus
1. Visi tentang Saat Suksesi Kepemimpinannya
Parameter Pemimpin Bangsa Yang Baik.Parameter pertama , bagaimana menjaga proses suksesinya. Nah marilah kita merenung sejenak tentang kepemimpinan negara kita. Pengertian sederhana seorang negarawan adalah secara jelas harus mempunyai visi kenegaraan yang mengarah untuk membangun negara menjadi tegak berdiri kokoh, Mampu memimpin dengan hati yang tulus untuk negara dan rakyat sesuai dengan sumpahnya. Pembangunan negara tentu saja tidak seperti membalik telapak tangan dan memerlukan waktu yang cukup. Pemimpin negara yang mempunyai visi jauh kedepan sangat sadar bahwa kepemimpinanya harus bisa diteruskan pemimpin generasi berikutnya. Sehingga seorang negarawan musti minimal mampu berkontribusi meletakkan dasar-dasar pembangunan negara yang dicita-citakan dengan membangun pondasi dasar untuk berdirinya suatu bangunan negara yang dicita-citakan bersama.Kira kira parameter seorang negarawan itu apa? Jawaban yang paling mudah ditangkap parameter pertama untuk negarawan yang sukses adalah “sewaktu suksesi” jalannya mulus dan tidak ada gejolak yang membuat terjadi “point of return” terhadap pembangunan atau terjadi degradasi pembangunan itu sendiri.
Bisa dianalogikan secara sederhana kalau seorang anak menyusun balok bertingkat membentuk bangunan balok bertingkat, begitu bangunan selesai dan tangan yang meletakkan tumpukan terakhir dilepaskan bangunan tumpukan balok tetap berdiri dan tidak roboh. Ini adalah parameter pertama.
2. Visi penekanan prioritas program pendidikan.
Parameter kedua pemimpin negara bisa dianalogikan dengan sebagai kepala keluarga suatu bangsa jadi untuk menyederhanakan parameter apa yang baik sebagai kepala keluarga bangsa, dapat kita kiaskan apa yang baik buat seorang pemimpin suatu rumah tangga. Apa yang dipikirkan oleh seorang kepala rumah tangga? Yang pertama, dengan segala daya dan kemampuan dan bakatnya, kepala rumah tangga harus menegakkan ekonomi keluarga dan memberikan prioritas dengan cara apapun harus memikirkan: bagaimana pendidikannya anak-anaknya bisa dilakukan sebagai bentuk investasi pertama supaya anaknya dapat menyiapkan masa depannya secara mandiri dan kalau bisa lebih baik dari orang tuanya. Jadi seorang negarawan harus mempunyai prioritas meletakkan dasar perekonomian negara dan memprioritaskan anggaran pendidikan untuk mempersiapkan “human capital” pada saat awal pembangunan. Dengan kata lain pembangnan harus dimulai dengan membangun SDMnya dengan anggaran pendidikan sebagai prioritas. Ini penting karena ini merupakan fondasi pembangunan atau fondasi rumah Negara yang akan ditegakkan atau yang akan dibangun.Dua parameter diatas adalah merupakan pondasi dasar pembangunan yang harus dibangun terlebih dahulu.
3. Visi Tentang pemenuhan Kebutuhan Rakyat
Dari kedua parameter pondasi dasar, bisa dilanjutkan dengan parameter-parameter berikutnya sebagai pilihan strategi pembangunan yang harus diletakkan pada dua koridor pondasi dasar pembangunan. Sebagai seorang negarawan harus mampu mempunyai strategi pembangunan yang bisa memberikan fasilitas-fasilitas publik dengan sistematis.
Kemampuan menegakkan strategi ini harus ditunjang urutan prioritas yang logis. Strategi pembangunan harus dibuat untuk mendahulukan mana yang lebih penting. Ini menyangkut kemampuan mengeliminir pengaruh-pengaruh dari luar yang berupa : Kancah perpolitik Internasional, gejolak ekonomi international, regional dan domestik. Tentu ini merupakan sesuatu pekerjaan yang sangat kompleks, ruwet. Karena kompleks dan ruwet itulah kenegarawanan seorang pemimpin negara diuji dan ditantang.
