Saya adalah orang tua murid salah satu siswa Kelas international di SMUN favorit di jakarta. Semakin hari saya kok semakin merasa was was bahkan merasa tertipu dengan program ini.
Bayangkan saja saya sudah invest tidak kurang dari Rp.26 jt (ini hanya biaya 1 tahun ajaran), tetapi guru yang fasih berbahasa inggris hanya 1 orang dan ybs juga tidak fokus pada kegiatan belajar mengajar karena juga aktivis partai. Kepala sekolah sudah setengah tahun lebih tidak mau berdialog…
Padahal banyak sekali yang ingin kita komunikasikan, seperti perkembangan anak-anak kita, persiapan menghadapi ujian dari cambrige, kejelasan dan transparasi pengelolaan dana pendidikan, fasilitas dan sarana belajar mengajar, kualitas guru, dlsbnya…..
Saya ingat sekali saat setelah kelulusan SMP, dimana alhamdulillah anak saya memperoleh nilai NEM tertinggi di bekasi 29,67. Saya habis-habisan dibujuk untuk masuk kelas international oleh pihak sekolah favorit DKI tersebut, bahkan saya sampai tidak menanggapi tawaran beasiswa dari sekolah internasional swasta di Kalimalang. Dan ternyata pengalaman di bujuk rayu ini dialami oleh hampir seluruh orang tua murid yang nota bene anaknya berprestasi dan orang tuanya berduit.
Sementara itu yang bikin saya pusing juga, saya terpilih menjadi ketua wali orang tua murid, dimana para orang tua murid yang relatif dari kalangan berada dan berpendidikan tinggi penuh dengan tuntutan agar investasi mereka terhadap pendidikan anak-anaknya bisa berjalan optimal.
Apakah ada pembaca yang bisa sharing mengenai dunia pendidikan menengah ? mohon saya mendapat inputannya. terimakasih


Sabar Pak Progo,
Niat anda memberikan yang terbaik untuk putra tercinta sudah betul.
Pihak sekolah lah yang harus nya lebih berkaca sambil terus belajar meningkatkan diri agar harapan orang tua siswa yang baik seperti anda bisa diwujudkan.
Salam kenal pak..
Blog anda saya tautkan ya
Kalau sudah demikian kondisinya, ada baiknya para orangtua murid menuntut kepastian dari kepala sekolah yang bersangkutan mengenai manajemen anggaran pendidikan yang diterapkan di sekolah tersebut
. Sedapat mungkin carilah waktu untuk mendiskusikannya, atau begitu ada kesempatan, bisa langsung dibicarakan
.
terimakasih Pak Agus,
Baru saja kami bertemu dengan WOTK kelas XI (kakak kelas anak saya), banyak sekali hal-hal yang menjadi pengalaman mereka. Tapi saya makin prihatin dengan dunia pendidikan kita.
Intinya kita melihat paradigma guru, sekolah dan mungkin pemerintah masih sangat lokal sementara anak-anak dan orangtuanya berharap pendidikan bertaraf global.
Blog bapak juga saya tautkan
Terimakasih,
Justru masalahnya adalah pihak sekolah sulit sekali diajak berkomunikasi apalagi transparansi dana pendidikan …… sudah 5 bulan kita coba komunikasi hanya bertemu dengan guru yang tidak dapat mengambil keputusan …..
Wah pak Progo balasannya real time loh..
Jadi tersanjung saya..
Semoga Pak Progo juga setuju dengan saya bahwa sekolah Internasional bukan semata-mata guru yang mengajar dalam bahasa Inggris..
Tapi sikap serta perilaku Open mind lah yang paling penting.
Terima kasih sudah men tautkan blog saya
Tentu pak,
saya sangat setuju. yang lebih penting adalah merubah paradigma dari pendidikan lokal jadi pendidikan berskala global. cara belajar dan mengajar yang lebih analitis, kritis, aktif, keinginan guru untuk benchmark dan terus meingkatkan diri … wduh masih butuh perjuangan orang tua nih…..
yang heran kok yang berjuang cuma orang tua murid, sementara manajemen sekolah masih ala kadarnya……
BTW adakah yang bisa bapak sumbangkan buat kita-kita ?
salam,
Sepertinya harus berlapang dada untuk menerima keadaan dimana para pendidik (dan dunia pendidikan) telah (suka rela ataupun terpaksa) melepaskan misi mulianya sebagai laluan curahan ilmu dari Sumber Yang Maha Berilmu dan merendah dengan hanya sekedar menjadi ladang pencari nafkah, status sosial dan kesuksesan duniawi semata. Bagaimanapun pantang berputus asa dan tetap berharap masih banyak yang masih teguh memegangnya.
BTW, kami sedang ancang-ancang melepas anak kedua untuk masuk grade X tahun ini. Jadi pengalaman seperti ini menjadi berharga untuk kami cermati. Selamat berjuang………….
Mohon maaf saya baru sempat sekarang mengadakan kunjungan balasan ke situs Bapak.
Terkait dengan kepedulian Bapak terhadap pendidikan putera Bapak, dan manajemen pendidikan yang terjadi di sekolah putera Bapak, saya hanya ingin memberikan beberapa catatan kecil dalam ruang komentar ini.
1. Bapak beruntung masuk jajaran kepengurusan perwakilan orang tua bahkan menjabat sebagai ketua. Artinya, bahwa Bapak lebih memiliki keleluasaan untuk turut serta mewarnai pendidikan di sekolah tersebut ke arah lebih baik.
2. Sekolah internasional, tentunya berbeda dengan sekolah reguler, terutama dalam proses pembelajarannya (learning process) dan proses manajemennya.
Disini net working menjadi amat penting, baik dengan lembaga, maupun personal yang terkait dengan upaya pengembangan sekolah.
Dalam manajemen, net working merupakan salah satu upaya untuk menutupi kelemahan organisasi.
Saya tidak tahu persis, apakah kelahiran sekolah internasional sudah didasari dengan membaca peluang-peluang internal dan eksternal yang ada, ataukah hanya gagasan spointan tanpa dasar yang jelas alias latah.
Oleh karena itu, barangkali Bapak dengan kapasitasnya sebagai Ketua perwakilan orang tua (komite sekolah?)barangkali bisa membantu memfasilitasi mengembangkan net working ini, guna menutupi berbagai kekurangan yang ada di sekolah.
Misalkan, kelemahan guru dalam berbahasa Inggris, barangkali bisa ditutupi dengan membelajarkan kembali mereka melalaui program pencangkokan pada lembaga kursus/lembaga pendidikan bahasa Inggris yang ada. Saya kira di Jakarta banyak lembaga kursus/lembaga pendidikan bahasa Inggris yang bermutu dan bisa diajak kerjasama.
Untuk menutupi kelemahan dalam manajemen sekolah, Bapak bisa saja mendatangkan konsultan manajemen pendidikan dari lembaga perguruan tinggi untuk diminta jasanya guna membenahi manajemen sekolah
atau seluruh jajaran manajemen sekolah bersama-sama dengan jajaran pengurus komite sekolah melakukan studi banding ke sekolah lain yang dipandang sudah mapan dalam menjalankan proses pembelajaran dan proses manejemennya.
Barangkali, sementara itu yang bisa saya sampaikan.
Mananggapi hobi baru Bapak ber-blog ria, tentunya saya menyambut gembira, teruslah menulisa dan menulis, terakhir ijinkan saya untuk mentautkan blog Bapak dalam blog saya.
Salam,
Let’s talk about education.
terimakasih pak atas inputannya.
sayang sekali kepala sekolah kami sangat sulit berkomunikasi. Namun pihak sekloha dengan bangganya mengatakan bahwa sekolah kami satu-satunya sekolah dengan kelas international dimana guru-gurunya dikembangkan dari dalam ….. begitulah paradigmanya kepentingan internal bukan konsumennya….kami coba bantu dengan lembaga luar …. bukannya disambut gembira tapi sikapnya resisten …
tapi kami tidak menyerah…. para orang tua terus memberi masukan dan mencoba mengubah paradigma lokal menjadi global… walau terlihat sulit tapi masih mungkin.
Saya juga mohon izin mentautkan blog bapak ke saya. Semoga saya banyak belajar dari pengalaman dan pengetahuan bapak.
Saya ingin melanjutkan diskusi kita tentang manajemen sekolah. Secara jujur, mengenai sekolah efektif di Indonesia tampaknya masih menjadi sesuatu yang langka dijumpai. Buktinya secara keseluruhan mutu pendidikan nasional kita masih amat memperihatinkan.
Kadang-kadang kita pun tertukar memaknai sekolah efektif dengan sekolah “mahal”, yang sesungguhnya merupakan dua hal yang berbeda.
Terkait dengan sekolah berstandar internasional di Indonesia memang merupakan sebuah konsep baru dalam sistem pendidikan nasional, dan saat ini boleh dikatakan masih dalam taraf mencari bentuk. Hal ini tampaknya sedang dialami pula oleh sekolah putera Bapak. Tapi saya amat yakin, dengan masuknya Bapak dalam lingkaran manajamen sekolah (dengan segala kapasitas yang Bapak miliki), cepat atau lambat akhirnya akan sampai juga menuju on the right track, salah satunya melalui komunikasi yang intensif dan terus menerus dengan pihak sekolah.
Saya pun ingin menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas dedikasi Bapak terhadap pendidikan.
saya ikut prihatin dengan kondisi sekolah dimana sekarang anak bapak berada, secara umum memang saya juga tidak setuju dengan adanya sbi di sekolah negeri yang selama ini ada, karena hal tersebut akan menimbulkan pergeseran-pergeseran nilai dari berbagai macam segi dan aspek, tentu baik positif dan negatifnya. sampai hari ini pun yang terdengar adalah lebih banyak kekurangan dari pada kelebihan sekolah sbi tersebut. Menurut saya sebagai orang tua kita harus lebih tegas lagi menanggapi proses belajar mengajar anak disekolah baik terhadap anak kita sendiri maupun terhadap sekolah yang menjanjikan sebuah sistem yang baru padahal komponen dari sistem pendidikannya belum atau jauh dari mencukupi standar yang dibutuhkan.
[...] Tapi ternyata menyekolahkan anak di program internasional saat ini tidaklah mudah. Baca juga suka duka saya yang lain, (ada 6 tulisan) mengenai sekolah internasional [...]
Pak Progo,
sebelumnya saya sudah baca wordpress bapak. Ternyata di blog ini ada data biayanya. Saya prihatin dengan cerita bapak. Tapi di sisi lain, saya malah mengucap syukur untuk diri saya sendiri…(maaf ya pak), karena setahun lalu saya tidak jadi memasukkan anak saya ke kelas internasional di smun favorit jakarta. Anak saya akhirnya masuk kelas regular ke sma swasta nasional plus di xmalang yang materinya semi cambridge. Tapi sekarang saya sedang menimbang2 untuk memasukkan anak ke2 untuk kelas internasional di smp sekolah tsb, tapi ampun mahalnya karena mereka twinning program dengan sekolah di singapura. Btw, anak bapak sekarang sudah lulus? Bagaimana kelanjutannya? Mau ambil college atau A level?
JW
[...] Apakah karena saya sudah menulis artikel yang cukup pedas di blog ini ( baca SMUN international bag 1 dan bag 2) ?. Wallahualam. Namun kini Ada secercah harapan bahwa pihak sekolah ingin [...]