Dari tingginya tingkat keruwetan memimpin suatu negara karena adanya pengaruh badai perpolitikan internasional yang kuat, seorang pemimpin negara harus tetap memegang amanah bahwa “pemimpin” itu terpilih dan dipilih untuk mewakili rakyatnya untuk maju secara bersama, sehingga parameter berikutnya adalah pemimpin yang baik harus mengarah dan memulai pembangunan yang mendahulukan fasilitas dan kebutuhan-kebutuhan publik yang merupakan kebutuhan rakyat yang mendasar, yang merupakan pembangunan phisik suatu bangsa. Penentuan strategi pembangunan mendahulukan fasilitas public dapat dipakai sebagai parameter ketiga. Fasilitas publik memang Sangat luas dan akan berkembang terus menerus. karena itu bentuk pembangunan phisik suatu bangsa dan negara harus diletakkan dalam fondasi bangsa yang kokoh dan kuat yang berupa “kwalitas SDM yang memadai”, membentuk karakter bangsa yang yang berupa “human capital” yang berkarakterif dalam bentuk kwalitas bangsa atau ”corporate culture” yang yang berkwalitas. Human capital yang kuat dan memadai ini hanya bisa terbentuk dalam kurun waktu yang cukup dan ada kontinuitas, sehingga perlu suksesi pemerintahan yang baik.
4. Tiga parameter membentuk hirarki pondasi pembangunan
Pendidikan adalah salah satu usaha membangun “human capital”, meletakkan dasar kearah pembetukan karakter dari anak-anak bangsa yang bisa mengarah pada “corporate culture” bangsa yang bergerak kearah watak bangsa yang disiplin, patuh pada aturan, bersemangat untuk maju dan membangun negara secara bersama.
Pembanguan pendidikan adalah salah satu usaha yang kearah pembentukan fondasi pembentukan karakter bangsa yang lebih berkwalitas, karakter bangsa yang makin tertib dan teratur dan berketaatan pada hukum atau aturan yang sudah ditetapkan, sehingga “corporate culture” suatu bangsa terbentuk mengarah pembentukan negara yang yang tertib, kuat dan memperkuat kedudukan marwah negara yang besar, kuat dan berpengaruh.
Banyak negara maju, seperti Jepang, dan negara-negara Skandinafia tidak mempunyai sumber daya alam yang cukup, tetapi mempunyai sumber daya manusia yang unggul atau dengan kata lain mempunyai “human capital” yang baik. Human capital yang baik ditandai dengan produktivitas masyarakatnya tinggi dan membuat negaranya menjadi negara yang kaya dan kuat secara ekonomis.
Kwalitas SDM yang baik untuk Indonesia dan bangsa-bangsa yang lain berawal dari pendidikan yang membentuk etos kerja suatu anak bangsa menjadi lebih baik, lebih produktif dan lebih sadar akan pentingnya kedisiplinan, ketertiban dan tingginya kesadaran pada pentingnya akan ketaatan hukum, sehingga sistem suatu negara berjalan secara mulus dan “corporate culture” suatu bangsa terbentuk pada tingkat kwalitas yang terus membaik, baik kepada pemimpinnya dan juga pada masyarakat yang dipimpinnya.
Keberhasilan sang pemimpin melakukan suksesi menjamin program pendidikan berjalan berkelanjutan. Program Pendidikan diprioritaskan berarti memperkuat “human capital” sebagai modal pembanguan. Ketiga parameter akan membentuk suatu hirarki pondasi pembangunan.
Parameter-parameter diatas mungkin akan memberikan kilas balik kepada negara kita yang sudah memasuki umur yang sudah cukup tua yaitu lebih dari 62 tahun untuk mawas diri. Kita perlu rendah hati untuk mau menilai diri kita, pemimpin-pemimpin kita. Kita akan bisa menilai dengan benar. Kemerdekaan Indonesia merupakan perwujutan perjuangan para pemimpin dan rakyat Indonesia. Kalau ingin kita lebih baik dan lebih maju, kita harus berani menilai diri kita secara jujur. Kita harus berani mengakui ketertinggalan kita. Tidak ada salahnya kita meniru bangsa lain yang bisa berjuang lebih maju dan lebih baik dari kita. Kita harus mulai sekarang. Memulai dari berpikir secara positip.
Ridwan Fakih, Kuwait, 6 Februari 2008
Menurut saya Presiden pertama dan kedua adalah mungkin presiden yang paling populer, karena mempunyai masa jabatan yang cukup lama. Menjabat dalam waktu yang lama tidak salah, tetapi harus memberikan hasil yang maksimal. Dari 3 parameter yang saya ajukan, kedua pemimpin kita yang paling populer ternyata gagal dalam melakukan suksesi kepemimpinanya dengan mulus. Kepemimpinan berganti tanpa kontrol dari pemimpin yang sebelumnya berarti tidak ada suksesi kepemimpinan. Sayang bangsa ini selalu kehilangan idola pemimpin bangsa yang patut ditiru. Memang manusia tidak sempurna.
Semoga Bung Karno dan Pak Harto tetap rendah hati, bagaimanapun juga saya tetap menghrgai jasa beliau. Tetapi 3 parameter diatas bisa meletakkan penilaina kita secara adil.Semoga.
terimakasih banyak pak Ridwan Fakih ….
semoga para calon presiden membaca tulisan anda